Pengalaman Religius, Pengalaman Hamil Anak Pertama

 





Pengalaman hamil anak pertama kerap dicari oleh para ibu muda yang baru merasakan hamil. Dengan mengetahuinya, para ibu berharap bisa mengambil pelajaran dan persiapan yang maksimal dari pengalaman yang dibagikan oleh orang lain.


Tentu saja setiap ibu memiliki pengalaman hamil dan melahirkan yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan hamil anak pertama lebih ringan, lahirnya lebih lama, ada juga yang mengatakan perut tidak terlihat. 


Pengalaman Hamil Anak Pertama

Setiap ibu sebenarnya  memiliki pengalaman hamil dan melahirkan anak pertama yang berbeda-beda. Meski begitu, pengalaman pribadi yang nyata dan religius dari kehamilan anak pertama berikut bisa dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya. 


1. Perut TIdak Terlihat Buncit Meski Hamil Besar

Banyak yang mengatakan bahwa perut yang tidak terlihat buncit walaupun hamil besar ini hanya terjadi pada wanita yang memiliki postur tubuh kecil dan kurus saja. Padahal sebagian besar pengalaman hamil anak pertama bagi para ibu muda selalu tidak terlihat dan kecil,


Kondisi ini seringkali membuat sebagian panik karena khawatir bayi dalam kandungannya kekecilan hingga melahirkan dengan bobot tidak normal. Kondisi ini sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.


Wajar jika hamil anak pertama perut tidak terlihat terlalu buncit karena peregangan pada rahim dan perutnya juga tidak terlalu berlebihan.


Mengenai bobot bayi tidak perlu dikhawatirkan. Selama ibu masih rutin makan makanan bergizi dan tidak mogok makan, insya Allah bayi tetap lahir normal. Bahkan pengalaman pribadi hamil anak pertama juga ikut aktif puasa ramadhan hingga ke hari ke 27.


Alhamdulillah bayi perempuan tetap lahir normal dengan bobot di atas 2,5. Perut yang tidak buncit saat hamil besar tidak menjamin besar atau kecilnya bayi. 


2. Manja Tingkat Tinggi


Pertama kali hamil membuat sebagian ibu muda kaget dengan perubahan hormon yang dialami. Mood yang tidak baik, perubahan bentuk tubuh, hingga sulitnya tidur dan beratnya membawa beban bayi dalam perut kemanapun pergi.


Kondisi dan perubahan-perubahan yang sangat unik dan baru pertama dialami oleh ibu muda biasanya akan membuatnya merasa wajib dimanjakan pasangan. Hal ini wajar dan suami sebagai pasangannya wajib menuruti dan bersabar dengan sifat manja yang hormonal tersebut.


3. Sering Merasa Nelangsa

Bagi wanita yang tidak biasa menanggung beban berat dalam hal psikis dan fisik, tentu akan sangat sensitif dan sering merasa nelangsa saat hamil pertama kali. Merasa nelangsa ketika harus tetap bekerja meski hamil.


Nelangsa saat suami berangkat bekerja dan baru pulang malam. Nelangsa saat hamil sambil LDR-an. Nelangsa saat ditegur sedikit oleh suami. Nelangsa saat hamil jauh dari keluarga kandung. 


Dan banyak nelangsa lainnya yang biasanya dijalani dengan biasa saja namun ditanggapi nelangsa dan berlebihan saat hamil anak pertama. Sekali lagi ini hal wajar. 


4. Hamil Tidak Berat dan Bisa Tetap Aktif

Pengalaman hamil anak pertama tentu tidak semuanya negatif. Uniknya hamil anak pertama terasa lebih ringan dibandingkan hamil anak kedua dan seterusnya. Aktivitas yang biasa dilakukan sehari-hari tetap bisa dilakukan dengan mudah.


Tapi ini juga berbeda-beda tergantung kondisi ibu. Apabila ibu memang kondisinya sudah lemah, biasanya hamil anak pertama akan terasa lebih berat. Sebaliknya, ibu yang memang terbiasa aktif tidak akan merasa berat beraktivitas meski hamil. 


Bahkan tidak jarang yang sengaja membagikan pengalaman mudah bersalin anak pertama nya pada ibu hamil lainnya. 


5. Proses Melahirkan Lebih Lama


Proses melahirkan memang lebih lama sejak awal kontraksi. Ini disebabkan karena ibu baru pertama kali mengalami peregangan pada rahim serta vagina dalam membuka jalan lahir bayi hingga melahirkan.


Kalau yang sudah pernah melahirkan biasanya bisa melahirkan dalam waktu setengah sampai 1 jam saat pembukaan lengkap. Tapi hamil anak pertama melahirkannya bisa lebih lama dari waktu tersebut. 


6. Kurang Peka Terhadap Kontraksi

Karena belum pernah merasakan kontraksi, ibu tidak akan merasa peka terhadap rasa kontraksi pada rahimnya. Walaupun sudah dicari di internet ataupun bertanya pada orang yang pernah melahirkan terkait rasa kontraksi, tapi aplikasinya masih banyak yang kurang peka.


Rasa kontraksi sendiri memiliki deskripsi berbeda-beda tergantung ibu yang membahasakannya. Ada yang mengatakan seperti nyeri saat haid tapi lebih sakit, ada yang mengatakan ingin buang air, ada yang mengatakan seperti asam lambung, ada yang merasa seperti perut ditarik-tarik, dan masih banyak lagi.


Ketidakpekaan terhadap rasa kontraksi terkadang membuat sebagian ibu yang tahan sakit membiarkannya sampai akhirnya melahirkan di tempat yang tidak lazim. Seperti jalan raya, bus, kamar mandi, hingga kamar tidur. Sekali lagi ini karena ibu yang hamil anak pertama tidak peka dengan rasa kontraksi. 


Agar bisa peka terhadap kontraksi, Ibu bisa menganggap rasa sakit yang tidak biasa pada perut yang sering muncul dan menghilang sebagai kontraksi. Kalau rasa sakit tersebut seperti tidak pernah dirasakan, bisa dicurigai sebagai kontraksi.

 

7. Kontraksi Lebih Berat Dibandingkan Saat Mengejan Mengeluarkan Bayi

Saat melihat di sinetron televisi, biasanya proses mengejan yang dilakukan ibu yang akan dilihat sebagai proses yang sangat berat. Uniknya, pengalaman pribadi saat melahirkan anak pertama justru bukan berat saat mengejan.


Rasa sakit yang lebih berat justru dirasakan ketika merasakan nyerinya kontraksi rahim yang sering muncul timbul semakin sering. Bahkan baru bukaan 7 atau 8 rasanya sudah tidak tahan sehingga sebagian memilih operasi dibanding menahan sensasi sakit. 


8. Jahitan Lebih Sakit dan Banyak Dibanding Kontraksi


Setelah melahirkan, ibu muda yang hamil anak pertama masih belum merasakan lega. Ada tahapan yang lebih sakit lagi sesuai pengalaman pribadi, yakni ketika dijahit. Proses menjahit yang lama di area sensitif terasa sangat sakit tiada henti.


Namun tahapan ini tidak dirasakan oleh sebagian ibu yang mempunyai pengalaman bersalin anak pertama tanpa jahitan.


Rasa sakit karena jahitan terkadang membuat ibu baru trauma untuk ke kamar mandi atau BAB karena khawatir dan masih terbayang dengan sakitnya rasa jahitan. Kondisi ini juga tidak perlu dikhawatirkan karena BAB mengeluarkan kotoran dari anus sehingga tidak akan melukai area V. 


Namun tetap tidak boleh mengejan terlalu keras agar tidak sampai melukai area dalam rahim yang baru saja melahirkan. 


Tips Melahirkan Lancar Anak Pertama yang Islami

Dalam islam sendiri ada banyak sekali cara-cara yang diajarkan agar proses melahirkan berjalan lancar. Tentu saja cara utama ada 3 yakni:

  • Rajin membaca Al Quran sebagai obat segala obat.

  • Minta langsung pada Allah dengan rajin berdoa agar dimudahkan persalinan,

  • Minta maaf pada keluarga terutama ibu dan suami agar dimudahkan persalinan.

Selain 3 cara pokok di atas, ada beberapa cara melahirkan normal anak pertama lainnya yang bisa dicoba, di antaranya:

1. Saat Mulas Jangan Terburu-buru ke Dokter

Ibu muda yang pertama hamil biasanya terburu-buru ke dokter saat merasakan perutnya mulas. Padahal kalau ke dokter biasanya di cek pembukaannya masih sedikit sehingga malah disuruh pulang lagi atau menunggu lama.


Jadi sebisa mungkin untuk menahan dan menikmati sensasi kontraksi menunggu kelahiran bayi. Jika tanda melahirkan berikutnya seperti keluar air tuban, bercak darah, hingga durasi kontraksi yang sangat dekat, barulah bisa ke dokter.


2. Selama Hamil Besar, Perbanyak Berhubungan Intim


Jangan terlalu stress memikirkan proses melahirkan nanti. Perhatikan juga hak-hak yang harus didapatkan suami. Ingat setelah melahirkan, suami harus puasa 40 hari untuk menahan nafsu biologisnya.


Jad rajinlah berhubungan intim, bukan hanya sebagai bakti kepada suami saja. Tapi juga langkah ilmiah untuk membuka jalan lahir. 


3. Niatkan Lahir Normal dan Percaya dengan Kuasa Allah

Jangan pernah merasa takut melahirkan normal karena mendengar cerita orang-orang bahwa rasanya sakit.


Sejak awal hamil, niatkan saja lahir normal dan percaya pada kuasa Allah untuk mewujudkannya. Terutama saat hamil anak pertama yang proses lahirnya sangat menentukan proses lahir anak berikutnya. 


4. Ingatkan Diri Bahwa Melahirkan Normal Itu Fitrah Wanita Seperti Siti Maryam

Sekali lagi, melahirkan normal adalah fitrah wanita sejak zaman Siti Hawa. Bahkan beliau bisa melahirkan anak kembar dengan normal. 


Hanya saja perkembangan teknologi kedokteran yang ada saat ini terkadang membuat beberapa pihak medis terburu-buru menawarkan cara lahir tidak normal seperti cesar sebagai solusi. 


Akibatnya pengalaman mengandung anak pertama yang seharusnya menyenangkan menjadi momok bagi sebagian ibu yang disarankan operasi oleh dokter. 


Agar tidak termakan rasa takut akan saran pihak medis, bisa ingatkan diri bahwa melahirkan normal itu fitrah wanita sebagai ibu. Siti Maryam saja bisa melahirkan sendirian bersama Allah saja tanpa bantuan manusia siapapun. Lalu mengapa melahirkan normal saja kita tidak bisa?


5. Tetap Aktif Beraktivitas Selama Tidak Ada Masalah Kehamilan 

Untuk mempermudah proses kehamilan, jangan terlalu bermalas-malasan karena menganggap terlalu berat beban yang dibawa dalam perut. 


Jika masih mampu dan tidak memiliki masalah kehamilan yang harus bed rest, usahakan untuk tetap aktif beraktivitas. Tentunya aktivitas yang wajar dan tidak membahayakan kehamilan juga. 


Pengalaman hamil anak pertama bisa menjadi pengalaman yang religius karena menyadarkan pihak wanita dan suami yang mendampinginya betapa beratnya perjuangan ibunya saat melahirkan.


Selain itu, beratnya hamil hingga melahirkan bisa membuat wanita semakin dekat dengan Allah karena sadar hanya Allah yang kuasa memberikan kemudahan. Tidak heran kalau banyak wanita yang memutuskan berhijrah dan semakin dekat dengan Allah setelah melahirkan. Wallahualam bishawab.


0 Response to "Pengalaman Religius, Pengalaman Hamil Anak Pertama"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel