Tips Menjadi Keluarga yang Sakinah Ma Waddah Wa Rahmah dengan Memaknai Pernikahan dalam Islam



Pernikahan adalah sesuatu yang sangat umum terjadi, dan bersifat musiman, dimana dalam suatu bulan tertentu yang dianggap baik, maka marak orang menikah. Namun yang sangat disayangkan, marak orang menikah, marak juga orang bercerai. Kalau menikah adalah sesuatu yang sudah umum terjadi, maka berceraipun menjadi sesuatu yang sudah tabu dimasyarakat sehingga tips menjadi keluarga sakinah ma waddah wa rahmah perlu untuk diketahui bersama.

Makna Pernikahan dalam Islam


Perceraian seringkali terjadi karena masyarakat menikah tanpa mengetahui makna pernikahan itu sendiri. Sebagian orang mengatakan menikah adalah menghalalkan hubungan laki laki dan perempuan yang tadinya bukan mahrom, menjadi mahrom yang halal untuk di gauli. Ada pula yang mengatakan menikah itu menyatukan antara laki laki dan perempuan dengan hubungan yang halal demi melanjutkan keturunan.

Namun makna pernikahan tidak hanya sebatas itu saja, ada pemahaman luas di dalamnya yang jika diterapkan bisa menghasilkan beberapa tips menjadi keluarga sakinah ma waddah wa rahmah seperti berikut

1.Pernikahan adalah Tameng Perzinahan


Menikah dapat menghindari seseorang dari perbuatan zina yang di larang Allah karena dampak buruk bagi pelakunya dan juga merugikan orang. Zina sendiri adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah sebagaimana Allah berfirman  dalam surah Al Isra ayat 32 yang artinya

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

Jadi, dengan menikah, seseorang sudah mengunci mati rayuan rayuan syaithan untuk menggodanya dari peerbuatan maksiat. Disebabkan karena nafsu syahwat yang dimiliki seseorang sudah bisa terlampiaskan pada pasangan halal. Kalau sebelum menikah, berpegangan tangan, atau berciuman dengan pasangan akan dinilai maksiat, maka sebaliknya dalam pernikahan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah!.” Mendengar sabda Rasulullah itu para shahabat keheranan dan bertanya: “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? “Jawab para shahabat : “Ya, benar”. Beliau bersabda lagi : “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala!”.
 (Hadits Shahih Riwayat Muslim, Ahmad dan Nasa’i).

2. Pernikahan adalah Proses Mengikuti Sunnah


Sudah umum di masyarakat bahwa pernikahan adalah salah satu sunah Rasulullah SAW, dimana beliau bersabda
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم حَمِدَ اَللَّهَ , وَأَثْنَى عَلَيْهِ , وَقَالَ : لَكِنِّي أَنَا أُصَلِّي وَأَنَامُ , وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ , وَأَتَزَوَّجُ اَلنِّسَاءَ , فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّيمُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya bersabda: "Tetapi aku sholat, tidur, berpuasa, berbuka, dan mengawini perempuan. Barangsiapa membenci sunnahku, ia tidak termasuk ummatku." Muttafaq Alaihi.

Setelah mengetahui  hadis ini, maka dari sekarang perbaikilah niat dalam menikah, yakni niat menjalankan sunnah Rasulullah yang merupakan ibadah. Dimana yang namanya ibadah, akan membantu seseorang untuk lebih dekat dengan Allah. Bagi pasangan yang sudah terlanjur menikah, tidak masalah, ubah niatnya mulai detik ini, Niatkan karena Allah, dengan begitu keutuhan dan keharmonisan Rumah tangga akan terjaga.

Saat ini banyak orang menikah, banyak juga yang bercerai salah satu penyebabnya adalah karena mereka menikah bukan karena Allah, bukan untuk beribadah, tapi karena nafsu. Atau yang lebih parah lagi mereka menikah hanya untuk menutupi aibnya yang terlanjur kebobolan sebelum halal. Maka tidak heran jika pernikahan mereka tidak berjalan lama, karena niatnya dari awal sudah salah.
Ibnu athailah berkata dalm kitabnya al hikam

Min alamatin nujhifin ni-hayati ar rujuu ilallahi fil bidayati
(Salah satu tanda sukses di akhir perjalanan adalah kembali kepada Allah di awal perjalanan

Jadi, ketika di awal pernikahan niat kita karena Allah, maka ketika sudah menikah dan ada masalah di dalamnya, tentu Allah akan menjaga rumah tangga seseorang, sehingga masalah yang dihadapi dapat terselesaikan dengan baik,)

3.Pernikahan adalah Upaya Melengkapi Separuh Agama


Mengapa dikatakan melengkapi separuh agama? karena sebagian besar amal ibadah seseorang ,dan hal yang mampu memasukkan mereka ke neraka atau ke syurga adalah amal perbuatannya dalam pernikahan.

Selain itu  Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda,
”Barangsiapa yang diberikan rezeki oleh Allah seorang istri yang sholehah maka sungguh dia telah dibantu dengan setengah agamanya maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.”

Lihat saja salah satu sebab wanita menjadi bidadari syurga, yakni karena taat pada suami. Sebaliknya salah satu penyebab wanita masuk ke dalam neraka yang paling dalam adalah karena durhaka kepada suami.

Rasulullah SAW:"Dan ada empat golongan wanita yang akan dimasukkan ke dalam Neraka (diantaranya) ialah wanita yang kotor atau jahat lidahnya terhadap suaminya.

Kalau sudah mengerti makna ini dengna baik, sudah sepantasnya seseorang sangat bergembira ketiika menikah, karena itu artinya ia sudah membuka ladang pahala. Namun juga  harus berhati hati karena pernikahan yang tidak dijaga akan memasukkan seseorang  ke dalam jurang neraka yang paling dalam.

Untuk para wanita, harus sadar bahwa setelah ia menikah, maka syurga tidak lagi ada di telapak kaki ibu, tapi sudah berpindah pada ridha suami. Jika istri melakukajn perbuatan yang tidak diridhai suami, berarti ia sudah menutup pintu syurganya. Dalam catatan suami yang dimaksud tentu suami yang “taat kepada Allah”

Namun sayang nya, banyak para wanita mengabaikan makna ini, mereka menganggap pernikahan hanya sekedar menghalalkan hubungan, tanpa tahu banyaknya pahala yang dapat disemai. Misalnya,ketika kita tersenyum saat suami pulang, istri menggembirakannya, dan berdandan cantik di depannya, maka itu sudah memberikan pahala yang luar biasa bagi wanita.

Namun anehnya, saat ini wanita justru berdandan cantik jika diluar rumah, sementara jika bersama suami, ia asal asalan berdandan. Bahkan ada yang tidak berdandan sama sekali, dengan menggunakan daster bau bawang merah. Suami mana yang suka meliahat istrinya seperti itu maka jangan disalahkan jika pernikahannya tidak awet, krena suami selingkuh.

Coba pikirkan, seandainya dirumah istri berdandan asal asalan, ketika suami kerja ia akan menemui wanita yang sudah berdandan rapi dan cantik. Laki laki mana  yang tidak tergiur dengan dendeng yang masih baru, daripada harus melahap dendeng dirumahnya yang sudah jatuh kotor dilumuri bau bawang.

4.Perkawinan Adalah Upaya Menyatukan dua Insan yang Berbeda


Makna terakhir adalah perkawinan merupakan upaya menyatukan dua insan yang berbeda. Berbeda ciri fisik, berbeda pemikiran, berbeda pendapat, dan lain sebagainya yang disatukan dalam sebuah hubungan pernikahan. Namun sayangnya, banyak orang yang salah memaknai perbedaan tersebut menjadi sebuah masalah.

Ketika ada perbedaan pendapat atau pemikiran antara seseorang dengan pasangannya, maka jangan dijadikan itu bahan pertengkaran. Justru dengan perbedaan itu, mestinya salaing menutupi kekurangan pasangan masing-masing.  Jangan kekurangan pasangan malah diumbar kesana kemari. Ingat Allah SWT berfirman dalam Al Quran Surah Al Baqoroh ayat 187 yang bunyinya :

Dihalalkan bagi kalian pada malam hari (bulan) puasa bercampur dengan isteri-isterimu; (karena) mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan diri, maka Allah mengampuni dan memaafkan kalian

Demikianlah 4 makna pernikahan yang merupakan tips menjadi keluarga sakinah ma waddah wa rahmah. Hal yang perlu diingat adalah bahwa Nabi mengatakan  pernikahan yang berkah itu  adalah pernikahan yang didasari agama. Pernikahan dengan didasari hal ini, akan menjadikan suami sebagai imam yang mengerti arah dan tujuan di dalam pernikahannya tersebut. Laki-laki yang beragama, mengetahui tujuan hidup pernikahannya, begitu juga istri yang sholihah, mengetahui ke mana ia akan melangkah hidup.


0 Response to "Tips Menjadi Keluarga yang Sakinah Ma Waddah Wa Rahmah dengan Memaknai Pernikahan dalam Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel