Lillahmu Tak Semanis Film Korea (cerpen)
Tuesday, September 10, 2019
Add Comment
oleh Fitria NF
Sore ini masih tampak cerah dengan hembusan angin siang yang sudah tercampur dinginnya angin malam. Aku meneguk kopi hitamku di beranda halaman rumahku yang begitu sejuk untuk dibuat bersantai. Mataku menatap ke arah majalah yang ada ditanganku, sementara pikiranku menerawng kemana-mana. Penuh dengan ke gaalauan dan ketidak pastian.
Yang jelas dalam pikiranku yang sumpek itu telah dipenuhi dengan bayangan suamiku, dan juga bayangan tepat-tempat menarik yang ingin aku kunjungi. Hari ini tanggal 12 Februari,3 hari lagi adalah hari ulangtahunku. Aku menginginkan sesuatu yang special di hari itu. Walaupun aku sudah menikah, namun umurku masih cukup muda.
Aku masih berumur 21 tahun pada usia pernikahanku yang mau menginjak 3 tahun. Mungkin ini salah satu hal yang menyebabkan aku berpikir seperti gadis seumuranku, ingin traveling, shoping, dan selalu mengidamkan kisah kisah romantic seperti di film-film yang sering aku tonton. Namun kenyataannya, semua yang ku inginkan itu tak bisa aku dapatkan 3 tahun belakangan ini. Tepatnya sejak aku menikah dengan suamiku.
“Assalamu’alaikum !”
Suara kalem seorang laki-laki mengagetkanku yang masih tenggelam dalam lamunanku, walaupun matakau masih tetap sibuk melihat majalah yang aku baca.
“Wa’alaikumussalam”
jawabku sambil bangkit dari duduk seraya
mndekati dan mencium tangan laki-laki
kalem yang tak lain suamiku. Hatiku berbunga menyambut kedatangannya, kebosanan
dan rasa kesepianku akan sirna dengan datangnya suamiku, itulah yang ada di
benakku.
Aku segera
mengikuti suamiku masuk, dan dengan sigap membuka bungkusan yang di bawanya.
Memang sebelum berangkat kerja aku sudah berpesan pada suamiku, agar pulang
membawa mie ayam favoritku. Demikianlah aktifitasku sehari-hari di rumah
suamiku. Sejak cuti kuliah, aku merasakan kebosanan yang luar biasa, karena
selama kuliah aku sering menghabiskan waktuku untuk bersenag-senang
dengan teman-temanku. Jam kuliah yang sangat singkat selalu aku akhiri dengan
jalan-jalan, shoping, nonton, ataupun sekedar
nongkrong di café.
Namun sejak menikah, mau atau tidak mau aku harus menginggalkan kebiasaanku, karena aku sendiri masih tinggal bersama mertua, jadi mau tidak mau aku harus terus bersikap sebagai istri yang dewasa dan melayani suami dengan baik. Dari memasakkan suami agar tidak makan di luar, menyucikan baju dan terus membersihkan rumah. Pernah sewaktu di awal awal pernikahan, saat itu aku sangat kelelahan pulang dari kampung halamanku, sehingga setelah shalat subuh aku terus tidur sampai menjelang zuhur.
Malam harinya aku hendak membeli garam di warung sebelah, aku langsung mendengar bisik-bisik tetangga tidak terlalu jelas di pendengaranku, hanya saja kata terakhir yang sangat jelas dipendengaranku adalah,” menantu bu Rina kerjanya makan tidur terus di rumah, sampai rumahnya tidak dibersihkan sama sekali.”
Namun sejak menikah, mau atau tidak mau aku harus menginggalkan kebiasaanku, karena aku sendiri masih tinggal bersama mertua, jadi mau tidak mau aku harus terus bersikap sebagai istri yang dewasa dan melayani suami dengan baik. Dari memasakkan suami agar tidak makan di luar, menyucikan baju dan terus membersihkan rumah. Pernah sewaktu di awal awal pernikahan, saat itu aku sangat kelelahan pulang dari kampung halamanku, sehingga setelah shalat subuh aku terus tidur sampai menjelang zuhur.
Malam harinya aku hendak membeli garam di warung sebelah, aku langsung mendengar bisik-bisik tetangga tidak terlalu jelas di pendengaranku, hanya saja kata terakhir yang sangat jelas dipendengaranku adalah,” menantu bu Rina kerjanya makan tidur terus di rumah, sampai rumahnya tidak dibersihkan sama sekali.”
Itu bukan hal pertama, masih banyak lagi cerita-cerita buruk tentangku yang disebarkan mertuaku karena sedikit dikap burukku yang itupun aku tidak sengaja melakukannya, dan bukan kemauanku.
Inilah hal yang membuatku sangat
bosan dirumah, sehngga seringkali kebosananku aku lampiaskan dengan meminta hal
macam macam pada suamiku.
“Ayo makan mas”
ajakku sambil menuangkan kuah mie ayam ke
mangkuk putih bening dan aku sodorkan padanya.
“Iya, dek “
jawabnya datar sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah oleh air dengn handuk kecil. Akupun melahap mie ku dan pandanganku mulai fokus pada acara televisi. Hening, hanya ada suara garpu dan sendok, serta acara tv yang kami tonton.
“mas, Dira, sahabat dekatku waktu kuliah dulu, mengundang aku ke acara wisuda s2 nya lo mas, minggu besok”
Kataku memulai pembicaraan. Namun aku tak mendengar respon apapun.
“mas aku datang gak ya”
kataku lagi memancing nya agar cemburu padaku sehingga segera meresponku. Dira adalah orang yang sangat aku suka waktu kuliah dulu dan sering aku ceritakan kepada suamiku. Setiap kali suamiku cuek, aku selalu emancingnya dengan menyebut-nyebut nama Dira agar dia cemburu padaku.
“ya terserah”
jawabnya datar. Mendengar jawaban singkatnya,aku langsung meliriknya, ternyata suamiku sedang sibuk dengan ponsel ditangannya. Mood ku yang sudah buruk sejak tadi pagi langsung memuncak
“Mas kamu kapan sih bisa berubah, apa ponsel itu lebih menarik dari aku, sejak pagi aku menunggumu pulang, supaya ada teman ngobrol, tapi begitu kamu pulng kamu hanya bisa jawab iya dan tidak dari apa yang aku katakan.
Kamu kenapaa sih datar banget jad cowok, kau kira aku gak bosan seharian dirumah gak ada teman ngobrol. Ibu mu juga hanya bisa diamin aku dan ngomongin ak diluar sama tetangga, aku gak bisa kemana-mana karena semua orang memandangku buruk pada ibumu. Aku meninggalan keluargaku yang hangat demi kamu mas, dan aku Cuma punya kamu disini,
tapi kenapa kamu cuma bisa diam, dan datar. Apa kamu gak pengen berubah demi aku, apa kamu gak kasian sama aku. Sejak kita nikah aku selalu cerewet agar bisa ngobrol sama kamu, tapi ternyata setelah tiga tahun menikah, kamu tetap saja menjadi cowok sekaligus suami yang datar dan monoton buat aku. Aku capek mas kamu kayak gini terus!”
Teriakku sambil membanting pintu kamar dan menguncinya.
Ya seperti itulah aku jika bertengkar atau kesal dengan suamiku, aku akan mengunci kamarku berjam-jam. Bahkan sampai malam, malas rasanya melihat wajah suamiku yang kalem dan datar itu.
“Dek, maafin mas dek” tok..tok..tok.. “
Pintu diketuk dengan lembut dari luar. Aku semakin emosi mendengar kata “dek” terucap dari bibirnya. Sudah berkali-kali aku bilang padanya kalau aku tidak suka dipanggil dek.
Teringat kembali memori di awal-awal aku menikah dengan suamiku, kami yang sama-sama pemalu hanya bisa diam dikamar pengantin kami. Lalu aku memulai pembicaraan demi menghilangkan keheningan
“Mas setelah menikah jangan panggil aku dek ya, apa bedanya aku dengan teman wanita yang lebih kecil darimu diluar sana yang kamu panggil dek, aku bukan adikmu.
“maunya dipanggil apa ? “ tanyanya datar. Ya demikainlah sikap suamiku sejak awal. Dia memang sangat datar.
“menurut kamu dipanggil apa lo enaknya?”
Tanyaku lagi
“gak tau dek, terserah kamu”
“gimana kalau ‘yank’ aja, biar masih kayak pacaaran, kan kita sama-sama gak pernah pacaran, jadi menikah adalah pacaran pertama kita, aku dari ddulu lihat orang pacaran pengn banget dipanggil yank”
Jawabku panjang lebar sambil merapikan kerudungku yang belum mau aku lepas, padahal hari itu aku sudah halal menjadi istrinya. Suamiku hanya tersenyum lalu mengangguk. Di malam pertama itu, kami tidak melakukan apapun, juga tidak bicara banyak kata. Kala bukan aku yang mengawali, suamiku tidak akan bicara. Kalaupun ia bicara, maka Ia akan bicara soal agama. Iya kami memang dipertemukan di forum majelis agama. Kami berteman pun karena saling cocok jika membahas masalah agama, majelis dzikir, akhlak, dan juga syariat.
Dari keakraban itulah kami saling berteman dekat. Aku memang tidak menyukainya sama sekali waktu itu, karena aku sendiri sedang naksir dengan teman kuliahku, selain itu aku juga sedang dikelilingi banyak laki-laki yang antri ingin menjadi pacarku, dari yang tampan, humoris, religious, cerdas, dan juga dari golongan bangsawan. Sehingga laki-lai sejenis suamiku tidak masuk kedalam hatiku sama-sekali waktu itu.
Namun entah kenapa aku bisa menerimanya untuk menjadi suamiku, aku sendiri tak tahu. Yang jelas, itu adalah kali pertama ia mengajak aku berbicara serius diluar agama karena selama kami kenal dan berteman , tak ada yang kami bahas selain agama, kami juga jarang bertemu kalau bukan di forum majelis dzikir yang kami ikuti.
Waktu itu sekitar 3 bulan kami tidak saling kontak karena kesibukan kuliahku, dan dia entah kemana. Aku sendiri kehilangan kabarnya, dan malas untuk menghubunginya terlebih dahulu. Jadi selama tiga bulan dia tidak menghubungiku aku tidak terlalu menghiraukan. Waktu itu aku sedang berbaring dikamar sambil sibuk membaca-baca pesan singkat dari Dira.
Hari itu aku mendapat pesan darinya untuk hadir di acara pertunangannya dengan seorang wanita yang seorganisasi dengannya. Hatiku sangat sakit dan remuk saat itu. Pikiranku kacau, dan segala macam buku siraman rohani pun tidak ada yang masuk kedalam hatiku. Aku terus membolak-balik pesan itu, hingga lamunanku dibuyarkan oleh sebuah telefon yang tak lain adalah darinya.
“Halo, assalamualaikum, sapaku”
“Waalaikumussalam, mbak zahra apa kabar!”
Sapanya tiba-tiba. Aku mengernyitkan dahaiku, garing sekali pikirku ia bisa menyapaku dengan panggilan mbak dan tiba-tiba menanyakan kabarku. Suasananya kaku seperti kita baru kenal. Biasanya kalau dia telfon, langsung menanyakan posisiku dimana, atau menanyakan tentang pembahasan majelis dzikir yang ia lewatkan, atau memberi kabar tentang tugas yang diberikan di majelis dzikir. Itupun dengan bahasa yag santai, tidak terlihat tegang dan kaku seperti pagi itu. Dia pun biasanya memanggilku adek, bukan Mbak.
“Alhamdulillah baik, ada apa mas, kok tiba-tiba telfon Tanya kabar, selama ini kemana saja kok tidak terlihat di kajian agama? Sudah bosan ya, atau lembur terus kerjanya?
Jawabku dengan panjang lebar. Selalunya begitu, dari dulu sampai sekarang, kalau bicara aku selalu berbicara panjang lebar, semetara suamiku yang saat itu hanya sebagai temanku hanya bertanya dan menjawab suatu hal dengan beberapa kalimat saja.
“gini, saya
bingung bilangnya, coba kamu buka pesan saya ya, dari tadi saya kirim pesan
kamu tidak baca apalagi kamu balas. Assalamualaikum. Tut…tut..tutt…”
Aku mengernyitkan dahiku, laki-laki yang aneh. Habis kena sambet dimana dia, pikirku sambil membuka pesan masuk darinya. Aku terlalu sibuk galau dengan pikiranku sehingga mengabaikan beberapa pesan masuk di ponselku
15 messages received
Sampai 15 pesan masuk, aku kira dari siapa, ternyata semua dari mas Arfi.
“Assalamualaikum wr wb. Apa kabar mb Zahra, maaf karena sudah lama tidak menghubungimu. Sewaktu ada kajian 3 bulan yang lalu, kamu tidak datang, aku mendengar di kajian, bahwa tidak ada hubungan dekat apapun antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom selain pernikaha, tidak ada persahabatan, tidak ada pertemanan, tidak ada kakak adik an. Dan laki-laki atau perempuan yang baik akan senantiasa menjaga kesucian orang yang bukan mahromnya dengan tidak menjalin hubungan dekat apapun.
Intinya seperti itu mbk, dan aku yakin mbak lebih tau itu dari pada aku. Sejak mendengakar kajian itu, aku memutuskan untuk tidak menghubungimu lagi, aku tidak tahu hubungan kita apa, kita erteman, tapi sering kemana-mana bersama.
Kita pacaran tapi kita tidak pernah membahas hal tentang cinta selama kita bersama, tapi kalaupun kita bukan siapa-siapa, aku sering bermain ke kost mu untuk sekedar bercerita hal yang tidak terlalu penting, jadi dari pada aku berada pada perkara yang syubhat, aku berusaha utnuk menjauhimu tanpa alasan, karena aku kira kamu pasti sudah terlebih dahulu mengetahui alasan-alasan itu, karena kamu kuliah agama, dan tentunya pengetahuan agamamu lebih luas dari aku.
Namun ternyata, selama aku jauh darimu, aku mersa ada sesuatu yang hilang, rasanya tidak enak, tidak nyaman dan aku begitu sepi, tidak ada teman untuk diajak sharing masalah agama. Hari demi hari aku lalui, dan sampai saat ini aku sudah berada di puncak rasa kehilangan dan sepiku, aku benar-benar membutuhkan kamu.
Aku memutuskan jika selama tiga bulan aku tidak mampu menahan diri untuk tidak menghubungimu, maka aku harus menikahimu. Karena syariat, entah karena cinta atau bukan, yang jelas karena lillah. Bagaimana menurutmu? Aku tunggu balasanmu”
Membaca 15 pesan beruntut yang ditulis mas Arfi membuat kepalaku lelah. Aku sedang malas berfikir, ada apa dengan hatiku aku tak tahu. Aku sama sekali tak menyukai mas Arfi, tapi aku juga sudah terbiasa bersama dengan nya. Memang kalau diingat ingat, selama ini aku kemana-mana selalu dengan mas Arfi, banyak laki-laki yang dekat denganku, tapi yang benar-benar seperti saudara adalah mas Arfi, pernah ketika aku sakit di kos dan tidak ada siapapun yang mampu mengantar karena tidak ada sepeda, mas Arfi langsung menelfonku dan menawarkan bantuan untuk mengantarku ke rumah sakit. Setiap aku Tanya kenapa dia begitu baik padaku, dia selalu menjawab karena kasihan padaku.
Ya jawaban sederhana, yang memang sudah cukup bagiku. Kalau dipikir-pikir aku memang sangat membutuhkan mas Arfi, tapi apa menikah hanya cukup dengan modal saling membutuhkan? Rasanya tidak masuk akal. Tapi jika berbicara tentang syariat, memang ubungan tanpa stataus kami jelas dilarang dalam agama islam. Ah entahlah aku pusing.
Namun tiba-tiba aku tersenyum sendiri mengingat pesan dari seorang Arfi. Ya Arfi yang kukenal sebagai laki-laki yang datar dan monoton, bisa menulis pesan panjang lebar seperti itu. Walaupun dia tidak mengatakan bahwa dia menyukaiku, tapi firasatku dia menyukaiku. Buka aku GR sih , tapi menulis panjang lebar bagi orang yang cuek itu sangat sulit jika tidak disertai alasan yang pas selain karena memang suka.
Aku lalu berfikir untuk mulai menjaihili laki-laki datar ini. Aku ingin lihat apakah sikapnya akan tetap datar jika aku beri ia setruman kecil.
“Nanti sore ketemu dimasjid dekat taman merpati ya”
Jawabku singkat sambil menekan tombol send dan tersenyum jahat. Aku langsung melupakan pikiran galauku dengan menonton film film korea yang semakin haari koleksinya semakin banyak. Sejak kuliah, aku sangat menyukai film korea tapi dengan actor dan aktris tertentu saja. Kalau bukan actor dan aktris favoritku aku tidak menontonnya.
Padahal dulu waktu SMA padahal aku sangt tidak menyukai film yang paling booming di Asia itu. Tapi karena sekali mencoa nonto n bersama teman-teman kampus dan pas episodenya bagus, disanalah aku mulai ketagihan, seperti halnya dengan ketagihan kopi, kalau sehari saja tidak nonton, raasanya ada yang kurang.
Padahal aku tahu agama, tidak memperbolehkan menyukai sesuatu secara berlebihan, apalagi yang menjadi hoby ku aadalah menonton film yang tidak islami.dan malah banyak menunjukkan adegan yang mendekati zina.
Baru 2 episode
adzan ashar sudah berkumandang, padahal rasanya baru tadi aku menlaksanakan
shalat dzuhur, inilah sihir film korea, Sangking serunya samppai aku lupa waktu
tidur siang.
Sore itu terlihat suram dari biasanya. Mendung hitam yang enggan menurunkan sejuknya hujan di kota Suabaya yang begitu panas, cukup membuat manusia semakin malas untuk melakukan aktifitas apapun diluar. Panggilan shalat yang sejak tadi bersahut- sahutan pun sedikit sekali yang menghiraukan.
Panggilan itu lebih seperti suara kucing mengeong meminta makan, dan diabaikan begitu saja, padahal adzan adalah panggilan Allah yang Maha menciptakan semesta, namun suara itu diindahkan dengan mudahnya oleh banyak makhlukNya. Hanya tumbuhan, dan burung-burung yang bergoyang dan berterbangan ke tempat ibadahnya yang sibuk dengan dzikkirnya kepada Sang Khaliq. Sementara manusia yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk malah melalaikan tugasnya sebagai hamba Allah.
Padahal tidaklah jin dan manusia diciptakan Allah melainkan untuk beribadah kepadaNya. Ah tapi itu hal yang wajar, karena manusianya tidak pernah membaca petunjuk hidupnya dalam Al Qur’an, jadi mana tahu mereka kalau Allah sudah memberitahu hambaNya bahwa mereka diciptakan semata untuk beribadah.
Dari sekian banyak orang yang mengabaikan panggilan Allah, masih ada beberapa makhlukNya yang mau memenuhi shaf shaf depan dalam shalat ashar di masjid Ulul Albab. Seorang pemuda berjaket hijau muda duduk bersila sambil terus fokus pada dzikir-dzikirnya. Dia bukan mahasiswa kampus yang mampir shalat di masjid, tapi dia pemuda yang sedang memenuhi janji untuk bertemu demi sebuah jawaban.
“Ayolah ukhti, temanin aku sekali lagi untuk bertemu mas Arfi, aku gak ada mahromnya ni ukht”
Rayuku
pada ukhti Ran yang sedang sibuk memakai bros hitam di kerudungnya yang
menjuntai panjang, dan lebih tampak seperti gorden.
“Aku ada presentasi hari ini ukh, afwan ya, coba kamu ajak mbak Erlin” jawabanya singkat sambil mulai fokus pada buku-buku tebal di meja kos nya. Aku menunduk pasrah. Baiklah, hari ini aku akan menemuinya sendiri, dan menjalankan ide jahilku itu. Dengan pakaian seadanya, berbalut kerudung hijau muda, aku berjalan santai menuju masjid dekat kampusku. Di jalan aku berfikir bagaimana aku akan memulai ide ku itu. Sampai tanpa sadar aku sudah berada di gerbang masjid, dan dari jauh sudah terlihat sosok mas Arfi yang berwajah kalem itu.
Seperti biasanya, kami duduk dengan mengambil jarak sekitar 2 meter untuk berbicara, tentunya di tempat yang tidak terlalu ramai, agar apa yang kami sampaikan terdengar satu sama lain. KSetelah salam, kami tidak ada yang memulai satu katapun, aku yakin mas Arfi malu dengan pesan singkatnya yang dikirimkan padaku pagi tadi.
Pesannya sama sekali tidak menyimbolkan dirinya yang terlalu datar dan monoton, selama ini jika diajak berbicara pun selalu singkat-singkat saja, tak seperti pesan panjang yang dikirimkan melalui sms tadi pagi. Aku geli sendiri dengan keanehan mas Arfi. Namun ada debaran halus menyelinap dalam diriku saat itu, mengingat apakah pesan itu menandakan kalau mas Arfi menyukaiku.
“Jadi gini mas, kalau alasan seperti itu yang mas berikan pada saya yang membuat mas gak berani untuk menghubungi saya memang karena Allah, dan membuat mas mengajak saya menikah juga karena Allah, sekarang saya tantang mas Arfi. Jika memang benar apa yang mas katakana semua karena Allah. Tolong mulai urus pernikahan kita mulai besok. Aku ingin membuktikan kalau niatmu memang karena Allah.
Mulai dari bicara ke ayahku, persiapan biaya, waktu pernikahan dan surat-surat yang harus diurus. Kau jangan memikirkan biayanya, kalau memang niatmu karena Allah, akupun akan mebantu niatmu karena Allah pula. Aku tidak akan meminta pernikahan besar dengan resepsinya.
Cukup halalkan saja aku dengan akad yang katamu Lillah itu. Apa kamu berani!?”
Jawabku dengan nada agak tegas, untuk menakut-nakutinya, sekaligus menjahilinya dan mengetes keimanannya. Aku sudah terlalu sering mendengar kata-kata ingin menikahimu karena Allah, tapi setelah aku tantang untuk menikah, mereka akan bingung dan mulai melangkah mundur. Dikiranya aku wanita bodoh yang mau saja di rayu dengan rayuan yang membawa-bawa Allah.
“tok..tok..tok.. dek,
maafin mas dek, ayo buka pintunya”
Sura ketokan pintu
membuyarkan lamunanku pada masa lalu, diawal awal kami memutuskan untuk
menikah. Ya, saat dimana pertama kali suamiku berkata sedikit panjang lebar
kepadaku, yaitu kata-kata dalam sms nya yang mengajakku untuk menikah. Itulah
kali pertama dan terakhir dia berkata tidak datar padaku. Tapi setelah itu,
bahkan setelah kami menikah, dia selalu datar dan monoton. Aku sangat bosan dan
mulai lelah padanya. Karena selama ini jika berkomunikasi akulah yang selalu
agresif bicara panjang lebar padanya. Aku mendiamkannya yang terus mengetok
pintu ,hingga suara ketokan dan gerak gerik suamiku tak terdengar dari luar
pintu.
Rintik-rintik hujan
membangunkanku dari tidurku. Astaghfirullah, magrib kurang 5 menit lagi akan
habis, dan aku tertidur sore tadi. Alangkah buruknya tetidur pada sore hari.
Aku baru tersadar bahwa aku tertidur dalam keadaan tidak berdamai dengan
suamiku,akhirnya aku memutuskan untuk berjalan mengendap-endap kekamar mandi
untuk wudhu. Namun usahaku untuk mengendap-endap sia-sia karena tanpaknya tidak
ada suamiku dirumah. Emosiku memuncak lagi, kok bisa dia meninggalkan aku dalam
keadaan ngambek, dan tidak berusaha merayuku atau membangunkanku.
Kalaupun tidak bisa membuka pintu, setidaknya ia
berusaha memanjat pintu untuk membuka kunci dari ventilasi udara diaatas pintu.
Atau bahkan mendobrak pintu dengan paksa karena kuatir orang yang dicintainya
bunuh diri atau kenapa-kenapa di dalam. Ya seperti film-film korea yag ku
lihat, ketika orang yang dicintai mengurung diri di kamar, tak ada jawaban saat
dipanggil,, maka oa aakan berusaha merayu dengan berusaha mendobrak pintu, atau
menyanyi lagu-lagu cinta di depan pintu kamar, atau terus mengancam duduk di
depan pintu tanpa makan dan minum sampai yang dicintainya keluar.
Tapi suamiku
justru makan dengan lahapnya, karna kulihat nasi di dalam megicom yang isinya
tadi tinggal separuh lebih, sekarang tinggal se entong saja. Dia juga tidak menungguku di depan pintu
sampai aku keluar, tapi justru malah keluar rumah dengan tenangnya.
Aku semakin marah dan
masuk kamar lagi, tepat ketika aku mendengar suara motornya memasuki halaman
rumah. Kali ini pintu tak ku kunci berharap dia masuk dan merayuku agar tidak
marah, dan akupun bergeletak dikamar dengan memasang wajah pucat berpura-pura
tergeletak di sajadah bawah tempat tiur, agar dikira aku benar-benar sakit, dan
berharap ia lebih memperhatikanku lagi. Apa yang aku lakukan memang telrihat
sangat bdoh dan kekanak-kanakan, tapi inilah aku.
Aku memang masih berumur muda
untuk menikah, bukankah hal wajar jika aku menggunakan segala macam cara untuk
mencari perhatian suamiku sendiri. Dulu saja sebelum menikah,kalah aku sakit,
suamiku yang waktu itu hanya teman langsung bergegas ke kostku untuk
menolongku. Bukankah setelah menikah ia seharusnya semakin kawatir padaku.
“kreek”
suara pintu dibuka,
dan aku memulai aktingku dengan ata masih terpejam, tapi ak mendengar jelas
aktifitas suamiku. Tampaknya ia tak langsung kaget melihatku tergeletak di
lantai, ia malah membaca Al Qur’an agak
lama, lalu mengganti baju koko nya, lalu
menggendongku dan memindahkanku ke kamaar tidur atas, kemudian mematikan
lampu lalu keluar kamar lagi.
Entah apa yang harus
aku ungkapkan dengan sifat suamiku ini,
rasanya aku sudah tidak tahan dengan sikapnya yang begitu datar.
Hingga pada puncaknya,
pada tanggal 15 Februari, tepat pada hari ulangtahunku aku memutuskan untuk
melarikan diri dari rumah. Di awali dengan pertengkaran hebat kami di malam
hari.
Saat itu aku
bercerita tentang sikap mertuaku yang
terus saja menjelek-jelekkan aku di
tetangga hingga aku benar-benar kesal dan meminta suamiku untuk tinggal di
rumah kos. Namun suamiku menolak ermintaanku mentah-mentah, bahkan bentakan
dari mulutnya yang basanya kalem itu disemprotkan ke depan wajahku.
“Otakmu dimana, aku
tahu aku belum bisa ngasih rumah sendri untuk kamu, tapi selama ini apa yang
kamu minta selalu aku turuti, selain tempat tinggal, karena memang kondisinya
tidak ada. Sekanng kamu pikir paai otak,
kalau kita ngontrak, biaya hidup akan semakin tinggi, sedangkan kamu tahu
gajiku pas psan untuk itu, apa kamu gak bisa bersabar, biar begitu dia juga ibu
yang melahirkanku, kamu tahu agama, tai kenapa kamu mekasa aku untuk durhaka
pada ibumu, mana ilmu agama yang kamu miliki waktu kamu kuliah dulu, hah!”
Bentakannya demikian
kejam hingga melukai hatiku. Aku merasa dihina,dengan menyangkutpautkan
pengetahuan agama dan kuliahku. Padahal aku sama sekali tak memintanya untuk
durhaka, aku justru memintanya untuk memisahkan diri dari orangtuanya
semata-mata bukan karena aku tidak betah digosipin kejeleknnya, tapi juga
karena aku tidak mau terus bersikap kaku dengan mertuaku karena tinggal satu
rumah,
aku merasa justru dengan aku tinggal disini,membuatku secara tidak
langsung mengajak suamiku terus durhaka pada ibunya, karena aku selalu minta
diperhatikannya, sementara ibunya juga selalu memintainya tolong disaat
bersamaan denganku, kalau suamiku menurutiku otomatis dia durhaka pada perintah
ibunya, namun jika tidak menurutiku maka aku juga akan terus jengkel.
Aku tidak
mau hal semacam itu terjadi. Toh ibuku masih mempunyai suami yang masih kuat tenaganya,
usianya juga belum terlalu tua, berkisar 50 an, dan masih akrab dengan
peralatan make up seperti lipstick dan bedak. Tapi suamiku malah tidak mau mendengar
penjelasanku dan berjalan pergi
meninggalkanku dalam kesendirian dan kesepian di kamar yang sempit ini.
Aku terus menangis
semalaman, dank u dengar suara suamiku malah mengobrol asik dengna mertuaku di
kamar sebelah. Air mataku semakin tak terbendung, sehingga aku memutuskan untuk
merapikan bajuku dan ketika suamiku masih tertidur, pada dini hari, ditemani
dinginnya udara yang masih berpindah daari udara malam ke pagi, aku berjalan
gontai menuju terminal bus antar provinsi. Tujuanku mantap untuk pulang ke
bogor, di kampung halamanku.
“ Mbak Zahra, dari tadi
ponselmu berdering ! “teriak seseorang yang
tak lain adalah adikku.
Aku yang masih asyik menggoreng pisang bersama ibu,
segera berlari keruang tengah. Sudah 5 hari aku melarikan diri dari rumah, dan
hal mengecewakan yang harus aku terima adalah, selama itu suamiku ataupun
keluarga suamiku tak ada yang menhubungiku
sedikitpun. Awal-awal aku pulang ke Bogor aku terus meratapi nasibku
yang ditelantarkan suamiku.
Alangkah
teganya dia membiarkanku kabur, apakah tak ada sedikitpun rasa kuatir dalam
dirinya, atau jangan-jangan suamiku sudah memiliki tambatan hati yang lain.
Namun pikiran-pikiran buruk itu semakin hari semakin bisa aku tepis, seiring
kediamanku di rumah kelahiranku, yang membuat aku menikmatinya dan melupakan
kesedihanku.
Tidak, aku bukanlah
istri durhaka yang meninggalkan suamiku begitu saja, tapi ak pergi untuk
menyadarkan suamiku betapa pentingnya komunikasi dalam hubungan kami.Aku ingin
tahu seberapa pentingnya aku dimata suamiku, namun sampai 5 hari ini suamiku
tak juga menghubungiku.
Demikianlah aku membela diriku kala kata-kata istri
durhaka itu terngiang di kepalaku.
Aku langsung meraih
ponselku, berharap suamiku yang menghubungi. Aku tidak merindukan suamiku sama
sekali, karena kami menikah pun bukan berdasarkan cinta, tapi lillah, karena
Allah, sesuai ucapan suamiku saat
pertama kali mengajakku menikah.
Memang sejak awal menikah, aku belum
bisa merasakan cinta yang bergejolak kepada suamiku, Bagaimana bisa aku
mencintai suami yang datar, aku hanya menganggapnya sebagai pelindungku, kakakku,
atau teman berbagi perihal agama.
089734xxxx
Nomor tak dikenal.
Pupus sudah harapanku ketika yang tertera di layar ponsel bukan nomor suamiku.
“Hallo
Assalamualaikum”
Sapa suara berat
seorang laki-laki dari sebrang
“Wa’alaikumussalam wr
wb, siapa ?”
Tanyaku datar,
menirukan gaya bicara suamiku.
“Maaf ini, Abdul
temannya Arfi, ini istrinya ya?”
“Iya”
“Wah, mohon maaf saya
baru tahu kalau Arfi mau dioperasi, selama ini seperti orang yang tidak punya
penyakit. Kalau boleh tau Arfi mau dioperasi di rumah sakit mana?”
Tanya suara dari
sebrang. Aku terdiam. Pikiranku menerawang, ini orang salah sambung atau memang
temannya mas Arfi
“Maaf ini teman mas
Arfi yang mana?”
Tanyaku tanpa merespon
pertanyaan dari sebrang
“Saya teman majelis
dzikirnya, sudah 3 hari nomor mas Arfi tidak bisa dihubungi, dan Kamis kemarin
tidak datang majelis dzikir. Saya kira kenapa, ternyata tadi baru denga dari
teman kerjanya kalau dia mau dioperasi, kalau boleh tau dioperasi dimana?”
Aku terdiam, tak mampu
berkata apapun. Disatu sisi aku sangat kawatir karena suamiku ternyata sedang
sakit parah, disisi lain aku malu pada
diriku yag sebagai istrinya malah tidak mengetahui kondisi suamiku, aku juga
bingung harus menjawab apa atas pertanyaan temannya.
“Di rumah sakit dekat
sini.Assalamualaikum” tut..tut..tut…
Aku langsung menutup
telefon setelah menjawab sekenanya. Lalu segera masuk kamarku dan terduduk
lemas disana. Perlahan air mataku mulai mengalir. Ternyata selama ini aku salah
sangka pada suamiku. Aku kira dia tidak menghubungiku karena benar-benar tidak
memperdulikanku. Istri macam apa aku ini, yang bisa tinggal tenang meninggalkan
suamiku.
Kalau ibuku tahu aku pulang ke Bogor karena kabur dari rumah, dan
bukan karena sedang liburan, pasti ibuku akan marah. Aku sangat mengkawatirkan
suamiku, tapi aku juga malu untuk menemuinya. Sedang sakit apa dia sehingga
harus dioperasi, bagaimana kondisinya.
Bayang-bayang suamiku terus
menghantuiku. Suaranya yang kalem, sifatnya yang datar dan cuek, serta niat
lillahnya yang menikahiku pertama kali. Mana bisa aku menemui laki-laki yang
menikahiku karena Allah di zaman sekarang ini. Orang berusaha mencari lelaki
yag tahu agama agar bisa membimbingnya, dan senantiasa bisa diajak berjalan
lurus, aku malah membuangnya dengan mudah.
Selama ini aku
hanya melihat sisi negatifnya sebagai
suami. Dia selalu datar, dia cuek, dia tidak banyak bicara jika bukan aku yang
memulai. Tapi dibalik sifat datarnya itu, dia suami yang sabar. Dia selalu
menuruti apa yang kuminta, dari makanan, pakaian, jalan-jalan jika suami libur
kerja.
Hanya satu yang tak bisa ia lakukan untukku, yaitu tinggal mandiri,
memisahkan diri dari ibu mertua. Dan hanya karena satu permintaanku yang tak
dituruti aku sudah marah padanya. Padahal selama ini, sesibuk apapun ia kerja,
jika aku minta pulang, dan meimijat badanku yang pegal pegal selama
berjam-jam
ia akan menurutinya.
Aku tidak boleh
berlama-lama disini, sebelum aku meyesal, atau aku mendapat gelar istri durhaka
dimata Allah, maka merugilah aku. Sia-sia ilmu agama yang aku pelajari sampai
tingkat universitas selama ini. Apa bedanya aku dengan orang yang tidak tahu
agama dan kerjanya hanya meminta-minta di pinggir jalan.
Hari itu juga aku
lngusng pamit pada ibu untuk kembali ke Surabaya, dengan alasan ada kerjaan
mendadak. Pikiranku sudah tidak karuan, aku takut terjadi sesatu pada suamiku.
Bagaimana kalau sampai suamiku kenapa-kenapa, dan aku belum sempat menemuinya,
dan meminta maaf padanya, lalu aku jadi stress dan bunuh diri seperti pada
film-film korea yang aku lihat. Aku tidak mau hal itu terjadi. Pikiranku terus
sibuk menerawang suamiku, tanpa memperdulikan bus yang melaju dengan
kencangnya.
Setelah beberapa menit
naik gojek dari terminal bus, aku sampai di rumah mertuaku. Rumah mertuaku
masih sama seperti saat aku meninggalkannya.
Tampaknya sepi dari luar, mungkin penghuninya kerumah sakit semua.
Aku
memutuskan untuk menaruh barang-barangku dikamar, lalau nekat bertanya pada
tetanggaku mengenai rumah sakit tempat suamiku di raawat. Aku tidak
memperdulikan algi rasa malu dalam diriku, biar mereka berkata istri macam apa
aku,yang penting saat ini aku bisa bertemu suamiku , mas Arfi.
“kreek”… pintu kamar
terbuka. Dan hampir saja aku terjatuh dilantai karena kaget. Melihat sesosok
tubuh lemas terbujur di tempat tidur. Aku seperti mimpi, melihat suamiku ada di
depan mataku. Dia dalam kondisi baik.
Kuraba sekujur tubuhnya perlahan,
barangkali ada bagian tubuhnya yang memiliki bekas luka. Aku perhatikan
wajahnya yang sejak tadi memejamkan mata.
Tak tahan aku membendung perasaanku. Entah ini rindu atau apa. Kalau
rindu, bukankah selama ini aku tak mencintainya, lalu kenapa aku harus rindu.
Aku mengabaikan gejolak hatiku dan memeluk tubuhnya yang masih terbaring.
“Alhamdulillah, kamu
akhirnya pulang dek”
Suara kalem itu
membuatku langsung sadar dan terduduk kaku.
“Kamu tidak apa-apa
mas?”
Tanyaku balik. Suamiku
tak menjawab, lalu ia duduk dan memeluk tubuhku. Kurasakan bahuku basah dengan
air matanya.
“Kamu kemana saja dek,
jangan tinggalin mas lagi ya, maaafin mas udah bentak kamu waktu itu. Mas gak
papa dek, mas hanya kecelakaan kecil waktu mas nyari kamu, tapi kecelaaan itu
membuat hp mas hilang” Ujar jawab suamiku
“jangang tinggalin mas
lagi ya”
Kata suamiku. Aku
masih penasaran dengan apa yang terjadi, dari telfon temannya, operasi, hingga
kecelakaan. Namun aku memilih diam, dan menikmati pelukannya padaku. Kurasakan
betapa berharganya aku bagi suamiku.
Aku masih diam saja saat tiba-tiba suamiku
melepaskan pelukanku, lalu berdiri agak kepayahan untuk mendekati almari
disebelahnya. Ia mengeluarkan isi lemari
berupa tas plastic merah dan menyodorkan padaku.
“Selamat ulang tahun
ya dek, maaf mas terlambat ngucapin. Cuma ini yang bisa mask ash sama kamu.
Maafin mas. Waktu itu mas bingung sekali mau kasih kamu kado apa. Waktu kamu
ngambek sampai tertidur sore, mas menjadikan itu kesempatan untuk membelikan
kamu kado yang kamu sukai. Mas membelikan kerudung cantik sebagai kado untukmu
Namun esok harinya, mas sempat denga kamu bilang kalau kerudung kamu banyak dan
ingin memberikannya pada saudaramu di Bogor. Akhirnya malam waktu kita bertengkar dan kamu tertidur, mas keluar lagi
untuk membelikan kamu sepatu.
Tapi waktu mas iseng
buka ponselmu, mas lihat chat mu dengan teman-teman, kalau kamu gak suka
pakai sepatu. Akhirnya mas bngung dan ngobrol-ngobrol
sama Ibu. Kata ibu dari pada aku repot-repot belikan kamu kado seperti anak
kecil, belikan saja aku coklat yang disusun menjadi kue ulangtahun. Kata ibu
aku sangat menyukai coklat.
Namun setelah itu, mas
gak nyangka kalau paginya kamu meninggalkan mask arena mas membentakmu. Iya mas
yang salah, karena tidak bisa jauh dari ibu mas. Mas yang salah, kalau adek
minta ngontrak sekarang juga akan mas turuti, tapi jangan tinggalan mas ya”
Katanya kalem sambil
membkakan kaos kaki yang masih aku kenakan. Entah apa yang bisa aku katakana
saat itu. Aku hanya diam, terhau, bahagia, juga malu pada sikapku yang terlalu
kekanak-kanakan dan terlalu terobsesi pada film-film korea yang aku lihat. Ini
adalah kehidupan nyata bukan kehidupan film korea,
Bukankah hanya dengan
pelukan dan kata “jangan tinggalkan aku lagi” dari suamiku saat melihat aku kembali sudah sangat
indah bagiku, daripada romantisme film korea yang tidak nyata. Bagaimana
mungkin aku tidak mensyukuri nikmat Allah berupa suamiku. Ya saat itu juga aku
sadar bahwa aku mencintai suamiku
. Suamiku yang datar, kalem, tak banyak
bicara. Tapi selalu membuktikan cintanya dengan cara melindungiku dan berusaha
membahagiakanku, bukan hanya dengan kata-kata romantis dari mulut aatau ikatan
bunga dan kecupan manis yang diberikan setiap saat tanpa ada pembuktian.
Malam itu juga suamiku
bercerita panjang lebar padaku, dan pertama kali aku melihat dia sangat cerewet
saat bercerita. Dia menceritakan betapa malunya ia membelikan aku kado kerudung
di toko muslimah yang pembelinya hampir semua wanita.
Ia juga bercerita bagaimana
ia diam-diam mengukur ukuran sepatuku
dengan penggaris, karena nomor ukuran sepatuku yang sudah tak terlihat. Lalu ia
juga bercerita betapa kagetnya ia saat melihat aku tergeletak di bawah tempat
tidur. Namun ia berusaha tenang agar kuat menggendong tubuhku yang semakin
mengembang sejak menikah, tanpa membuatku terbangun karena ia keberatan
menggedongnya.
Sampai peristiwa pagi itu
saat dia mencariku hingga kecelakaan kecil,yang membuatnya masuk ke rumah
sakit. Namun sampai di rumah sakit, bukan luka suamiku yang menjadi perhatian
dokter, namun benjolan kecil di selangkangan suamiku yang saat itu terlihat
jelas, karena dokter membuka celananyauntuk membersihkan luka di lututnya.
Ternyata suamiku
terkena hernia. Namun tidak berbahaya, karena masih kecil dan sudah terdeteksi.
Sehingga hari itu juga suamiku dioperasi.
Alhamdulillah di tempat kerja suamiku ada BPJS nya, sehingga suamiku
tidak tertahan karena kesulitan biaya, dan bisa pulang esok harinya setelah
dioperasi. Saat mertuaku dan tetanggaku bergantian menungguinya di rumah
sakit, banyak yang menanyakan
keberadaanku. Dan suamiku dengan baiknya menjawab bahwa aku sedang ada urusan
keluarga mendadak di Bogor sehingga harus
pergi pagi itu.
Ia benar-benar menutupi kekuranganku sebagi istri yang
telah jahat meninggalkannya hanya karena masalah kecil. Pantas saja sikap orang
rumah, dan tetangga biasa saja saat melihatku, dan tidak memandangku buruk
dengan mengungkit-ungkit kepergianku
pagi itu.
Saat mendengar
cerita-cerita suamiku yang panjang itu, aku terus memperhatikan suamiku. Gurat
lelah diwajahnya tampak terlihat di wajahnya, namun tak ia rasa. Ia juga
berulang kali menguap namun ditahannya demi bisa bicara banyak padaku. Lalu
kami menutup pembicaraan kami malam itu dengan shlat isya berjama’ah, karena
suamiku masih belum bisa berjalan ke masjid, dengan luka diselangkangannya yang
belum terlalu kering.
Malam itu juga aku menyadari bahwa aku mulai mencintai
suamiku. Jika ia mencintaiku lillah, maka akupun akan mencintainya lillah
karena Allah. Walaupun Lillah nya tak semanis film-film korea yang kulihat.
0 Response to "Lillahmu Tak Semanis Film Korea (cerpen)"
Post a Comment