Dakwah Nabi Periode Madinah

Setelah Rasulullah berhijrah pada tanggal 12 Rabiul Awwal dari Mekah ke Madinah dan diterima penduduk Yatsrib (Madinah), Nabi resmi menjadi pemimpin penduduk kota itu, dan babak baru dalam sejarah Islam pun dimulai. Berbeda dengan periode Mekah, dakwah nabi periode Madinah, lebih pada kekuatan politik. Nabi Muhammad mempunyai kedudukan, bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala Negara. 

Usaha-usaha Nabi Muhammad dalam Membentuk Masyarakat Islami

Banyak usaha yang dilakukan Nabi untuk membentuk masyarakat Madinah yang islami, pertama adalah dengan membangun masjid. Langkah selanjutnya Nabi  mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar, membuat perjanjian bantu membantu antara umat islam dan non islam, serta meletakkan dasar-dasar politik, Ekonomi, Sosial, yang islami.

Materi dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW pada periode Madinah, umumnya ajaran Islam tentang masalah sosial kemasyarakatan. Mengenai objek dakwah Rasulullah SAW pada periode Madinah adalah orang-orang yang sudah masuk Islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Anshar. Juga orang-orang yang belum masuk Islam seperti kaum Yahudi penduduk Madinah, para penduduk di luar kota Madinah yang termasuk bangsa Arab dan tidak termasuk bangsa Arab.

Dakwah Rasulullah kepada orang-orang yang sudah masuk Islam bertujuan agar mereka mengetahui seluruh ajaran Islam baik yang diturunkan di Mekah ataupun yang diturunkan di Madinah. Kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka betul-betul menjadi umat yang bertakwa. Selain itu, Rasulullah SAW dibantu oleh para sahabatnya melakukan usaha-usaha nyata agar terwujud persaudaraan sesama umat Islam dan terbentuk masyarakat madani di Madinah.

Mengenai dakwah yang ditujukan kepada orang-orang yang belum masuk Islam bertujuan agar mereka bersedia menerima Islam sebagai agamanya, mempelajari ajaran-ajarannya dan mengamalkannya. Sehingga mereka menjadi umat Islam yang senantiasa beriman dan beramal saleh, yang berbahagia di dunia serta sejahtera di akhirat.
Tujuan dakwah Rasulullah SAW yang luhur dan cara penyampaiannya yang terpuji, menyebabkan umat manusia yang belum masuk Islam banyak yang masuk Islam dengan kemauan dan kesadaran sendiri. Namun tidak sedikit pula orang-orang kafir yang tidak bersedia masuk Islam, bahkan mereka berusaha menghalang-halangi orang lain masuk Islam.

Banyak pihak yang berusaha melenyapkan agama Islam dan umatnya dari muka bumi seperti kaum kafir Quraisy penduduk Mekah, kaum Yahudi Madinah, dan sekutu-sekutu mereka. Setelah ada izin dari Allah SWT untuk berperang dalam surah Al-Hajj ayat 39 dan Al-Baqarah ayat 190, Rasulullah dan para sahabatnya baru menyusun kekuatan untuk menghadapi peperangan dengan orang kafir yang tidak dapat dihindarkan lagi.

 

Tujuan Peperangan Rasulullah

Peperangan-peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para pengikutnya itu tidaklah bertujuan untuk melakukan penjajahan atau meraih harta rampasan pernag. Ada beberapa tujuan baik yang ada di dalamnya yakni, membela diri, kehormatan, dan harta. Selain itu Islam berperang dengan tujuan memelihara umat Islam agar tidak dihancurkan oleh bala tentara Persia dan Romawi.

Setelah Rasulullah SAW dan para pengikutnya mampu membangun suatu negara yang merdeka dan berdaulat, yang berpusat di Madinah, mereka berusaha menyiarkan agama Islam ke luar Arab. Akibatnya bangsa Romawi dan Persia menjadi cemas dan khawatir kekuatan mereka akan tersaingi, sehingga bertekad untuk menumpas dan menghancurkan umat Islam dan agamanya. Untuk menghadapi tekad bangsa Romawi Persia tersebut, Rasulullah SAW dan para pengikutnya tidak tinggal diam sehingga terjadi peperangan antara umat Islam dan bangsa Romawi.

 

Peperangan yang Dilakukan Rasulullah Melawan Romawi Persia

Dalam melawan Romawi Persia, umat islam dipimpin nabi Muhammad melakukan dua peperangan. Peperangan tersebut dilakukan untuk melindungi umat islam dari perlawanan, bukan untuk memulai permusuhan, perang tersebut meliputi

 

1.Perang Mut’ah

 Peperangan Mu’tah terjadi sebelah utara lazirah Arab. Pasukan Islam mendapat kesulitan menghadapi tentara Ghassan yang mendapat bantuan dari Romawi. Beberapa pahlawan gugur melawan pasukan berkekuatan ratusan ribu orang itu.

 

2.Perang Tabuk

Heraklius menyusun pasukan besar di utara Jazirah Arab, Syria, yang merupakan daerah pendudukan Romawi, dalam pasukan besar itu bergabung Bani Ghassan dan Bani Lachmides. Untuk menghadapi pasukan Heraklius ini banyak pahlawan Islam yang menyediakan diri siap berperang bersama Nabi sehingga terhimpun pasukan Islam yang besar pula.

Melihat besarnya pasukan di sini beliau membuat beberapa perjanjian dengan penduduk setempat. Dengan demikian, daerah perbatasan itu dapat dirangkul ke dalam barisan Islam, dimana perang Tabuk ini merupakan perang terakhir yang diikuti Rasulullah SAW.

Peperangan Lainnya yang Dilakukan Pada Masa Rasulullah di Madinah

Selain peperangan melawan Romawi Persia, umat islam di bawah pimpinan Rasulullah juga melakukan beberapa peperangan lainnya. Peperangan ini dilakukan oleh penduduk Arab sendiri, diantaranya

1.Perang Badar

 Perang Badar yang merupakan perang antara kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy Mekah terjadi pada tahun 2 H. Perang ini merupakan puncak dari serangkaian pertikaian yang terjadi antara pihak kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy. Perang ini berkobar setelah berbagai upaya perdamaian yang dilaksanakan Nabi Muhammad SAW gagal.

2.Perang Uhud

Bagi kaum Quraisy Mekah, kekalahan mereka dalam perang Badar merupakan pukulan berat, sehingga mereka bersumpah akan membalas dendam. Pada tahun 3 H, mereka berangkat menuju Madinah membawa tidak kurang dari 3000 pasukan berkendaraan unta, 200 pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid ibn Walid, 700 orang di antara mereka memakai baju besi.

3.Perang Khandaq

Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara kaum muslimin Madinah melawan masyarakat Yahudi Madinah. Saat itu masyarakat Yahudi mengungsi ke Khaibar dan bersekutu dengan masyarakat Mekah, karena itu perang ini juga disebut sebagai Perang Ahzab (sekutu beberapa suku). 

3.Perang Hunain

Mendengar berita bahwa kaum musyrikin  akan menyerang umat Islam, Nabi mengerahkan kira-kira 12.000 tentara menuju Hunain untuk menghadapi mereka. Pasukan ini dipimpin langsung oleh beliau sehingga umat Islam memenangkan pertempuran dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dengan ditaklukkannya Bani Tsaqif dan Bani Hawazin, seluruh Jazirah Arab berada di bawah kepemimpinan Nabi

Haji Wada’

Dalam kesempatan menunaikan ibadah haji yang terakhir, haji wada’, tahun 10 H (631 M), Nabi saw menyampaikan khotbahnya yang sangat bersejarah. Isi khotbah itu antara lain, larangan menumpahkan darah kecuali dengan haq dan larangan mengambil harta orang lain dengan batil karena nyawa dan harta benda adalah suci.

Nabi Muhammad juga menyampaikan larangan riba dan larangan menganiaya, perintah untuk memperlakukan para istri dengan baik dan lemah lembut dan perintah menjauhi dosa. Semua pertengkaran antara mereka di zaman Jahiliyah harus saling dimaafkan, balas dendam dengan tebusan darah sebagaimana berlaku di zaman Jahiliyah tidak lagi dibenarkan.

Persaudaraan dan persamaan di antara manusia harus ditegakkan, hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, mereka makan seperti apa yang dimakan tuannya dan memakai seperti apa yang dipakai tuannya.Dan yang terpenting adalah bahwa umat Islam harus selalu berpegang kepada dua sumber yang tak pernah usang, Al-Qur’an dan sunnah Nabi.

Wafatnya Rasulullah SAW

Setelah melaksanakan haji Wada’, Nabi saw segera kembali ke Madinah, beliau mengatur organisasi masyarakat kabilah yang telah memeluk agama Islam. Petugas keagamaan dan para dai dikirim ke berbagai daerah dan kabilah untuk mengajarkan ajaran-ajaran Islam, mengatur peradilan, dan memungut zakat. Dua bulan setelah itu, Nabi saw menderita sakit demam dan Pada hari senin, tanggal 12 Rabi’ul Awal 11 H / 8 Juni 632 M, Rasulullah SAW wafat di rumah istrinya Aisyah ra.

Dari sejarah singkat dakwah nabi periode Madinah ini banyak pelajaran yang bisa diambil dan diterapkan sampai saat ini. Salah satunya adalah, dari sekian banyak peperangan yang dilakukan, tidak ada satu pun perang yang dilakukan dengan tujuan melawan dan merusak non muslim seperti yang sering dilakukan para teroris dengan mengatasnamakan islam. Melainkan Nabi melakukan peperangan karena ingin membela diri dari serangan musuh dan demi kelancaran berdirinya islam di muka bumi.

0 Response to "Dakwah Nabi Periode Madinah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel