Hikmah Dibalik Peristiwa Banjir di Jakarta yang Wajib Kita Renungkan
Sunday, January 26, 2020
Add Comment
Peristiwa banjir yang terjadi
tepat di awal taun baru 2020 lalu, cukup menggemparkan warga Indonesia,
terlebih banjir tahun ini jauh lebih besar dibandingkan yang sudah terjadi di
tahun-tahun sebelumnya. Namun anehnya, bukannya mengambil hikmah, banyak
masyarakat yang bahkan tidak terkena musibah malah saling menyalahkan dan tidak
terima akan musibah ini. Padahal ada banyak hikmah peristiwa
banjir di Jakarta yang bisa diambil dan menjadi bahan renungan serta
perbaikan.
Hikmah Peristiwa Banjir di Jakarta
Sebagai seorang muslim, segala
yang diberikan Allah memiliki banyak tujuan baik untuk manusia itu sendiri. Hanya
saja tidak semua hamba Nya yang mau ber husnuzan dengan segala yang Dia
tetapkan. Berikut beberapa hikmah dari terjadinya banjir Jakarta
1.Jangan Menyambut Tahun Baru dengan Maksiat
Seperti yang kita tahu, bahwa
tahun baru masehi selalu dipenuhi dengan kegiatan yang tidak bermanfaat bahkan
bernilai maksiat sebagai rasa syukur dan penyambutan kepada pergantian tahun.
Padahal untuk menyambut tahun baru, seharusnya diisi dengan merelfleksi diri
serta merenungkan apa saja yang sudah kita lakukan. Cukup bermanfaat kah hidup
kita di sepanjang tahun sebelumnya, atau justru merugikan banyak orang.
Dari perenungan tersebut, imbangi
dengan tekad yang kuat untuk memperbaiki perilaku buruk sebelumnya. Bukan
justru mengawali tahun dengan perbuatan maksiat yang membuat Allah murka
sehingga menurunkan banjir sebagai peringatan keras.
2.Musibah Tidak Pilih-pilih Tempat
Jangan merasa aman dari musibah
karena merasa sudah memiliki rumah mewah, megah dan terletak di dataran tinggi.
Padahal, jika Allah berkehendak, dimana saja banjir bisa terjadi, oleh sebab
itu kita harus mampu mengintrospeksi diri mengapa banjir terjadi di area rumah
kita.
Kita juga harus sadar, bahwa
tidak ada yang pantas disombongkan dari apa yang sudah di miliki, karena semua
hanyalah titipan dari Allah. Jika dia hendak mengambilnya kembali untuk menguji
manusia, atau menegur kelalaian mereka, maka mudah saja bagi Allah.
3. Teguran bagi yang Dzalim (buang sampah sembarangan)
Penyebab utama banjir secara
ilmiah adalah karena luapan air sungai yang tidak mampu menampung air hujan
yang deras, serta kiriman dari daerah lain. Hal ini disebabkan karena banyaknya
masyarakat Indonesia yang masih tidak memiliki kesadaran akan bahaya buang
sampah di sembarang tempat.
Dengan demikian, Allah menegur hamba
Nya secara langsung agar sadar akan kesalahan diri sendiri yang tidak menjaga
kebersihan lingkungan. Allah sendiri sudah mengingatkan dalam firman Nya, bahwa
segala kerusakan yang ada di bumi ini penyebab utamanya adalah manusia itu sendiri.
“telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan
tangan manusia”
Q.S Ar Rum : 41
4. Ujian Bagi yang Shalih
Sementara itu, bagi hamba yang shalih,
banjir adalah musibah yang harus diterima dengan sabar, sebagai salah satu
ujian Nya. Semakin sabar hamba tersebut menerima musibah dari Allah, maka
semakin besar pahala yang akan diperoleh dan semakin besar pula kecintaan Allah
kepadanya.
Selain itu, musibah ini juga bisa
menjadi media penghapus dosa-dosa yang telah dilakukan, bagi hambanya yang mau
menerima dengan ikhlas. Oleh sebab itu, seberat apapun banjir yang menimpa
hamba yang beriman, maka itu tidak untuk diratapi, namun harus disyukuri karena
merupakan bukti sayang Allah kepada kita.
5. Pengingat Bahwa Manusia (Pemimpin) Tidak Ada yang Sempurna
Sebaik dan sebijaksana apapun
manusia, ia pasti memiliki kekurangan, terlebih dalam hal memimpin sebuah
pemerintahan. Oleh sebab itu, dengan adanya banjir, jangan serta merta membuat
kita menyalahkan pemerintah yang dianggap tidak becus dalam memimpin daerah.
Kalaupun pemimpinnya diganti,
belum tentu mereka bisa mengatasi dengan tepat, karena selama mereka memimpin,
juga tidak pernah mengalami peristiwa banjir yang sangat hebat. Oleh sebab itu,
kita harus benar-benar menyadari bahwa pemimpin tidak ada yang sempurna,
artinya jangan terlalu fanatisme terhadap satu pemimpin, dan jangan pula
terlalu menjelek-jelekkan pemimpin lain.
6.Memperjelas yang Buruk adalah Buruk, yang Baik adalah Baik
Saat terjadinya banjir, ada
beberapa pihak yang mengaku baik dan sosial, namun tidak turun tangan sama
sekali untuk membantu. Bahkan mereka hanya sibuk berbicara di depan layar saja
untuk menyalahkan pihak ini dan itu. Sementara beberapa oknum lainnya, malah
sibuk bekerja di belakang layar, membantu turun tangan langsung menerobos hujan
dan banjir untuk membantu korban bencana.
Dari peristiwa ini, sebenarnya
Allah ingin memperjelas bahwa yang benar itu benar adan yang buruk itu buruk.
Pihak yang benar sudah tentu lebih menyukai pekerjaan di belakang layar, karena
akan lebih meningkatkan keikhlasan yang dimiliki. Mereka tidak mempedulikan
publik yang meliput mereka atau tidak, sebaliknya dengan mereka yang tidak
baik, justru sedikit membantu banyak bicara.
Demikianlah berbagai hikmah peristiwa banjir di Jakarta yang
bisa kita ambil dan pelajari, sebagai bahan renungan dan perbaikan khususnya bagi
umat muslim. Selain 6 hal di atas, masih banyak hikmah lainnya yang bisa
ditemukan dan pelajari sendiri oleh mereka yang berhati peka dan berprasangka
baik.

0 Response to "Hikmah Dibalik Peristiwa Banjir di Jakarta yang Wajib Kita Renungkan"
Post a Comment