Ketika Hidayah Melambaikan Cinta (Cerpen)
Tuesday, December 3, 2019
2 Comments
Kicau burung merpati mulai terdengar ditelingaku.Tak
sedikitpun aku bergerak dari tempatku berbaring.Tubuhku bagaikan terpaku di
atas tempat tidurku.Namun suara adzan yang berkumandang membuatku terpaksa bangun.Walaupun
dalam benakku seberkas duka masih menyayat hatiku yang melemahkan sanubariku
untuk menjalani hari di atas panggung hidup yang kejam.
Ya,dunia ini memang
kurasa sangat kejam,sejak kepergian kedua orangtuaku.Tuhan tak pernah adil
padaku.Garis hidupku selalu dipenuhi dengan kenyatan yang berat untuk aku
jalani. Sudah seminggu aku pindah di malang, tinggal di kostan kecil
yang bagiku sangat membosankan.Sejauh ini semangatku tak juga
bangkit, rasa malas hidup selalu mewarnai hari-hariku.
Aku tersentak dari
lamunanku,ketika kulihat jam menunjukkan pukul 7.00 pagi.Padahal pukul 7.30 aku
harus sekolah,sejujurnya ingin rasanya aku berhenti sekolah,namun
abangku bersikeras memaksaku,padahal aku sendiri belum tahu harus membiayai
sekolah dengan uang darimana.
Suasana
kelas sudah ramai,bersyukurlah aku tidak terlambat hari ini.Dalam benakku sama
sekali tak berkeinginan untuk bertegursapa dengan teman yang lain.
Tiba
– tiba pandanganku tertuju pada sesosok laki-laki berpeci hitam yang
baru datang.
“Weh,ni
orang apa salah kelas ya,inikan sekolah,bukan masjid” pikirku dalam hati.
Aku terus perhatikan
laki-laki ini,wajahnya bersih,dan ketika datang ia bersalaman dengan teman
laki-laki yang lain kemudian langsung duduk dan membaca
buku.Sepertinya tak berniat sama sekali untuk menoleh ke arah pelajar putri
yang lain,tak seperti laki-laki pada umumnya. Pendatang dari mana dia
tingkahnya aneh? Detikku dalam hati. Aku sedikit risih dan tidak
menyukai orang-orang yang terlalu polos seperti Si pendiam ini.Menurutku
orang-orang seperti ini munafik, pendiam tapi ternyata kurang ajar, seperti
teman-temanku di Bali. Mereka tampak pendiam, ternyata suka main perempuan
juga.
Hari ini Bu Marwati
memberikan tugas bahasa,tampaknya aku satu kelompok dengan
laki-laki aneh itu.
“Sepertinya
kita tidak bisa menyelesaikan tugas ini sekarang.Nanti pukul 3 sore kita
berkumpul di perpustakaan,kita bagi tugas agar lebih mudah kalian bisa kan?”
Tanya Andi membuka percakapan,
“Ya,kalau
pukul 3 aku bisa tapi maaf agak terlambat nanti,karena rumahku dari
sekolah jauh” jawab Asrar.Sementara aku dan Si pendiam itu hanya diam.Aku belum
lagi mendengar suaranya
“Fahri
,kau bisa kan?”
Oh ternyata nama
pendiam itu Fahri,pkirku dalam hati
“Ya
insya Allah” jawabnya singkat dengan sedikit senyum mengembang dari bibirnya.
Siang
itu,aku tertidur sangat lelap. Aku terlupa kalau hari ini aku ada
tugas dengan teman-teman disekolah.
“Assalamualaikum,
fitriya..”
Sapa suara lembut dari ambang pintu. Aku tersentak kaget,
dengan keadaan yang masih berantakan aku membuka pintu. Asrar kaget melihatku
yang masih berantakan.
“Ya
Allah fit,kamu belum siap lagi,,kita sudah terlambat ni,, teman-teman pasti sudah
menunggu !”
Kata Asrar sedikit panik. Namun akhirnya dia tersenyum
dan melanjutkan bicaranya
“Ya
sudah kamu bersiap-siap dululah,,biar aku sms Andi, izin kalu kita terlambat
sedikit, dia pasti maklum” Ujarnya tenang.Aku jadi merasa bersalah dan segera
mandi,kemudian sholat ashar dengan kecepatan tinggi sekedar untuk
mengguugurkan kewajibanku. Dengan kemeja dan celana jinsku aku bergegas keluar
menghampiri Asrar. Ia agak tetegun melihat penampilanku. Mungkin dia agak
risih, karena aku berbeda jauh dengannya yang menggunakan jilbab panjang dan
pakaian yang sangat sopan. Penampilannya yang seperti ustazah bagiku sangat
kuno. Namun tanpa komentar apapapun kami segera meluncur ke sekolah.
Aku
tetegun sedikit melihat Fahri yang sudah sibuk menulis.
“Assalamualaikum,maaf kami
terlambat” kata Asrar
“Lama
berdandan ya? ” tanya Andi menatap kami sinis. Kami hanya tersenyum menyadari
kesalahan kami. Kesalahan aku sebenarnya.
Selama
diskusi, aku lumayan banyak memberikan pendapat, karena kebetulan sastra adalah
pelajaran kesukaanku. Aku sedikit tertatrik pada Fahri, semua pendapatnya
begitu bagus, cara penyampaiannya juga sangat sopan dan tenang. Tak seperti
yang aku pikirkan, orang pendiam bukan berarti polos dan bodoh. Benarlah kata
orang, jangan memandang seseorang hanya dari penampilannya saja.
Diskusi
kami berakhir setelah magrib tiba. Ah,, lega rasanya bisa tidur nyenyak malam
ini. Baru saja aku ingin kembali kerumah, Asrar begitu semangat
mengajakku mampir kerumahnya untuk sholat magrib. Sejujurnya aku sangat malas,
tapi aku merasa ndak enak juga dengan Asrar, umur
pertemanan kami baru sebulan, aku harus bisa menjadi teman yang menyenangkan
untuk Asrar yang masih baru. Lagipula aku baru di Malang, kalau
kesan awal aku dengan teman-teman disini sudah ndak baik, gimana aku bisa
mendapat teman.
Dengan langkah malas dan sedikit senyum yang dipaksakan,
aku menuruti saran Asrar
Rumah
mungil yang rapi, kesan pertamaku ketika sampai dirumah Asrar, Ternyata Asrar
adalah anak dari keluarga Ustad, pantas saja penampilan dan tingkah lakunya
bagaikan ustadzah, pergaulannya juga sangat terjaga. Damai rasanya aku melihat
keluarga Asrar yang sederhana namun dipenuhi kasih sayang. Tiba-tiba
aku tertarik melihat buku hijau diatas rak buku yang sampulnya bertuliskan “
Hijab is our identity ”
Tampaknya Asrar mengetahui aku berminat pada
buku itu.
“Kamu
mau pinjam buku ini?”
Tanyanya menawarkan. Aku tersenyum. Aku sendiri bingung,
sebenarnya aku malas membaca buku-buku islami seperti itu, tapi entah kenapa
kaliini aku begitu ingin membacanya.
“Ra,
kenapa sih kita harus berjilbab? Padahal setahuku orang berjilbab itu belum tentu sifatnya
baik, di Bali tempatku tinggal dulu,banyak orang berjilbab, tapi
prilakunya sama aja dengan orang-orang yang ndak berjilbab, bahkan lebih
buruk.” Kataku polos.
Asrar masih tersenyum, tenang sekali wajahnya
“Jilbab itu bisa menjaga
kehormatan kita fit, orang akan lebih hormat pada kita, dan
memperkecil kemungkinan orang mau berbuat jahil pada kita. Coba kamu lihat
orang-orang yang menggunakan pakaian yang menggumbar aurat, berjalan
di depan kaum adam, pasti mereka akan menggoda dan tak jarang yang sampai
dilecehkan.Bandingkan dengan orang berjilbab, ketika meeka berjilbab rapi
menutupi aurat, orang-orang mungkin hanya diam atau paling
nggak mereka mengucapkan salam. Kita sebagai wanita muslim
sebenarnya wajib menggunakan jilbab sama wajibnya dengan kita melaksanakan
sholat atau puasa. Itu perintah Allah yang harus kita kerjakan ,dan mesti kita
tahu, perintah Allah pasti mendatangkan manfaat, gak mungkin Allah
memerintahkan hambanya untuk melakukan hal yang mndatangkan mudharat bagi kita”
“Allohuakbar allohuakbar........!”
Adzan isya’ berkumandang
menghentikan ucapan Asrar. Ia terdiam sejenak kemudian melanjutkan perkataannya
“ Kalau kamu ingin tau
lebih jauh, kamu baca saja buku itu,semoga mendapat hidayah, sekarang udah
adzan Isya’ ayo kita kemushola”.
Kami beriringan berjalan
ke mushola milik ayah Asrar. Aku tertegun ketika sampai di pintu
mushola. Ternyata yang mengumandangkan adzan adalah Fahri. Suaranya begitu
merdu dan membuatku begitu tenang, Beban yang ada di otakku terasa
hilang.
Untuk pertama kalinya aku
bisa sholat begitu nikmatnya, air mataku menetes seiring dibacakannya surah Al
Fatihah ayat ke 5 oleh imam. Sujud dan rukuk, terasa nikmat, tenang,tentram,
ada kedamaian yang menyelinap dalam diriku. Seusai sholat aku pamit pulang ke
kost ku.
Malam masih
begitu sunyi ketika aku terbangun dari mimpiku. Hanya
terdengar suara angin yang berhembus menggoda pohon-pohon yang menari
. Terbayang di benakku wajah Asrar yang begitu tenang dan
penuturannya tentang jilbab. Ah entah kenapa air mataku menetes jatuh. Dimana
aku selama ini. Mengapa aku baru mengenal indahnya agamaMu Ya Allah. Aku
beranjak dari tempat tidurku, berwudhu dan kemudian mencoba untuk sholat
tahajud. Ya Allah semoga aku masih ingat niat dan doanya yang pernah aku
hapalkan waktu masih SMP dulu. “Bismillah”
Sholatku kali ini teraasa lebih nikmat dari yang di
mushola tadi. Aku merasa Dia begitu dekat, mengisi kekosongan jiwa ini.
Andaikan aku merasakaannya sejak dulu, pasti jiwaku lebih terisi. Aku mohon
ampun padanya ditengah sujud dan doaku. Tak kusangka aku masih ingat do’a sholat
tahajud.
Sudah
tiga bulan aku sekolah di Malang, dan tiga bulan ini juga aku
menggenakan jilbab, walaupun awalnya agak aneh tapi semakin lama aku semakin
menikmati menggunakan jilbab dan pakaian yang tidak menampakkan
auratku. Benarlah kata Asrar, aku merasa orang-orang lebih
meghormatiku dengan pakaian ini.
Sesi perkenalan tidak formal antara aku dan Fahri juga
semakin dekat. Aku tidak percaya, aku memiliki perasaan yang aneh pada Fahri.
Entah perasaan apa yang mengusik jiwaku.Yang jelas aku
sering memperhatikannya di mushola, aku merasa senang melihatnya sholat dengan
khsyuknya. Tak jarang aku mampr kerumah Asrar sebelum magrib sekadar untuk
mendengar suara adzan dari Fahri.
Sore
itu seperti biasa kami berkumpul di perpustakaan untuk mendiskusikan
tugas-tugas dari Bu Marwati. Namun aku tak melihat Fahri hari itu.
“Fahri
kemana Ndi?” tanyaku pada Andi disela-sela diskusi.
“Oh Fahri sedang ada
urusan sebentar,katanya penting” ujar andi rigkas.
Aku terdiam sambil memperhatikan Asrar yang membaca buku
Fahri. Entah kenapa aku ingi melihat buku itu.
“Eh
Ra, itu buku Fahri?”
“Ya
ini buku catatan tugas kita”
“Boleh
aku lihat?”
“Ya
kebetulan disana ada rencana kegiatan minggu depan, silahkan kamu baca”
Kata Asrar ramah. Aku membuka buku itu.Di
bagian sampulnya terulis rapi Nama Fahri Al Banna. Lalu aku membuka
halaman depan
Tertulis rapi suatu kalimat yang membuat aku tertarik
membacanya
“Ya
Allah, Aku Memohon CintaMu, cinta orang yang mencintaiMu, dan cinta akan
perbuatan yang mendekatkanku pada CintaMU”
HR.Tirmidzi
Serentak darahku berdesir, Ya Allah Fahri sibuk mengejar
cintaMu, sementara aku sibuk mengejar cintanya, maafkan aku ya Rabbi.
Aku terharu dengan tulisan itu. Namun aku segera meletakkan buku fahri ketika
ia tiba-tiba datang
“Assalamualaikum”
Suara lembut Fahri membuat kami semua menoleh kearahnya.
Wajahnya bersinar, tampak sisa air wudhu disana. Begitu tenang, dan
matanya begitu teduh. Pandangan kami bertemu sesaat, Fahri langsung tertunduk
“Subhanallah,
ia begitu menjaga pandangannya” pikirku dalam hati. Sementara aku,
aku sibuk mengejar cinta Fahri sedangkan Fahri sibuk mengejar cinta Ilahi, tak
pantas rasanya aku mengagumi sosok Fahri yang tingkat keimananya berbanding
jauh dengan aku yang baru belajar dan mengenal agamaku sendiri.
Malam
itu aku mengajak Asrar untuk keluar sekadar untuk ngobrol atau makan malam.
Sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan padanya. Seperti biasa ia menerima
tawaranku dengan senyuman.
“Ra,
kamu pernah jatuh cinta?” tanyaku memberanikan diri
“Cinta?
Tentulah, sekarangpun aku sedang jatuh cinta” ujarnya santai sambil menikmati
jagung bakar pinggiran. Aku agak aneh mendengar penuturan Asrar yang begitu aku
hormati itu. Aku tahu pergaulannya dengan lawan jenis sangat dibatasi dan
terjaga, caranya menjaga auratnya juga sangat baik. Tapi jatuh cinta? Siapakah
lelaki yang mampu menambat hatinya? Pikirku dalam hati.
“siapakah
yang kau cintai itu Ra, mengapa tak pernah sedikitpun kau menceritakan tentang
cintamu itu padaku?
“ya,,aku cinta Allah,
cinta Rasul, Cinta pada ahlul bait, dan cinta pada orangtuaku saat ini. Cinta
itu penting, bahkan Rasulullah ada mengajarkan kita untuk medidik anak sejak
kecil tentang cinta, pada Allah, Rasulullah dan ahlul baitnya” tutur nya santai
Benar juga apa yang dikatakan Asrar, aku terdiam sejenak,
memberanikan diri untuk menanyakan Asrar tentang perasaanku.
“Kalau
aku katakan saat ini aku sedang menyukai seorang laki-laki?”
Tanyaku agak ragu. Asrar masih tetap tenang sambil
menghirup nafasnya dalam-dalam.Selalu saja matanya yang teduh membawa
ketenangan dalam jiwaku.
“Kalau
aku jadi kamu, terlebih dahulu aku bertanya pada diriku sendiri, apakah sudah
cukup cintaku pada Allah, sehingga aku mencintai makhlukNya”
“Ya
Ra, tapi bagaimana aku bisa menepis dan menghilangkan perasaan ku pada
laki-laki itu?”
“Fit,cinta
itu fitrah, semua orang normal juga pasti akan merasakan tertarik pada lawan
jenisnya,tak ada manusia yang tak merasakan perasaan itu, tapi sekarang,
sebagai seorang muslim, kita harus pandai mengendalikan perasaan itu, setan itu
sangat pandai menyelinap kedalam hati manusia yang membuat cinta itu bernafsu,
jangan sampai kita mencintai seseorang sampai melebihi cintaNya”
“Ya,,
kamu benar Ra, lagipula dia laki-laki baik, dia bisa mencintai RabbNya dengan
baik, sementara aku, ilmu agamaku masih belepotan, gak karuan”
“Bukan
begitu fit, dalam Q.S An Nur Allah berfirman bahwa laki-laki baik itu untuk
wanita
baik-baik pula, dan sebaliknya. Kita perbaiki saja dulu akhlak kita,
Insya Allah kalau udah jodoh gak akan kemana. Kalau kamu benar-benar
mencintainya, alangkah baiknya jika kamu meniru perbuatan baiknya. Jika dia
laki-laki begitu mengabdikan dirinya pada Allah, kau juga bisa, tapi niatmu
harus ikhlas, karena Allah, bukan karena llaki-laki itu, kamu faham kan fit?”
Tak sanggup aku menjawab pertanyaan Asrar, aku hanya
memalingkan wajah dan menahan air mataku, aku tak ingin Asrar
melihat air mataku yang sudah tumpah ruah membanjiri jilbab yang aku
kenakan.Alangkah indahnya cinta dalam islam, alangkah terjaganya cinta dalam
islam, sementara dulu aku hanya mengumbar cinta syahwat dengan mudahnya. Aku
malu pada Allah, pada diriku sendiri, pada perbuatanku dimasa lalu.
“Assalamualaikum
Warohmtatullah!”,,ucapan salam mengakhiri sholatku malam ini. Ucapan Asrar
masih terngiang-ngiang ditelingaku, “Laki-laki baik hanya untuk wanita baik”
Perlahan bayang Fahri menjauh dari fikiranku,
seiring dengan isttigfar yang aku ucapkan seusai sholat, hingga aku tertidur
diatas sajadah.
***
Tujuh tahun
terasa begitu cepat. Mau tidak mau, kelulusan harus memisahkan aku
dengan teman-temanku, terasa berat bagiku, apalagi harus jauh dari
seorang Asrar, dan.....
Ah tak bisa kupungkiri,
jauh dari mata batinku yang paling dalam masih menyimpan suatu nama
yang entah kapan aku bisa menghapusnya. Bertahun-tahun aku menahan perasaan ini,
sekarang aku sudah bebas karena bisa jauh dari orang yang sselalu mengganggu
ketenanganku, bukan mengganggu, tapi mewarnai. Sekarang aku sudah menjadi guru
Sastra Islam di Aliyah sekaligus pembina di Ma’hadnya. Entah bagaimana jalannya hingga
akhirnya aku melanjutkan untuk mondok sambil kuliah disana, dan setelah lulus
aku langsung diminta untuk menjadi pengurus pondok juga pengajar mata pelajaran
Sastra Islam yang sampai saat ini belum ada guru lain selain aku.
Tawaran itu aku terima dengan senang hati, karena meninggalkan pondok bagiku
sama halnya dengan meninggalkan ketenangan yang selama ini aku cari.
Abangku sudah 2 tahun ini menikah, bahkan
sekarang justru ia bingung untuk mencarikanku jodoh, katanya aku sudah 24
tahun, terlalu tua untuk dipanggil seorang gadis, sudah saatnya aku
menikah. Ah... terserahlah, aku tak mau lagi memikirkan hal yang mengusik
ketenanganku, terserah nanti jodohku seperti apa, yang penting sekarang aku
berusaha menjadi wanita yang baik, agar mendapat jodoh yang baik.
“Assalamualaikum
Bu Nurul” sapa seorang santri mengagetkan lamunanku. Ah sapaan ibu terasa tua
ditelngaku yang masih belum menikah.
“Waalaikumussalam,
Ya Allah Amir, kamu mengagetkan Ibu saja”
“He,he,
maaf Bu lagian ibu banyakan ngelamun ntar ditaksir jin pondok lho...”
“Ah
kamu ini, ada apa”
“Ibu
disuruh ke mushola sama Pak Ustd Muhi katanya guru sastra yang baru udah
datang”
Aku
tersenyum lega, menjadi guru sastra satu-satunya dipesantren yang
kelasnya begtu banyak ini membuatku sedikit terkejar-kejar jadwal. Sangat
melelahkan, sekarang akhirnya datang juga guru sastra yang baru. Aku
mempercepat langkah kakiku, tiba-tiba
“Aduuhh,,
tubuhku terhempas bersama buku-buku yang ku bawa, seseorang menabrakku, ah
bukan, tapi aku yang menubruk orang itu karena sejak tadi aku kebanyakan
melamun
“Afwaan ukhti, ana ndak
sengaja” suara lembut dan santun yang sepertinya pernah ku dengar.
“Ah
ndak apa, ana yang salah” jawabku sambil tersenyum kearah suara itu, namun
senyum itu lenyap oleh detakkan aliran darahku yang berdesir begitu derasnya
ketika kulihat kearahnya
“Fahri
!!”
“Fitri!!”
Serentak kaget berbarengan. Aku tak menyangka bertemu
dengan Fahri lagi, baru saja tadi aku membayangkan dia, sekarang sosoknya sudah
ada di depan mataku. Kami sama-sama tersenyum, lalu menunduk.
“Kenapa
ada disini?” tanya ku
“Saya
ditugaskan mengajar disini” jawabnya lembut masih dengan senyuman yang sejak
dulu tak pernah berubah. Aku terdiam, apa jadinya jika orang yang pernah
mengusik hatiku berada satu tempat denganku, bisakah aku memendam perasaan itu
seperti dulu, bisik hati kecilku.
“Oh
ya fit, yang namanya Ibu Nurul mana ya?” tanyanya lagi
“Ibu
Nurul? Iya ibu Nurul tu saya” jawabku ringkas, aku paham ternyata guru sastra
yang baru itu adalah Fahri. Mau ndak mau aku akan sering berkomunikasi
dengannya.
Ya Allah mengapa cobaan ini lagi yang Kau beri padaku?
Sanggupkah aku mengendalikannya. Detik hati kecilku.
Sudah
3 Bulan Fahri mengajar disini, dia juga sering mengisi ceramah di pondok setiap
sore. Ternyata aku benar-benar tak bisa mengubur perasaan itu, kesolehan dan
kesopanannya selalu mengusik hidupku. Aku sering kekok dan salah tingkah seperti
anak kecil jika harus bicara didepannya .Namun suatu ketika ada berita
mengagetkan yang menyapa hatiku dengan kejamnya. Menghancurkan
segala harapan yang masih tersimpan dalam mimpi-mimpiku.
“Oh
jadi lamarannya nanti malam ya Bu” terdengar Bu Susi Guru Kimia sedang ngobrol
dengan rekannya.
Melihat kedatanganku mereka mengakhiri perbincangannya.
Lalu tersenyum ke arahku
“Bu
Nur kapan mau nyusul Fahri” Aku mengernyitkan dahiku, tak mengerti dengan pertanyaan
yang mereka lontarkan
“Menyusul
apa Bu, saya ndak ngerti” jawabku polos. Mereka malah tertawa melihatku bingung.
“Fahri
nanti malam kan mau melamar calonnya Bu, Ibu kapan nyusul?”
Deg.. pertanyaan itu mengguncangkan batinku, menusuk
relung hatiku. Aku tak mampu mengeluarkan sedikitpun kata dari
bibirku. Aku hanya menunduk, bukan tersinggung atas perkataan Bu Susi, tapi
sakit mendengar berita yang aku dengar.
“Ya Allah sungguh berat ujianMu kali ini, jika dia bukan
jodohku, mengapa Kau pertemukan kembali aku
dengannya, apa maksud dari ujianMu ini “ keluhku dalam hati. Aku
hanya merespon ucapan Bu Susi dengan senyuman kemudian cepat-cepat
keluar dengan alasan kekamar kecil. Padahal aku sekadar ingin mencari
ketenangan untuk hatiku.
“Ya
Allah sebegini sakitkah rasanya patah hati, ini memang salahku terlalu menaruh
harapan padanya. Aku terlalu percaya diri dan salah mengartikan kebaikannya
selama ini, trimakasih atas teguranMu Ya Allah ”
Aku tersadar dari lamunanku ketika salam lembut kembali
menyapaku, menenangkan saraf-saraf di otakku yang semakin tegang.
“Assalamulaikum
ukhti”
“Waalaikumussalam”
balasku. Melihat sosok Fahri yang berdiri dihadapanku membuatku semakin rapuh.
Aku hanya menundukkan padanganku.
“Maaf ukht, saya
Cuma mau tanya rekap nilai sastra anak-anak kelas 1 dimana?”
“Oh
saya tinggal di Ma’had, antum minta tolong saja sama Bu Ima untuk ambilkan”
“Ia
Ukht, terimakasih, Assalamualaikum” sapanya dengan senyum yang selalu mengusik
hatiku.
Fahri membalikkan badan, aku tak kuasa menahan ribuan
tanya yang masih membuncah didadaku, mengharapkan kebenaran atas berita yang
baru saja aku dengar
“Eh Ustad Fahri, tunggu
sebentar”
Fahri meghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan kearahku.
“Ada
apaBu?”
“
Benar nanti malam antum mau melamar gadis
pilihan mu?” tanyaku memberaanikan diri
Fahri tersenyum tipis aku masih mengharap jawaban tidak
darinya
“Iya
benar ukht” deg,, hancur sudah.
“Kenapa
ndak pernah beri kabar,, eh maaf maksud saya selamat ya semoga menjadi keluarga
bahagia”
Jawabku sekenanya.
“Ia
terimakasih fit, tapi nanti malam hanya acara lamaran, bukan pernikahan, dan
belum tentu perempuan itu menrima lamaranku” jawabnya
“Loh
kok bisa?”
“Ia
dia gak tau saya mau melamarnya, saya hanya sempat bicara dengan
walinya, katanya saya disuruh cepat melamar gadis itu sebelum
dilamar orang lain”
Ah hanya perempuan bodoh yang menolak lamaranmu Fahri.
Gumamku dalam hati.
“Kau
mencintainya?”
“Iya,
dia perempuan yang selalu membolak balik hatiku, meluruhkan imanku, dan
mengusik ibadahku, aku takut jika tidak segera aku lamar, ia malah bersemayam
dalam hatiku dan menjadi penyakit hati”
Jawab Fahri sambil menunduk dalam. Serr.....darahku
mengalir deras. Dia begitu mencintai wanita itu, sementara aku begitu
menyayanginya.
“Astagfirullah”
ada apa dengan hatiku. Aku membalasnya dengan senyuman lalu membiarkannya pamit
untuk mengambil rekapan nilai.
Malam
ini untuk pertama kali aku merasa sepi, walaupun aku
pulang kerumah abangku bersama istrinya, namun tetap saja aku tak merasaakan
kedamaian berkumpulbersama mereka. Pikiranku entah melayang kemana
“Fit, cepat
kenakan pakaian yang mbak belikan kemarin” kata mbak Qory kakak
iparku
“Loh
emang kenapa mbak?”
“Ya
Alloh, jadi kamu belum dikasih tau sama bang Hakim, ya sudah kamu pakai saja
nanti kamu tahu sendiri!” Aku bingung, namun menurut menyimpan
sejuta tanya dalam hati.Beberapa menit kemudian aku turun kelantai bawah yang
ternyata sudah ramai dengan tamu.
“Nah
mengenai hal itu silahkan Bapak tanyakan langsung pada adik saya”
“Nak
Fitri, bagaimana, apakah nak Fitri mau menrima lamaran Anak Bapak”
Aku sangat kaget, bagaikan disambar petir disiang bolong.
Aku gak tau apa-apa tiba-tiiba dilamar orang. Luka dihatiku belum lagi sembuh.
Aku menoleh pada abangku, namun ia hanya tenang seakan aku sudah mengetahui
semuanya.
“Maaf
pak, sangat berat bagi saya untuk meutuskan sekarang, saya belum mengenal anak
Bapak,bagaimana saya bisa menentukan untuk menerima atau menolak” jawabku
dengan nada serak menahan tangis.
“Oh
jadi kamu belum mengenal anak saya, tapi kata anak saya dia sudah kenal lama
denganmu” kata Bapak didepanku
“Ini
gimana Abi” terdengar suara Istriya berbsik
“Ia
Abi juga bingung, Anakmu mana sih umi, kenapa belum sampai juga”
“Tadi
katanya masih mengurus urusan mendadak sebentar, umi pusing”
“Assalamualaikum”terdengar salam
lembut dari ambang pintu. Suara yang benar-benar aku kenal, aku menoleh ke
arah pintu
“Waalaikumussalam,,”
“Fahri?!”
Fahri hanya tersenyum lalu duduk disebelah ayahnya.
“Maaf
terlambat, maksud kedatangan saya kemari ingin melamar Nurul Fitriya, dinikahi
peremupuan itu karena 3 hal, kecantikannya,hartanya,dan nashabnya, maka
pilihlah karena agamanya agar selamat kedua tanganmu , bukan
kecantikan atau harta yang menuntun niat saya untuk menikahi nti, tapi agama
itulah yang selalu mengikat hati”
Alangkah bahagianya aku. Aku sama sekali tak me nyangka
bahwa wanita beruntung itu aku. Aku hanya tersenyum menahan kegembiraanku.
“Bagaimana
nak Fitri, apa lamarannya diterima?”
Wajahku semakin memerah malu untuk menjawab
“Bismillahirohmanirrahim, saya
menerima lamaran Fahri Al Banna” jawabku rngkas sambil menunduk malu.
“Alhamdulillah,,,”
Karunia Ilahi memperstukan dua hati. Pernikahan kami akan
diadakan Minggu depan. Ternyata ini jawaban dari semua do’a dan kesabaranku.
Sungguh buah kesabaran itu begitu indah. Benar kata Asrar, kalau jodoh gak akan
kemana”

Bagus kak
ReplyDeleteTerima kasih :) semoga bermanfaat
Delete