Pengalaman Religius, Cerita Pengalaman Hamil Anak Kedua

 


JIka sebelumnya pengalaman lahir anak pertama tertulis dalam bentuk artikel, maka pengalaman hamil anak kedua ini tertulis dalam bentuk cerita. Dengan begitu, nuansa religiusnya akan lebih terasa saat membaca artikel ini dan lebih mudah mengambil pelajaran. 


Cerita Pengalaman Hamil Anak Kedua

Setiap ibu punya rencana kelahiran yang beragam, ada yang menginginkan jarak antar anak pertama dan kedua yang jauh ada juga yang jauh. Kebanyakan ibu yang stres ketika hamil anak kedua adalah karena diluar rencananya dan tiba-tiba harus hamil saat Si Sulung masih terlalu kecil.


Tapi rencana Allah jelas lebih baik dari manusia. Apabila sudah dititipkan, sekarang bagaimana cara belajar mempersiapkannya dengan baik. Kalau saya pribadi, Alhamdulillah jarak antar anak pertama dan kedua memang sesuai rencana.


Langsung aja ya, cerita pengalaman kehamilan anak kedua yang sekarang Alhamdulillah udah besar dan sehat. 


1. Saat Positif Hamil Anak Kedua Trimester 1

Kehamilan anak kedua ini bertepatan dengan sebulan meninggalnya ibu mertua. Ciri-ciri hamil anak kedua minggu pertama ini memang tidak akan mudah disadari bagi yang tidak merencanakannya.


Tapi karena sudah direncanakan, saya sangat peka dengan ciri-ciri hamil anak kedua  di Minggu pertama kehamilan saya, yaitu:

  • Mendekati masa haid tidak ada cairan keputihan yang muncul, justru sangat bersih dan kering.

  • Sekujur tubuh mudah lelah, kadang nyeri di kaki seperti saat haid.

  • Perasaan lebih sensitif dan mudah nangis atau merasa sedih.

  • Ciri-ciri awal hamil anak kedua lainnya, jelas tidak menemukan haid setelah mencapai 1 bulan.

  • Terakhir memberanikan diri untuk testpack saat bangun pagi, hasilnya langsung saja garis dua, Alhamdulillah. 

 

2. Trimester 2

Berbeda dengan kehamilan pertama yang lempeng saja, kehamilan di trimester 2 anak kedua lebih melelahkan. Kalau anak pertama saya hanya mual dan muntah sampai usia kehamilan 3 bulan saja.


Namun hamil anak kedua ini saya masih merasa mual dan muntah sampai usia kandungan 5 bulan. Sampai aktivitas masak akhirnya tidak saya lakukan full, dan diseling-seling antara masak dengan beli lauk.


Di usia kandungan 4 sampai 6 bulan saya masih sering mual walaupun tidak parah. Selain itu, karena ini perdana saya hamil sambil kerja jadi sangat mudah lelah. Apalagi saya bekerja dengan 2 pekerjaan berbeda.


Kalau pagi jadi writer kalau sore mengajar, alhasil sering menahan mual muntah dan sering sakit. Di usia 6 bulan saya juga sudah USG  karena penasaran dengan jenis kelamin Si Adek. Hasilnya  memang kondisi janin lumayan besar saat itu karena suami rutin belikan madu kurma dan susu hamil


Jadi walaupun makanan yang dimakan balik keluar, saya tetap memaksakan makan. Terlebih ngemil buah dan susu semakin saya perbanyak kapasitas dan intensitasnya. 

 

3. Trimester 3

Di usia 7 sampai 9 bulan inilah mulai banyak drama yang saya alami selama masa kehamilan. 

  • Posisi Kepala Janin Belum ke Bawah

Pertama saat memasuki usia 7 bulan lebih, saya periksa ke bidan berniqab langganan saya. Hasilnya posisi janin pada saat itu masih menceng dan kepalanya belum tepat di bawah. Namun bidan menenangkan saya karena usia kehamilan masih jauh dari waktu melahirkan.


Bidan menyarankan saya untuk memperbanyak sujud dan melakukan sujud dengan lebih lama. Alhamdulillah saat usia 8 bulan saya periksa, posisi kepala janin sudah pas di bawah.

  • Bayi Kekecilan, Kurang Besar

Saat periksa usia 8 bulan, memang posisi kepala sudah dibawah. Sayangnya menurut bidan ukuran bayi masih terlalu kecil jika dikalkulasikan dengan bobot saya saat itu. Bayangkan hamil trimester 2 dan 3 dengan bobot yang masih sama yakni 54 tidak ada penambahan.


Bidan menyarankan agar saya banyak makan es krim agar bayinya bisa lebih besar dan bisa lahir dengan sehat. Akhirnya dengan riang gembira saya sampaikan ke suami untuk rajin belikan es krim.


Namun saat hamil 8 bulan ke atas saya dalam kondisi puasa. Alhamdulillah bisa full puasa Ramadhan walau hamil besar tanpa kendala apapun. Mungkin ini juga yang menyebabkan bobot saya tidak kunjung naik sampai 3 bulan.


  • HB Rendah dan Prediksi Lahir Seharusnya di Rumah Sakit

Sesuai prosedur yang ada, usia 8 bulan ke atas ibu hamil harus melakukan cek laboratorium untuk memastikan kesehatannya. 


Tapi saya baru cek lab saat usia 9 bulan karena sempat terjeda dengan bulan ramadhan dan idul fitri. Hasilnya HB saya saat itu cukup rendah, yakni 9,5 padahal normalnya seharusnya 11.


Petugas lalu menanyakan dimana akan merencanakan kelahiran, saya menjawab di bidan “I”. Sekedar informasi, saya sangat berharap bisa melahirkan di bidan ini karena beliau wanita salafi yang berniqab dan shalihah. 

Saya ingin melahirkan anak kedua dibantu oleh bidan shalihah yang senantiasa mengucapkan kalimat thoyibbah dalam prosesnya. 


Namun dokter yang bertugas di puskesmas saat itu langsung mengatakan bahwa bidan “I” tidak akan mau membantu persalinan saya dengan HB serendah ini. Risikonya sangat besar, bisa pendarahan.


Meski begitu, saya tetap merasa tidak terima karena dulu saya bisa melahirkan normal tanpa pendarahan saat hamil anak pertama walaupun HB menjelang lahir adalah 9,3.


Tapi inilah awal mula mulai merasa ngedown dan kepikiran. Saya menyiapkan dana yang sangat mepet kalau harus lahiran di rumah sakit. Selain itu, anak kedua memang sangat ingin lahiran normal di bidan shalilhah itu.


Saya ada sedikit trauma melahirkan di rumah sakit saat hamil anak pertama dulu sehingga tidak ingin terulang lagi di kehamilan kedua. 


Saya tetap bertekad akan melahirkan di bidan. Akhirnya karena takut bidan I menyuruh saya lahiran di rumah sakit, saya tidak berani periksa lagi sejak usia 9 bulan. Padahal usia kandungan ini harus sering periksa.


Saya juga tidak berani USG karena khawatir ada kondisi aneh-aneh dari janin. Jadi mending tidak tahu kondisinya. 

  • Janin Sering Cegukan, Terlilit Tali Pusar?

Kondisi lain yang membuat saya semakin tidak berani USG adalah janin saya sangat sering cegukan, padahal di usia 9 bulan seharusnya sudah mulai jarang cegukan. Saya browsing diberbagai artikel kesehatan katanya cegukan di usia ini bisa jadi tanda janin terlilit tali pusar.


Saya semakin bingung dan kepikiran. Namun tetap gak mau USG atau periksa. 

  • Sudah Lewat HPL Tidak Kunjung Lahir

Semakin saya galau karena sudah mendekati HPL sama sekali tidak ada tanda kontraksi. Tapi pembahasan ini akan saya ceritakan secara detail di artikel pengalaman melahirkan lewat HPL.


4. Proses Melahirkan adalah Pengalaman Religius Terbaik

Proses melahirkan anak kedua ini menjadi pengalaman religius yang terbaik. Saya kontraksi dari subuh. Tapi saya masih sempat jalan-jalan pagi jauh sama suami dan Kakak sambil nahan nyeri yang kadang muncul.


Meski sudah terasa dan yakin ini kontraksi, saya tidak cerita ke suami karena takut dia berharap-harap inilah waktu kelahirannya. Padahal sebelum-sebelumnya sering berharap tapi tak kunjung lahir.


Saya suruh suami bekerja seperti biasanya, lalu aktivitas pagi ini saya lakukan sendiri dengan kakak. Saya bersih-bersih, senam seperti biasa. Saat senam hamil ini saya berulang kali nyeri kontraksi, tapi tetap saya tahan.


Saya sengaja tidak buru-buru ke bidan karena menunggu pembukaannya lengkap dulu. Saya bahkan masih bisa momong Si Kakak sambil menahan nyeri kontraksi yang mulai timbul hilang semakin sering. 


Sampai akhirnya, suami pulang magrib bawa nasi goreng saya sempat makan. Itu sudah sakit kontraksi dengan intens yang sangat sering. Sekitar 5 atau 8 menit sekali. Tapi saya tetap bertahan.


Saya persilahkan suami sunnah Al Kahfi dulu karena pas malam jumat. Setelah suami pulang shalat isya dari masjid, tenaga saya benar-benar habis dan rasa sakit benar-benar tidak terkendali.


Saya sudah tidak kuat bicara sangking sakitnya. Bahkan tidak sempat mengabari bidan I saat mau otw ke sana.


Alhamdulillah saya ke sana diantar oleh Kepala Rumah Tahfidz, seorang ustadzah yang maasya Allah baiknya.


Sampai di sana bidan salafi sempat kaget karena saya tidak kasih kabar apapun sementar beliau belum sempat menghubungi asisten untuk membantu persalinan. Saat di cek ternyata saya sudah bukaan lengkap.


Maasya Allah saya benar-benar diberi kekuatan Allah untuk bertahan, pantas saja rasanya sakit sekali sampai gak kuat bicara. Uniknya, meski bukaan lengkap air ketuban masih sangat kuat dan belum pecah.


Saya disuruh mengejan agar ketuban pecah, Alhamdulillah ketuban pecah dan proses melahirkan dimulai.


Tidak seperti anak pertama yang bisa mengejan dengan mudah, anak kedua ini mengejan lebih sulit dan saya sampai kehabisan nafas. Bayi tak kunjung keluar, hanya ujung kepalanya saja dan saya kehabisan tenaga.


Dengan banyak mengucapkan kalimat Thoyibah dan bidan salafi juga menyemangati dengan tenang, sabar, dan gayanya yang sangat religius. 

Alhamdulillah akhirnya bayi kedua ini lahir dengna proses mengejan yang terbilang cukup lama dibandingkan anak pertama.


Ternyata proses mengejan yang sulit ini kata bidannya bayi saya sebenarnya terlilit tali pusar. Jika dilahirkan di rumah sakit bisa jadi disuruh operasi caesar yang sangat saya takutnya. 


Dan maasya Allah, ternyata BB bayi lumayan besar yakni 3,3 padahal sebelumnya diprediksi kecil. Dibanding anak pertama yang BB nya hanya 2,6, jelas saja mengejannya jauh lebih berat yang ini, apalagi posisi terlilit tali pusar.


Alhamdulillah, dengan bersandar kepada Allah semua dimudahkan. Keputusan tidak USG dan melahirkan di RS juga beruntung saya lakukan sehingga bisa lahiran normal di tempat yang saya inginkan.


Perbedaan Hamil Anak Pertama dan Kedua

Sesuai pengalaman saya, perbedaan hamil anak pertama dan kedua yang saya rasakan adalah:

  • Anak pertama lebih ringan dan bisa tetap aktivitas biasa meski hamil besar, namun anak kedua terasa lebih berat karena banyak tugas rumah tangga dan ada Si Kakak yang harus dimomong.

  • Hamil anak kedua lebih tenang dan bisa membaca kontraksi palsu dan asli karena sudah pernah hamil sebelumnya.

  • Hamil anak kedua yang katanya lebih cepat justru di saya lebih lama melahirkannya karena lama mengejan. Demikian juga dengan jarak kontraksinya lebih lama dari anak pertama. Jadi ini tidak bisa dijadikan patokan karena setiap ibu berbeda-beda. 

Karena kondisi ibu dan janin berbeda-beda, maka  fakta tentang hamil anak kedua sesuai pengalaman juga berbeda-beda. Namun pengalaman hamil anak kedua saya di atas juga bisa dijadikan pelajaran dan persiapan sebelum melahirkan anak kedua. 





0 Response to "Pengalaman Religius, Cerita Pengalaman Hamil Anak Kedua"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel