Hikmah Dibalik Peristiwa Banjir di Jakarta yang Wajib Kita Renungkan


Peristiwa banjir yang terjadi tepat di awal taun baru 2020 lalu, cukup menggemparkan warga Indonesia, terlebih banjir tahun ini jauh lebih besar dibandingkan yang sudah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Namun anehnya, bukannya mengambil hikmah, banyak masyarakat yang bahkan tidak terkena musibah malah saling menyalahkan dan tidak terima akan musibah ini. Padahal ada banyak  hikmah peristiwa banjir di Jakarta yang bisa diambil dan menjadi bahan renungan serta perbaikan.

Hikmah Peristiwa Banjir di Jakarta

Sebagai seorang muslim, segala yang diberikan Allah memiliki banyak tujuan baik untuk manusia itu sendiri. Hanya saja tidak semua hamba Nya yang mau ber husnuzan dengan segala yang Dia tetapkan. Berikut beberapa hikmah dari terjadinya banjir Jakarta

 

1.Jangan Menyambut Tahun Baru dengan Maksiat


Seperti yang kita tahu, bahwa tahun baru masehi selalu dipenuhi dengan kegiatan yang tidak bermanfaat bahkan bernilai maksiat sebagai rasa syukur dan penyambutan kepada pergantian tahun. Padahal untuk menyambut tahun baru, seharusnya diisi dengan merelfleksi diri serta merenungkan apa saja yang sudah kita lakukan. Cukup bermanfaat kah hidup kita di sepanjang tahun sebelumnya, atau justru merugikan banyak orang.

Dari perenungan tersebut, imbangi dengan tekad yang kuat untuk memperbaiki perilaku buruk sebelumnya. Bukan justru mengawali tahun dengan perbuatan maksiat yang membuat Allah murka sehingga menurunkan banjir sebagai peringatan keras.

 

2.Musibah Tidak Pilih-pilih Tempat


Jangan merasa aman dari musibah karena merasa sudah memiliki rumah mewah, megah dan terletak di dataran tinggi. Padahal, jika Allah berkehendak, dimana saja banjir bisa terjadi, oleh sebab itu kita harus mampu mengintrospeksi diri mengapa banjir terjadi di area rumah kita.

Kita juga harus sadar, bahwa tidak ada yang pantas disombongkan dari apa yang sudah di miliki, karena semua hanyalah titipan dari Allah. Jika dia hendak mengambilnya kembali untuk menguji manusia, atau menegur kelalaian mereka, maka mudah saja bagi Allah.

3. Teguran bagi yang Dzalim (buang sampah sembarangan)


Penyebab utama banjir secara ilmiah adalah karena luapan air sungai yang tidak mampu menampung air hujan yang deras, serta kiriman dari daerah lain. Hal ini disebabkan karena banyaknya masyarakat Indonesia yang masih tidak memiliki kesadaran akan bahaya buang sampah di sembarang tempat.

Dengan demikian, Allah menegur hamba Nya secara langsung agar sadar akan kesalahan diri sendiri yang tidak menjaga kebersihan lingkungan. Allah sendiri sudah mengingatkan dalam firman Nya, bahwa segala kerusakan yang ada di bumi ini penyebab utamanya adalah manusia itu sendiri.

telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia
Q.S  Ar Rum : 41

 

4. Ujian Bagi yang Shalih


Sementara itu, bagi hamba yang shalih, banjir adalah musibah yang harus diterima dengan sabar, sebagai salah satu ujian Nya. Semakin sabar hamba tersebut menerima musibah dari Allah, maka semakin besar pahala yang akan diperoleh dan semakin besar pula kecintaan Allah kepadanya.

Selain itu, musibah ini juga bisa menjadi media penghapus dosa-dosa yang telah dilakukan, bagi hambanya yang mau menerima dengan ikhlas. Oleh sebab itu, seberat apapun banjir yang menimpa hamba yang beriman, maka itu tidak untuk diratapi, namun harus disyukuri karena merupakan bukti sayang Allah kepada kita.

 

5. Pengingat Bahwa Manusia (Pemimpin) Tidak Ada yang Sempurna


Sebaik dan sebijaksana apapun manusia, ia pasti memiliki kekurangan, terlebih dalam hal memimpin sebuah pemerintahan. Oleh sebab itu, dengan adanya banjir, jangan serta merta membuat kita menyalahkan pemerintah yang dianggap tidak becus dalam memimpin daerah.
Kalaupun pemimpinnya diganti, belum tentu mereka bisa mengatasi dengan tepat, karena selama mereka memimpin, juga tidak pernah mengalami peristiwa banjir yang sangat hebat. Oleh sebab itu, kita harus benar-benar menyadari bahwa pemimpin tidak ada yang sempurna, artinya jangan terlalu fanatisme terhadap satu pemimpin, dan jangan pula terlalu menjelek-jelekkan pemimpin lain.

 6.Memperjelas yang Buruk adalah Buruk, yang Baik adalah Baik


Saat terjadinya banjir, ada beberapa pihak yang mengaku baik dan sosial, namun tidak turun tangan sama sekali untuk membantu. Bahkan mereka hanya sibuk berbicara di depan layar saja untuk menyalahkan pihak ini dan itu. Sementara beberapa oknum lainnya, malah sibuk bekerja di belakang layar, membantu turun tangan langsung menerobos hujan dan banjir untuk membantu korban bencana.

Dari peristiwa ini, sebenarnya Allah ingin memperjelas bahwa yang benar itu benar adan yang buruk itu buruk. Pihak yang benar sudah tentu lebih menyukai pekerjaan di belakang layar, karena akan lebih meningkatkan keikhlasan yang dimiliki. Mereka tidak mempedulikan publik yang meliput mereka atau tidak, sebaliknya dengan mereka yang tidak baik, justru sedikit membantu banyak bicara.


Demikianlah berbagai hikmah peristiwa banjir di Jakarta yang bisa kita ambil dan pelajari, sebagai bahan renungan dan perbaikan khususnya bagi umat muslim. Selain 6 hal di atas, masih banyak hikmah lainnya yang bisa ditemukan dan pelajari sendiri oleh mereka yang berhati peka dan berprasangka baik.

0 Response to "Hikmah Dibalik Peristiwa Banjir di Jakarta yang Wajib Kita Renungkan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel