Lillahmu Tak Semanis Film Korea (cerpen)



oleh Fitria NF

Sore ini masih tampak cerah dengan hembusan angin siang yang sudah tercampur dinginnya angin malam. Aku meneguk kopi hitamku di beranda halaman rumahku yang begitu sejuk untuk dibuat bersantai. Mataku menatap ke arah majalah yang  ada ditanganku, sementara pikiranku menerawng kemana-mana. Penuh dengan ke gaalauan dan ketidak pastian. 

Yang jelas dalam pikiranku yang sumpek itu telah dipenuhi dengan bayangan suamiku, dan juga bayangan tepat-tempat menarik yang ingin aku kunjungi. Hari ini tanggal 12 Februari,3 hari lagi adalah hari ulangtahunku. Aku menginginkan sesuatu yang special di hari itu. Walaupun aku sudah menikah, namun umurku masih cukup muda. 

Aku masih berumur 21 tahun pada usia pernikahanku yang mau menginjak 3 tahun. Mungkin ini salah satu hal yang menyebabkan aku berpikir seperti gadis seumuranku, ingin traveling, shoping, dan selalu mengidamkan kisah kisah romantic seperti di film-film yang sering aku tonton.  Namun kenyataannya, semua yang ku inginkan itu tak bisa aku dapatkan 3 tahun belakangan ini. Tepatnya sejak aku menikah dengan suamiku.

“Assalamu’alaikum !”

Suara kalem seorang laki-laki mengagetkanku yang masih tenggelam dalam lamunanku, walaupun matakau masih tetap sibuk melihat majalah yang aku baca.

“Wa’alaikumussalam”

 jawabku sambil bangkit dari duduk seraya mndekati dan  mencium tangan laki-laki kalem yang tak lain suamiku. Hatiku berbunga menyambut kedatangannya, kebosanan dan rasa kesepianku akan sirna dengan datangnya suamiku, itulah yang ada di benakku.

Aku segera mengikuti suamiku masuk, dan dengan sigap membuka bungkusan yang di bawanya. Memang sebelum berangkat kerja aku sudah berpesan pada suamiku, agar pulang membawa mie ayam favoritku. Demikianlah aktifitasku sehari-hari di rumah suamiku. Sejak cuti kuliah, aku merasakan kebosanan yang luar biasa, karena selama kuliah  aku sering  menghabiskan waktuku untuk bersenag-senang dengan teman-temanku. Jam kuliah yang sangat singkat selalu aku akhiri dengan jalan-jalan, shoping, nonton, ataupun sekedar  nongkrong di café. 

Namun sejak menikah, mau atau tidak mau aku harus menginggalkan kebiasaanku, karena aku sendiri masih tinggal bersama mertua, jadi mau tidak mau aku harus terus bersikap sebagai istri yang dewasa dan melayani suami dengan baik. Dari memasakkan suami agar tidak makan di luar, menyucikan baju dan terus membersihkan rumah. Pernah  sewaktu di awal awal pernikahan, saat itu aku sangat kelelahan pulang dari kampung halamanku, sehingga setelah shalat subuh aku terus tidur sampai menjelang zuhur.  

Malam harinya aku hendak membeli garam di warung sebelah, aku langsung mendengar bisik-bisik tetangga tidak terlalu jelas di pendengaranku, hanya saja kata terakhir yang sangat jelas dipendengaranku adalah,” menantu bu Rina kerjanya makan tidur terus di rumah, sampai rumahnya tidak dibersihkan sama sekali.”

Itu bukan hal pertama, masih banyak lagi cerita-cerita buruk tentangku yang disebarkan mertuaku karena sedikit dikap burukku yang itupun aku tidak sengaja melakukannya, dan bukan kemauanku.
Inilah hal yang membuatku sangat bosan dirumah, sehngga seringkali kebosananku aku lampiaskan dengan meminta hal macam macam pada suamiku.

“Ayo makan mas”
 ajakku sambil menuangkan kuah mie ayam ke mangkuk putih bening dan aku sodorkan padanya.

“Iya, dek “

 jawabnya datar sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah oleh air dengn handuk kecil. Akupun melahap mie ku dan pandanganku mulai fokus pada acara televisi. Hening, hanya ada suara garpu dan sendok, serta acara tv yang kami tonton.

“mas, Dira, sahabat dekatku waktu kuliah dulu, mengundang aku ke acara wisuda s2 nya  lo mas, minggu besok”

Kataku memulai pembicaraan. Namun aku tak mendengar respon apapun.

“mas aku datang gak ya”

 kataku lagi memancing nya agar cemburu padaku sehingga segera meresponku. Dira adalah orang yang sangat aku suka waktu kuliah dulu dan sering aku ceritakan kepada suamiku. Setiap kali suamiku cuek, aku selalu emancingnya dengan menyebut-nyebut nama Dira agar dia cemburu padaku.

“ya terserah”

jawabnya datar. Mendengar jawaban singkatnya,aku langsung meliriknya, ternyata suamiku sedang sibuk dengan ponsel ditangannya. Mood ku yang sudah buruk sejak tadi pagi langsung memuncak

“Mas kamu kapan sih bisa berubah, apa ponsel itu lebih menarik dari aku, sejak pagi aku menunggumu pulang, supaya ada teman ngobrol, tapi begitu kamu pulng kamu hanya bisa jawab iya dan tidak dari apa yang aku katakan. 

Kamu kenapaa sih datar banget jad cowok, kau kira aku gak bosan seharian dirumah gak ada teman ngobrol. Ibu mu juga hanya bisa diamin aku dan ngomongin ak diluar sama tetangga, aku gak bisa kemana-mana karena semua orang memandangku buruk pada ibumu. Aku meninggalan keluargaku yang hangat demi kamu mas, dan aku Cuma punya kamu disini, 

tapi kenapa kamu cuma bisa diam, dan datar. Apa kamu gak pengen berubah demi aku, apa kamu gak kasian sama aku. Sejak kita nikah aku selalu cerewet agar bisa ngobrol sama kamu, tapi ternyata setelah tiga tahun menikah, kamu tetap saja menjadi cowok sekaligus suami yang datar dan monoton buat aku. Aku capek mas kamu kayak gini terus!”

Teriakku sambil membanting pintu kamar dan menguncinya.

Ya seperti itulah aku jika bertengkar atau kesal dengan suamiku, aku akan mengunci kamarku berjam-jam. Bahkan sampai malam, malas rasanya melihat wajah suamiku yang kalem dan datar itu.

“Dek, maafin mas dek” tok..tok..tok.. “

Pintu diketuk dengan lembut dari luar. Aku semakin emosi mendengar kata “dek” terucap dari bibirnya. Sudah berkali-kali aku bilang padanya kalau aku tidak suka dipanggil dek.

Teringat kembali memori di awal-awal aku menikah dengan suamiku, kami yang sama-sama pemalu hanya bisa diam dikamar pengantin kami. Lalu aku memulai pembicaraan demi menghilangkan keheningan

“Mas setelah menikah jangan panggil aku dek ya, apa bedanya aku dengan teman wanita yang lebih kecil darimu diluar sana yang kamu panggil dek, aku bukan adikmu.

“maunya dipanggil apa ? “ tanyanya datar. Ya demikainlah sikap suamiku sejak awal. Dia memang sangat datar.

“menurut  kamu dipanggil apa lo enaknya?”

Tanyaku lagi

“gak tau dek, terserah kamu”

“gimana kalau ‘yank’ aja, biar masih kayak pacaaran, kan kita sama-sama gak pernah pacaran, jadi menikah  adalah pacaran pertama kita, aku dari ddulu lihat orang pacaran pengn banget dipanggil yank”

Jawabku panjang lebar sambil merapikan kerudungku yang belum mau aku lepas, padahal hari itu aku sudah halal menjadi istrinya. Suamiku hanya tersenyum lalu mengangguk. Di malam pertama itu, kami tidak melakukan apapun, juga tidak bicara banyak kata. Kala bukan aku yang mengawali, suamiku tidak akan bicara. Kalaupun ia bicara, maka Ia akan bicara soal agama. Iya kami memang dipertemukan di forum majelis agama.  Kami berteman pun karena saling cocok jika membahas masalah agama, majelis dzikir, akhlak, dan juga syariat. 

 Dari keakraban itulah kami saling berteman dekat. Aku memang tidak menyukainya sama sekali waktu itu, karena aku sendiri sedang naksir dengan teman kuliahku, selain itu aku juga sedang dikelilingi banyak laki-laki yang antri ingin menjadi pacarku, dari yang tampan, humoris, religious, cerdas, dan juga dari golongan bangsawan.  Sehingga laki-lai sejenis suamiku tidak masuk kedalam hatiku sama-sekali waktu itu. 

Namun entah kenapa aku bisa menerimanya untuk menjadi suamiku, aku sendiri tak tahu. Yang jelas, itu adalah kali pertama ia mengajak aku berbicara serius diluar agama karena selama kami kenal dan berteman , tak ada yang kami bahas selain agama, kami juga jarang bertemu kalau bukan di forum majelis dzikir yang kami ikuti.

Waktu itu sekitar 3 bulan kami tidak saling kontak karena kesibukan kuliahku, dan dia entah kemana. Aku sendiri kehilangan kabarnya, dan malas untuk menghubunginya terlebih dahulu. Jadi selama tiga bulan dia tidak menghubungiku aku tidak terlalu menghiraukan.  Waktu itu aku sedang berbaring dikamar sambil sibuk membaca-baca pesan singkat dari  Dira.

 Hari itu aku mendapat pesan darinya untuk hadir di acara pertunangannya dengan seorang wanita yang seorganisasi dengannya. Hatiku sangat sakit dan remuk saat itu. Pikiranku kacau, dan segala macam buku siraman rohani pun tidak ada yang masuk kedalam hatiku. Aku terus membolak-balik pesan itu, hingga lamunanku dibuyarkan oleh sebuah telefon yang tak lain adalah darinya.

“Halo, assalamualaikum, sapaku”

“Waalaikumussalam, mbak zahra apa kabar!”

Sapanya tiba-tiba. Aku mengernyitkan dahaiku, garing sekali pikirku ia bisa menyapaku dengan panggilan mbak dan tiba-tiba menanyakan kabarku. Suasananya kaku seperti kita baru kenal. Biasanya kalau dia telfon, langsung menanyakan posisiku dimana, atau menanyakan tentang pembahasan majelis dzikir yang ia lewatkan, atau  memberi kabar tentang tugas yang diberikan di majelis dzikir. Itupun dengan bahasa yag santai, tidak terlihat tegang dan kaku seperti   pagi itu. Dia pun biasanya memanggilku adek, bukan Mbak.

“Alhamdulillah baik, ada apa mas, kok tiba-tiba telfon Tanya kabar, selama ini kemana saja kok tidak terlihat di kajian agama? Sudah bosan ya, atau lembur terus kerjanya?

Jawabku dengan panjang lebar. Selalunya begitu, dari dulu sampai sekarang, kalau bicara aku selalu berbicara panjang lebar, semetara suamiku yang saat itu hanya sebagai temanku hanya bertanya dan menjawab suatu hal dengan beberapa kalimat saja.
“gini, saya bingung bilangnya, coba kamu buka pesan saya ya, dari tadi saya kirim pesan kamu tidak baca apalagi kamu balas. Assalamualaikum. Tut…tut..tutt…”

Aku mengernyitkan dahiku, laki-laki yang aneh. Habis kena sambet dimana dia, pikirku sambil membuka  pesan masuk darinya. Aku terlalu sibuk galau dengan pikiranku sehingga mengabaikan beberapa pesan masuk di ponselku

            15 messages received

Sampai 15 pesan masuk, aku kira dari siapa, ternyata semua dari mas Arfi.

Assalamualaikum wr wb. Apa kabar mb Zahra, maaf karena sudah lama tidak menghubungimu. Sewaktu ada kajian 3 bulan yang lalu, kamu tidak datang, aku mendengar di kajian, bahwa tidak ada hubungan dekat apapun antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom selain pernikaha, tidak ada persahabatan, tidak ada pertemanan, tidak ada kakak adik an. Dan laki-laki  atau perempuan yang baik akan senantiasa menjaga kesucian  orang yang bukan mahromnya dengan tidak menjalin hubungan dekat apapun.

Intinya seperti itu mbk, dan aku yakin mbak lebih tau itu dari pada aku. Sejak mendengakar kajian itu, aku memutuskan untuk tidak menghubungimu lagi, aku tidak tahu hubungan kita apa, kita erteman, tapi sering kemana-mana bersama. 

Kita pacaran tapi kita tidak pernah membahas hal tentang cinta selama kita bersama, tapi kalaupun kita bukan siapa-siapa, aku sering bermain ke kost mu untuk sekedar bercerita hal yang tidak terlalu penting, jadi dari pada aku berada pada perkara yang syubhat, aku berusaha utnuk menjauhimu tanpa alasan, karena aku kira kamu pasti sudah terlebih dahulu mengetahui alasan-alasan itu, karena kamu kuliah agama, dan tentunya pengetahuan agamamu lebih luas dari aku. 

Namun ternyata, selama aku jauh darimu, aku mersa ada sesuatu yang hilang, rasanya tidak enak, tidak nyaman dan aku begitu sepi, tidak ada teman untuk diajak sharing masalah agama. Hari demi hari aku lalui, dan sampai saat ini aku sudah berada di puncak rasa kehilangan dan sepiku, aku benar-benar membutuhkan kamu. 

Aku memutuskan jika selama tiga bulan aku tidak mampu menahan diri untuk tidak menghubungimu, maka aku harus menikahimu. Karena syariat, entah karena cinta atau bukan, yang jelas karena lillah. Bagaimana menurutmu? Aku tunggu balasanmu”

Membaca 15 pesan beruntut yang ditulis mas Arfi  membuat kepalaku  lelah. Aku sedang malas berfikir, ada apa dengan hatiku aku tak tahu. Aku sama sekali tak menyukai mas Arfi, tapi aku juga sudah terbiasa bersama dengan nya. Memang kalau diingat ingat, selama ini aku kemana-mana selalu dengan mas Arfi, banyak laki-laki yang dekat denganku, tapi yang benar-benar seperti saudara adalah mas Arfi, pernah ketika aku sakit di kos dan tidak ada siapapun yang mampu mengantar karena tidak ada sepeda, mas Arfi langsung menelfonku dan menawarkan bantuan untuk mengantarku ke rumah sakit. Setiap aku Tanya kenapa dia begitu baik padaku, dia selalu menjawab karena kasihan padaku. 

Ya jawaban sederhana, yang memang  sudah cukup bagiku. Kalau dipikir-pikir aku memang sangat membutuhkan mas Arfi, tapi apa menikah hanya cukup dengan modal saling membutuhkan? Rasanya tidak masuk akal. Tapi jika berbicara tentang syariat, memang ubungan tanpa stataus kami jelas dilarang dalam agama islam. Ah entahlah aku pusing. 

Namun tiba-tiba aku tersenyum sendiri mengingat pesan dari seorang Arfi. Ya Arfi yang kukenal sebagai laki-laki yang datar dan monoton, bisa menulis pesan panjang lebar seperti itu. Walaupun dia tidak mengatakan bahwa dia menyukaiku, tapi firasatku dia menyukaiku. Buka aku GR sih , tapi menulis panjang lebar bagi orang yang cuek itu sangat sulit jika tidak disertai alasan yang pas selain karena memang suka.

Aku lalu berfikir untuk mulai menjaihili laki-laki datar ini. Aku ingin lihat apakah sikapnya akan tetap datar jika aku beri ia setruman kecil.

Nanti sore ketemu dimasjid dekat  taman merpati ya”

Jawabku singkat sambil menekan tombol send dan tersenyum jahat. Aku langsung melupakan pikiran galauku dengan menonton film film korea yang semakin haari koleksinya semakin banyak. Sejak kuliah, aku sangat menyukai film korea  tapi dengan actor dan aktris tertentu saja. Kalau bukan actor dan aktris favoritku aku tidak menontonnya. 

Padahal dulu waktu SMA padahal aku sangt tidak menyukai film yang paling booming di Asia itu. Tapi karena sekali mencoa nonto n bersama teman-teman kampus dan pas episodenya bagus, disanalah aku mulai ketagihan, seperti halnya dengan ketagihan kopi, kalau sehari saja tidak nonton, raasanya ada yang kurang. 

Padahal aku tahu agama, tidak memperbolehkan menyukai sesuatu secara berlebihan, apalagi yang menjadi hoby ku aadalah menonton film yang tidak islami.dan malah banyak menunjukkan adegan yang mendekati zina.
Baru 2 episode adzan ashar sudah berkumandang, padahal rasanya baru tadi aku menlaksanakan shalat dzuhur, inilah sihir film korea, Sangking serunya samppai aku lupa waktu tidur siang.

Sore itu  terlihat suram dari biasanya. Mendung hitam yang enggan menurunkan sejuknya hujan di kota Suabaya yang begitu panas, cukup membuat manusia semakin malas untuk melakukan aktifitas apapun diluar.  Panggilan shalat yang sejak tadi bersahut- sahutan pun sedikit sekali yang menghiraukan. 

Panggilan itu lebih seperti suara kucing mengeong meminta makan, dan diabaikan begitu saja, padahal adzan adalah panggilan Allah yang Maha menciptakan semesta, namun suara itu diindahkan dengan mudahnya oleh banyak makhlukNya. Hanya tumbuhan, dan burung-burung yang bergoyang dan berterbangan ke tempat ibadahnya yang sibuk dengan dzikkirnya kepada Sang Khaliq. Sementara manusia yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk malah melalaikan tugasnya sebagai hamba Allah. 

Padahal tidaklah jin dan manusia diciptakan Allah melainkan untuk beribadah kepadaNya. Ah tapi itu hal yang wajar, karena manusianya tidak pernah membaca petunjuk hidupnya dalam Al Qur’an, jadi mana tahu mereka kalau Allah sudah memberitahu hambaNya bahwa mereka diciptakan semata untuk beribadah. 

Dari sekian banyak orang yang mengabaikan panggilan Allah, masih ada beberapa makhlukNya yang mau memenuhi shaf shaf depan dalam shalat ashar di masjid Ulul Albab. Seorang pemuda berjaket hijau muda duduk bersila sambil terus fokus pada dzikir-dzikirnya. Dia bukan mahasiswa kampus yang mampir shalat di masjid, tapi dia pemuda yang sedang memenuhi janji untuk bertemu demi sebuah jawaban.

“Ayolah ukhti, temanin aku sekali lagi untuk bertemu mas Arfi, aku gak ada mahromnya ni ukht”
Rayuku pada ukhti Ran yang sedang sibuk memakai bros hitam di kerudungnya yang menjuntai panjang, dan lebih tampak seperti gorden.

“Aku ada presentasi hari ini ukh, afwan ya, coba kamu ajak mbak Erlin” jawabanya singkat sambil mulai fokus pada buku-buku tebal di meja kos nya. Aku menunduk pasrah. Baiklah, hari ini aku akan menemuinya sendiri, dan menjalankan ide jahilku itu. Dengan pakaian seadanya, berbalut kerudung hijau muda, aku  berjalan santai menuju masjid dekat kampusku. Di jalan aku berfikir bagaimana aku akan memulai ide ku itu. Sampai tanpa sadar aku sudah  berada di gerbang masjid, dan dari jauh sudah terlihat sosok mas Arfi yang berwajah kalem itu.

Seperti biasanya, kami duduk dengan mengambil jarak sekitar 2 meter untuk berbicara, tentunya di tempat yang tidak terlalu ramai, agar apa yang kami sampaikan terdengar satu sama lain. KSetelah salam, kami tidak ada yang memulai satu katapun, aku yakin mas Arfi malu dengan pesan singkatnya yang dikirimkan padaku pagi tadi.

 Pesannya sama sekali tidak menyimbolkan dirinya yang terlalu datar dan monoton, selama ini jika diajak berbicara pun selalu singkat-singkat saja, tak seperti pesan panjang yang dikirimkan melalui sms tadi pagi. Aku geli sendiri dengan keanehan mas Arfi. Namun ada debaran halus menyelinap dalam diriku saat itu, mengingat apakah pesan itu menandakan kalau mas Arfi menyukaiku.

“Jadi gini mas, kalau alasan seperti itu yang mas berikan pada saya yang membuat mas gak berani untuk menghubungi saya memang karena Allah, dan membuat mas mengajak saya menikah juga karena Allah, sekarang saya tantang mas Arfi. Jika memang benar apa yang mas katakana semua karena Allah. Tolong mulai urus pernikahan kita mulai besok. Aku ingin membuktikan kalau niatmu memang karena Allah.

 Mulai dari bicara ke ayahku, persiapan biaya, waktu pernikahan dan surat-surat yang harus diurus. Kau jangan memikirkan biayanya, kalau memang niatmu karena Allah, akupun akan mebantu niatmu karena Allah pula. Aku tidak akan meminta pernikahan besar dengan resepsinya. 

Cukup halalkan saja aku dengan akad yang katamu Lillah itu. Apa kamu berani!?”

Jawabku dengan nada agak tegas, untuk menakut-nakutinya, sekaligus menjahilinya dan mengetes keimanannya. Aku sudah terlalu sering mendengar kata-kata ingin menikahimu karena Allah, tapi setelah aku tantang untuk menikah, mereka akan bingung dan mulai melangkah mundur. Dikiranya aku wanita bodoh yang mau saja di rayu dengan rayuan yang membawa-bawa Allah.

“tok..tok..tok.. dek, maafin mas dek, ayo buka pintunya”

Sura ketokan pintu membuyarkan lamunanku pada masa lalu, diawal awal kami memutuskan untuk menikah. Ya, saat dimana pertama kali suamiku berkata sedikit panjang lebar kepadaku, yaitu kata-kata dalam sms nya yang mengajakku untuk menikah. Itulah kali pertama dan terakhir dia berkata tidak datar padaku. Tapi setelah itu, bahkan setelah kami menikah, dia selalu datar dan monoton. Aku sangat bosan dan mulai lelah padanya. Karena selama ini jika berkomunikasi akulah yang selalu agresif bicara panjang lebar padanya. Aku mendiamkannya yang terus mengetok pintu ,hingga suara ketokan dan gerak gerik suamiku tak terdengar dari luar pintu.

Rintik-rintik hujan membangunkanku dari tidurku. Astaghfirullah, magrib kurang 5 menit lagi akan habis, dan aku tertidur sore tadi. Alangkah buruknya tetidur pada sore hari. Aku baru tersadar bahwa aku tertidur dalam keadaan tidak berdamai dengan suamiku,akhirnya aku memutuskan untuk berjalan mengendap-endap kekamar mandi untuk wudhu. Namun usahaku untuk mengendap-endap sia-sia karena tanpaknya tidak ada suamiku dirumah. Emosiku memuncak lagi, kok bisa dia meninggalkan aku dalam keadaan ngambek, dan tidak berusaha merayuku atau membangunkanku. 

Kalaupun  tidak bisa membuka pintu, setidaknya ia berusaha memanjat pintu untuk membuka kunci dari ventilasi udara diaatas pintu. Atau bahkan mendobrak pintu dengan paksa karena kuatir orang yang dicintainya bunuh diri atau kenapa-kenapa di dalam. Ya seperti film-film korea yag ku lihat, ketika orang yang dicintai mengurung diri di kamar, tak ada jawaban saat dipanggil,, maka oa aakan berusaha merayu dengan berusaha mendobrak pintu, atau menyanyi lagu-lagu cinta di depan pintu kamar, atau terus mengancam duduk di depan pintu tanpa makan dan minum sampai yang dicintainya keluar.

 Tapi suamiku justru makan dengan lahapnya, karna kulihat nasi di dalam megicom yang isinya tadi tinggal separuh lebih, sekarang tinggal se entong saja.  Dia juga tidak menungguku di depan pintu sampai aku keluar, tapi justru malah keluar rumah dengan tenangnya.

Aku semakin marah dan masuk kamar lagi, tepat ketika aku mendengar suara motornya memasuki halaman rumah. Kali ini pintu tak ku kunci berharap dia masuk dan merayuku agar tidak marah, dan akupun bergeletak dikamar dengan memasang wajah pucat berpura-pura tergeletak di sajadah bawah tempat tiur, agar dikira aku benar-benar sakit, dan berharap ia lebih memperhatikanku lagi. Apa yang aku lakukan memang telrihat sangat bdoh dan kekanak-kanakan, tapi inilah aku. 

Aku memang masih berumur muda untuk menikah, bukankah hal wajar jika aku menggunakan segala macam cara untuk mencari perhatian suamiku sendiri. Dulu saja sebelum menikah,kalah aku sakit, suamiku yang waktu itu hanya teman langsung bergegas ke kostku untuk menolongku. Bukankah setelah menikah ia seharusnya semakin kawatir padaku.

“kreek”

suara pintu dibuka, dan aku memulai aktingku dengan ata masih terpejam, tapi ak mendengar jelas aktifitas suamiku. Tampaknya ia tak langsung kaget melihatku tergeletak di lantai, ia malah membaca Al Qur’an agak  lama, lalu mengganti baju koko nya, lalu  menggendongku dan memindahkanku ke kamaar tidur atas, kemudian mematikan lampu lalu keluar kamar lagi.
Entah apa yang harus aku ungkapkan  dengan sifat suamiku ini, rasanya aku sudah tidak tahan dengan sikapnya yang begitu datar.

Hingga pada puncaknya, pada tanggal 15 Februari, tepat pada hari ulangtahunku aku memutuskan untuk melarikan diri dari rumah. Di awali dengan pertengkaran hebat kami di malam hari.

Saat itu aku bercerita  tentang sikap mertuaku yang terus saja  menjelek-jelekkan aku di tetangga hingga aku benar-benar kesal dan meminta suamiku untuk tinggal di rumah kos. Namun suamiku menolak ermintaanku mentah-mentah, bahkan bentakan dari mulutnya yang basanya kalem itu disemprotkan ke depan wajahku.

“Otakmu dimana, aku tahu aku belum bisa ngasih rumah sendri untuk kamu, tapi selama ini apa yang kamu minta selalu aku turuti, selain tempat tinggal, karena memang kondisinya tidak ada.  Sekanng kamu pikir paai otak, kalau kita ngontrak, biaya hidup akan semakin tinggi, sedangkan kamu tahu gajiku pas psan untuk itu, apa kamu gak bisa bersabar, biar begitu dia juga ibu yang melahirkanku, kamu tahu agama, tai kenapa kamu mekasa aku untuk durhaka pada ibumu, mana ilmu agama yang kamu miliki waktu kamu kuliah dulu, hah!”

Bentakannya demikian kejam hingga melukai hatiku. Aku merasa dihina,dengan menyangkutpautkan pengetahuan agama dan kuliahku. Padahal aku sama sekali tak memintanya untuk durhaka, aku justru memintanya untuk memisahkan diri dari orangtuanya semata-mata bukan karena aku tidak betah digosipin kejeleknnya, tapi juga karena aku tidak mau terus bersikap kaku dengan mertuaku karena tinggal satu rumah, 

aku merasa justru dengan aku tinggal disini,membuatku secara tidak langsung mengajak suamiku terus durhaka pada ibunya, karena aku selalu minta diperhatikannya, sementara ibunya juga selalu memintainya tolong disaat bersamaan denganku, kalau suamiku menurutiku otomatis dia durhaka pada perintah ibunya, namun jika tidak menurutiku maka aku juga akan terus jengkel. 

Aku tidak mau hal semacam itu terjadi. Toh ibuku masih mempunyai suami yang masih kuat tenaganya, usianya juga belum terlalu tua, berkisar 50 an, dan masih akrab dengan peralatan make up seperti lipstick dan bedak.  Tapi suamiku malah tidak mau mendengar penjelasanku dan berjalan pergi  meninggalkanku dalam kesendirian dan kesepian di kamar yang sempit ini.

Aku terus menangis semalaman, dank u dengar suara suamiku malah mengobrol asik dengna mertuaku di kamar sebelah. Air mataku semakin tak terbendung, sehingga aku memutuskan untuk merapikan bajuku dan ketika suamiku masih tertidur, pada dini hari, ditemani dinginnya udara yang masih berpindah daari udara malam ke pagi, aku berjalan gontai menuju terminal bus antar provinsi. Tujuanku mantap untuk pulang ke bogor, di kampung halamanku.

“ Mbak Zahra, dari tadi ponselmu berdering ! “teriak seseorang yang tak lain adalah adikku.

 Aku yang masih asyik menggoreng pisang bersama ibu, segera berlari keruang tengah. Sudah 5 hari aku melarikan diri dari rumah, dan hal mengecewakan yang harus aku terima adalah, selama itu suamiku ataupun keluarga suamiku tak ada yang menhubungiku  sedikitpun. Awal-awal aku pulang ke Bogor aku terus meratapi nasibku yang ditelantarkan suamiku.  

Alangkah teganya dia membiarkanku kabur, apakah tak ada sedikitpun rasa kuatir dalam dirinya, atau jangan-jangan suamiku sudah memiliki tambatan hati yang lain. Namun pikiran-pikiran buruk itu semakin hari semakin bisa aku tepis, seiring kediamanku di rumah kelahiranku, yang membuat aku menikmatinya dan melupakan kesedihanku.

Tidak, aku bukanlah istri durhaka yang meninggalkan suamiku begitu saja, tapi ak pergi untuk menyadarkan suamiku betapa pentingnya komunikasi dalam hubungan kami.Aku ingin tahu seberapa pentingnya aku dimata suamiku, namun sampai 5 hari ini suamiku tak juga menghubungiku. 

Demikianlah aku membela diriku kala kata-kata istri durhaka itu terngiang di kepalaku.
Aku langsung meraih ponselku, berharap suamiku yang menghubungi. Aku tidak merindukan suamiku sama sekali, karena kami menikah pun bukan berdasarkan cinta, tapi lillah, karena Allah, sesuai ucapan suamiku saat  pertama kali mengajakku menikah.

 Memang sejak awal menikah, aku belum bisa merasakan cinta yang bergejolak kepada suamiku, Bagaimana bisa aku mencintai suami yang datar, aku hanya menganggapnya sebagai pelindungku, kakakku, atau teman berbagi perihal agama.

089734xxxx

Nomor tak dikenal. Pupus sudah harapanku ketika yang tertera di layar ponsel bukan nomor  suamiku.

“Hallo Assalamualaikum”

Sapa suara berat seorang laki-laki dari sebrang

“Wa’alaikumussalam wr wb, siapa ?”

Tanyaku datar, menirukan gaya bicara suamiku. 

“Maaf ini, Abdul temannya Arfi, ini istrinya ya?”

“Iya”

“Wah, mohon maaf saya baru tahu kalau Arfi mau dioperasi, selama ini seperti orang yang tidak punya penyakit. Kalau boleh tau Arfi mau dioperasi di rumah sakit mana?”
Tanya suara dari sebrang. Aku terdiam. Pikiranku menerawang, ini orang salah sambung atau memang temannya mas Arfi

“Maaf ini teman mas Arfi yang mana?”

Tanyaku tanpa merespon pertanyaan dari sebrang

“Saya teman majelis dzikirnya, sudah 3 hari nomor mas Arfi tidak bisa dihubungi, dan Kamis kemarin tidak datang majelis dzikir. Saya kira kenapa, ternyata tadi baru denga dari teman kerjanya kalau dia mau dioperasi, kalau boleh tau dioperasi dimana?”

Aku terdiam, tak mampu berkata apapun. Disatu sisi aku sangat kawatir karena suamiku ternyata sedang sakit parah, disisi lain aku  malu pada diriku yag sebagai istrinya malah tidak mengetahui kondisi suamiku, aku juga bingung harus menjawab apa atas pertanyaan temannya.

“Di rumah sakit dekat sini.Assalamualaikum” tut..tut..tut…

Aku langsung menutup telefon setelah menjawab sekenanya. Lalu segera masuk kamarku dan terduduk lemas disana. Perlahan air mataku mulai mengalir. Ternyata selama ini aku salah sangka pada suamiku. Aku kira dia tidak menghubungiku karena benar-benar tidak memperdulikanku. Istri macam apa aku ini, yang bisa tinggal tenang meninggalkan suamiku. 

Kalau ibuku tahu aku pulang ke Bogor karena kabur dari rumah, dan bukan karena sedang liburan, pasti ibuku akan marah. Aku sangat mengkawatirkan suamiku, tapi aku juga malu untuk menemuinya. Sedang sakit apa dia sehingga harus dioperasi, bagaimana kondisinya. 

Bayang-bayang suamiku terus menghantuiku. Suaranya yang kalem, sifatnya yang datar dan cuek, serta niat lillahnya yang menikahiku pertama kali. Mana bisa aku menemui laki-laki yang menikahiku karena Allah di zaman sekarang ini. Orang berusaha mencari lelaki yag tahu agama agar bisa membimbingnya, dan senantiasa bisa diajak berjalan lurus, aku malah membuangnya dengan mudah.

Selama ini aku hanya  melihat sisi negatifnya sebagai suami. Dia selalu datar, dia cuek, dia tidak banyak bicara jika bukan aku yang memulai. Tapi dibalik sifat datarnya itu, dia suami yang sabar. Dia selalu menuruti apa yang kuminta, dari makanan, pakaian, jalan-jalan jika suami libur kerja.

 Hanya satu yang tak bisa ia lakukan untukku, yaitu tinggal mandiri, memisahkan diri dari ibu mertua. Dan hanya karena satu permintaanku yang tak dituruti aku sudah marah padanya. Padahal selama ini, sesibuk apapun ia kerja, jika aku minta pulang, dan meimijat badanku yang pegal pegal selama 
berjam-jam ia akan menurutinya.

Aku tidak boleh berlama-lama disini, sebelum aku meyesal, atau aku mendapat gelar istri durhaka dimata Allah, maka merugilah aku. Sia-sia ilmu agama yang aku pelajari sampai tingkat universitas selama ini. Apa bedanya aku dengan orang yang tidak tahu agama dan kerjanya hanya meminta-minta di pinggir jalan.

Hari itu juga aku lngusng pamit pada ibu untuk kembali ke Surabaya, dengan alasan ada kerjaan mendadak. Pikiranku sudah tidak karuan, aku takut terjadi sesatu pada suamiku. Bagaimana kalau sampai suamiku kenapa-kenapa, dan aku belum sempat menemuinya, dan meminta maaf padanya, lalu aku jadi stress dan bunuh diri seperti pada film-film korea yang aku lihat. Aku tidak mau hal itu terjadi. Pikiranku terus sibuk menerawang suamiku, tanpa memperdulikan bus yang melaju dengan kencangnya.

Setelah beberapa menit naik gojek dari terminal bus, aku sampai di rumah mertuaku. Rumah mertuaku masih sama seperti  saat aku meninggalkannya. Tampaknya sepi dari luar, mungkin penghuninya kerumah sakit semua.

 Aku memutuskan untuk menaruh barang-barangku dikamar, lalau nekat bertanya pada tetanggaku mengenai rumah sakit tempat suamiku di raawat. Aku tidak memperdulikan algi rasa malu dalam diriku, biar mereka berkata istri macam apa aku,yang penting saat ini aku bisa bertemu suamiku , mas Arfi.

“kreek”… pintu kamar terbuka. Dan hampir saja aku terjatuh dilantai karena kaget. Melihat sesosok tubuh lemas terbujur di tempat tidur. Aku seperti mimpi, melihat suamiku ada di depan mataku. Dia dalam kondisi baik.

 Kuraba sekujur tubuhnya perlahan, barangkali ada bagian tubuhnya yang memiliki bekas luka. Aku perhatikan wajahnya yang sejak tadi memejamkan mata.  Tak tahan aku membendung perasaanku. Entah ini rindu atau apa. Kalau rindu, bukankah selama ini aku tak mencintainya, lalu kenapa aku harus rindu. Aku mengabaikan gejolak hatiku dan memeluk tubuhnya yang masih terbaring.

“Alhamdulillah, kamu akhirnya pulang dek”

Suara kalem itu membuatku langsung sadar dan terduduk kaku.

“Kamu tidak apa-apa mas?”

Tanyaku balik. Suamiku tak menjawab, lalu ia duduk dan memeluk tubuhku. Kurasakan bahuku basah dengan air matanya.

“Kamu kemana saja dek, jangan tinggalin mas lagi ya, maaafin mas udah bentak kamu waktu itu. Mas gak papa dek, mas hanya kecelakaan kecil waktu mas nyari kamu, tapi kecelaaan itu membuat hp mas hilang” Ujar jawab suamiku

“jangang tinggalin mas lagi ya”

Kata suamiku. Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi, dari telfon temannya, operasi, hingga kecelakaan. Namun aku memilih diam, dan menikmati pelukannya padaku. Kurasakan betapa berharganya aku bagi suamiku. 

Aku masih diam saja saat tiba-tiba suamiku melepaskan pelukanku, lalu berdiri agak kepayahan untuk mendekati almari disebelahnya. Ia  mengeluarkan isi lemari berupa tas plastic merah dan menyodorkan padaku.

“Selamat ulang tahun ya dek, maaf mas terlambat ngucapin. Cuma ini yang bisa mask ash sama kamu. Maafin mas. Waktu itu mas bingung sekali mau kasih kamu kado apa. Waktu kamu ngambek sampai tertidur sore, mas menjadikan itu kesempatan untuk membelikan kamu kado yang kamu sukai. Mas membelikan kerudung cantik sebagai kado untukmu

Namun esok harinya, mas sempat denga kamu bilang kalau kerudung kamu banyak dan ingin memberikannya pada saudaramu di Bogor. Akhirnya malam waktu kita  bertengkar dan kamu tertidur, mas keluar lagi untuk membelikan kamu sepatu.

Tapi waktu mas iseng buka ponselmu, mas lihat chat mu dengan teman-teman, kalau kamu gak suka pakai  sepatu. Akhirnya mas bngung dan ngobrol-ngobrol sama Ibu. Kata ibu dari pada aku repot-repot belikan kamu kado seperti anak kecil, belikan saja aku coklat yang disusun menjadi kue ulangtahun. Kata ibu aku sangat menyukai coklat.

Namun setelah itu, mas gak nyangka kalau paginya kamu meninggalkan mask arena mas membentakmu. Iya mas yang salah, karena tidak bisa jauh dari ibu mas. Mas yang salah, kalau adek minta ngontrak sekarang juga akan mas turuti, tapi jangan tinggalan mas ya”

Katanya kalem sambil membkakan kaos kaki yang masih aku kenakan. Entah apa yang bisa aku katakana saat itu. Aku hanya diam, terhau, bahagia, juga malu pada sikapku yang terlalu kekanak-kanakan dan terlalu terobsesi pada film-film korea yang aku lihat. Ini adalah kehidupan nyata bukan kehidupan film korea,

Bukankah hanya dengan pelukan dan kata “jangan tinggalkan aku lagi” dari  suamiku saat melihat aku kembali sudah sangat indah bagiku, daripada romantisme film korea yang tidak nyata. Bagaimana mungkin aku tidak mensyukuri nikmat Allah berupa suamiku. Ya saat itu juga aku sadar bahwa aku mencintai suamiku

. Suamiku yang datar, kalem, tak banyak bicara. Tapi selalu membuktikan cintanya dengan cara melindungiku dan berusaha membahagiakanku, bukan hanya dengan kata-kata romantis dari mulut aatau ikatan bunga dan kecupan manis yang diberikan setiap saat tanpa ada pembuktian.

Malam itu juga suamiku bercerita panjang lebar padaku, dan pertama kali aku melihat dia sangat cerewet saat bercerita. Dia menceritakan betapa malunya ia membelikan aku kado kerudung di toko muslimah yang pembelinya hampir semua wanita.

 Ia juga bercerita bagaimana ia  diam-diam mengukur ukuran sepatuku dengan penggaris, karena nomor ukuran sepatuku yang sudah tak terlihat. Lalu ia juga bercerita betapa kagetnya ia saat melihat aku tergeletak di bawah tempat tidur. Namun ia berusaha tenang agar kuat menggendong tubuhku yang semakin mengembang sejak menikah, tanpa membuatku terbangun karena ia keberatan menggedongnya.

 Sampai  peristiwa pagi itu saat dia mencariku hingga kecelakaan kecil,yang membuatnya masuk ke rumah sakit. Namun sampai di rumah sakit, bukan luka suamiku yang menjadi perhatian dokter, namun benjolan kecil di selangkangan suamiku yang saat itu terlihat jelas, karena dokter membuka celananyauntuk membersihkan luka di lututnya.

Ternyata suamiku terkena hernia. Namun tidak berbahaya, karena masih kecil dan sudah terdeteksi. Sehingga hari itu juga suamiku dioperasi.  Alhamdulillah di tempat kerja suamiku ada BPJS nya, sehingga suamiku tidak tertahan karena kesulitan biaya, dan bisa pulang esok harinya setelah dioperasi. Saat mertuaku dan tetanggaku bergantian menungguinya di rumah sakit,  banyak yang menanyakan keberadaanku. Dan suamiku dengan baiknya menjawab bahwa aku sedang ada urusan keluarga mendadak di Bogor sehingga harus  pergi pagi itu. 

Ia benar-benar menutupi kekuranganku sebagi istri yang telah jahat meninggalkannya hanya karena masalah kecil. Pantas saja sikap orang rumah, dan tetangga biasa saja saat melihatku, dan tidak memandangku buruk dengan mengungkit-ungkit  kepergianku pagi itu.

Saat mendengar cerita-cerita suamiku yang panjang itu, aku terus memperhatikan suamiku. Gurat lelah diwajahnya tampak terlihat di wajahnya, namun tak ia rasa. Ia juga berulang kali menguap namun ditahannya demi bisa bicara banyak padaku. Lalu kami menutup pembicaraan kami malam itu dengan shlat isya berjama’ah, karena suamiku masih belum bisa berjalan ke masjid, dengan luka diselangkangannya yang belum terlalu kering.

 Malam itu juga aku menyadari bahwa aku mulai mencintai suamiku. Jika ia mencintaiku lillah, maka akupun akan mencintainya lillah karena Allah. Walaupun Lillah nya tak semanis film-film korea yang kulihat.











0 Response to "Lillahmu Tak Semanis Film Korea (cerpen)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel