Ketika Hidayah Melambaikan Cinta (Cerpen)



Kicau burung merpati mulai terdengar ditelingaku.Tak sedikitpun aku bergerak dari tempatku berbaring.Tubuhku bagaikan terpaku di atas tempat tidurku.Namun suara adzan yang berkumandang membuatku terpaksa bangun.Walaupun dalam benakku seberkas duka masih menyayat hatiku yang melemahkan sanubariku untuk menjalani hari di atas panggung hidup yang  kejam.

Ya,dunia ini memang kurasa sangat kejam,sejak kepergian kedua orangtuaku.Tuhan tak pernah adil padaku.Garis hidupku selalu dipenuhi dengan kenyatan yang berat untuk aku jalani. Sudah seminggu aku pindah di malang,  tinggal di kostan kecil yang bagiku sangat membosankan.Sejauh ini  semangatku tak juga bangkit,  rasa malas hidup selalu mewarnai hari-hariku.

Aku tersentak dari lamunanku,ketika kulihat jam menunjukkan pukul 7.00 pagi.Padahal pukul 7.30 aku harus sekolah,sejujurnya ingin  rasanya aku berhenti sekolah,namun abangku bersikeras memaksaku,padahal aku sendiri belum tahu harus membiayai sekolah dengan uang darimana.

          Suasana kelas sudah ramai,bersyukurlah aku tidak terlambat hari ini.Dalam benakku sama sekali tak berkeinginan untuk  bertegursapa dengan teman yang lain.

          Tiba – tiba pandanganku tertuju pada sesosok laki-laki berpeci hitam  yang baru datang.

          “Weh,ni orang apa salah kelas ya,inikan sekolah,bukan masjid” pikirku dalam hati.

Aku terus perhatikan laki-laki ini,wajahnya bersih,dan ketika datang ia bersalaman dengan teman laki-laki  yang lain kemudian langsung duduk dan membaca buku.Sepertinya tak berniat sama sekali untuk menoleh ke arah pelajar putri yang lain,tak seperti laki-laki pada umumnya. Pendatang dari mana dia tingkahnya aneh? Detikku dalam hati.  Aku sedikit risih dan tidak menyukai orang-orang yang terlalu polos seperti Si pendiam ini.Menurutku orang-orang seperti ini munafik, pendiam tapi ternyata kurang ajar, seperti teman-temanku di Bali. Mereka tampak pendiam, ternyata suka main perempuan juga.

Hari ini Bu Marwati memberikan tugas bahasa,tampaknya aku satu kelompok dengan laki-laki  aneh itu.

          “Sepertinya kita tidak bisa menyelesaikan tugas ini sekarang.Nanti pukul 3 sore kita berkumpul di perpustakaan,kita bagi tugas agar lebih mudah kalian bisa kan?”
Tanya Andi membuka percakapan,

          “Ya,kalau pukul 3 aku bisa tapi maaf  agak terlambat nanti,karena rumahku dari sekolah jauh” jawab Asrar.Sementara aku dan Si pendiam itu hanya diam.Aku belum lagi mendengar suaranya

          “Fahri ,kau bisa kan?”
Oh ternyata nama pendiam  itu  Fahri,pkirku dalam hati

          “Ya insya Allah” jawabnya singkat dengan sedikit senyum mengembang dari bibirnya.

          Siang itu,aku tertidur sangat lelap. Aku terlupa kalau  hari ini aku ada tugas dengan teman-teman disekolah.

          “Assalamualaikum, fitriya..”
Sapa suara lembut dari ambang pintu. Aku tersentak kaget, dengan keadaan yang masih berantakan aku membuka pintu. Asrar kaget melihatku yang masih  berantakan.

          “Ya Allah fit,kamu belum siap lagi,,kita sudah terlambat ni,, teman-teman pasti sudah menunggu !”
Kata Asrar sedikit panik. Namun akhirnya dia tersenyum dan melanjutkan bicaranya

          “Ya sudah kamu bersiap-siap dululah,,biar aku sms Andi, izin kalu kita terlambat sedikit, dia pasti maklum” Ujarnya tenang.Aku jadi merasa bersalah dan segera mandi,kemudian sholat ashar dengan kecepatan  tinggi sekedar untuk mengguugurkan kewajibanku. Dengan kemeja dan celana jinsku aku bergegas keluar menghampiri Asrar. Ia agak tetegun melihat penampilanku. Mungkin dia agak risih, karena aku berbeda jauh dengannya yang menggunakan jilbab panjang dan pakaian yang sangat sopan. Penampilannya yang seperti ustazah bagiku sangat kuno. Namun tanpa komentar apapapun kami segera meluncur ke sekolah.

          Aku tetegun sedikit melihat Fahri yang sudah sibuk menulis.

          “Assalamualaikum,maaf  kami terlambat” kata Asrar

          “Lama berdandan ya? ” tanya Andi menatap kami sinis. Kami hanya tersenyum menyadari kesalahan kami. Kesalahan aku sebenarnya.

          Selama diskusi, aku lumayan banyak memberikan pendapat, karena kebetulan sastra adalah pelajaran kesukaanku. Aku sedikit tertatrik pada Fahri, semua pendapatnya begitu bagus, cara penyampaiannya juga sangat sopan dan tenang. Tak seperti yang aku pikirkan, orang pendiam bukan berarti polos dan bodoh. Benarlah kata orang, jangan memandang seseorang  hanya dari penampilannya saja.

          Diskusi kami berakhir setelah magrib tiba. Ah,, lega rasanya bisa tidur nyenyak malam ini.  Baru saja aku ingin kembali kerumah, Asrar begitu semangat mengajakku mampir kerumahnya untuk sholat magrib. Sejujurnya aku sangat malas, tapi aku merasa ndak enak juga dengan  Asrar,  umur pertemanan kami baru sebulan, aku harus bisa menjadi teman yang menyenangkan untuk Asrar yang masih baru.  Lagipula aku baru di Malang, kalau kesan awal aku dengan teman-teman disini sudah ndak baik, gimana aku bisa mendapat teman.
Dengan langkah malas dan sedikit senyum yang dipaksakan, aku menuruti saran Asrar

          Rumah mungil yang rapi, kesan pertamaku ketika sampai dirumah Asrar, Ternyata Asrar adalah anak dari keluarga Ustad, pantas saja penampilan dan tingkah lakunya bagaikan ustadzah, pergaulannya juga sangat terjaga. Damai rasanya aku melihat keluarga Asrar  yang sederhana namun dipenuhi kasih sayang.  Tiba-tiba aku tertarik melihat buku hijau diatas rak buku yang sampulnya bertuliskan “ Hijab is our identity ”
Tampaknya Asrar  mengetahui aku berminat pada buku itu.

          “Kamu mau pinjam buku ini?”
Tanyanya menawarkan. Aku tersenyum. Aku sendiri bingung, sebenarnya aku malas membaca buku-buku islami seperti itu, tapi entah kenapa kaliini aku begitu ingin membacanya.

          “Ra, kenapa sih kita harus berjilbab? Padahal setahuku orang berjilbab itu belum tentu sifatnya baik, di  Bali tempatku tinggal dulu,banyak orang berjilbab, tapi prilakunya sama aja dengan orang-orang yang ndak berjilbab, bahkan lebih buruk.” Kataku polos.
Asrar masih tersenyum, tenang sekali wajahnya

“Jilbab itu bisa menjaga kehormatan kita fit,  orang akan lebih hormat pada kita, dan memperkecil kemungkinan orang mau berbuat jahil pada kita. Coba kamu lihat orang-orang yang  menggunakan pakaian yang menggumbar aurat, berjalan di depan kaum adam, pasti mereka akan menggoda dan tak jarang yang sampai dilecehkan.Bandingkan dengan orang berjilbab, ketika meeka berjilbab rapi menutupi aurat, orang-orang mungkin hanya diam atau paling nggak  mereka mengucapkan salam. Kita sebagai wanita muslim sebenarnya wajib menggunakan jilbab sama wajibnya dengan kita melaksanakan sholat atau puasa. Itu perintah Allah yang harus kita kerjakan ,dan mesti kita tahu, perintah Allah pasti mendatangkan manfaat, gak mungkin Allah memerintahkan hambanya untuk melakukan hal yang mndatangkan mudharat bagi kita”

“Allohuakbar  allohuakbar........!”

Adzan isya’ berkumandang menghentikan ucapan Asrar. Ia terdiam sejenak kemudian melanjutkan perkataannya

“ Kalau kamu ingin tau lebih jauh, kamu baca saja buku itu,semoga mendapat hidayah, sekarang udah adzan Isya’ ayo kita kemushola”.

Kami beriringan berjalan ke mushola milik ayah Asrar. Aku tertegun  ketika sampai di pintu mushola. Ternyata yang mengumandangkan adzan adalah Fahri. Suaranya begitu merdu dan membuatku begitu tenang,  Beban yang ada di otakku terasa hilang.

Untuk pertama kalinya aku bisa sholat begitu nikmatnya, air mataku menetes seiring dibacakannya surah Al Fatihah ayat ke 5 oleh imam. Sujud dan rukuk, terasa nikmat, tenang,tentram, ada kedamaian yang menyelinap dalam diriku. Seusai sholat aku pamit pulang ke kost ku.

Malam masih begitu  sunyi ketika aku  terbangun dari mimpiku. Hanya terdengar suara angin yang berhembus menggoda pohon-pohon yang menari .  Terbayang di benakku wajah Asrar yang begitu tenang dan penuturannya tentang jilbab. Ah entah kenapa air mataku menetes jatuh. Dimana aku selama ini. Mengapa aku baru mengenal indahnya agamaMu Ya Allah. Aku beranjak dari tempat tidurku, berwudhu dan kemudian mencoba untuk sholat tahajud. Ya Allah semoga aku masih ingat niat dan doanya yang pernah aku hapalkan waktu masih SMP dulu. “Bismillah”

Sholatku kali ini teraasa lebih nikmat dari yang di mushola tadi. Aku merasa Dia begitu dekat, mengisi kekosongan jiwa ini. Andaikan aku merasakaannya sejak dulu, pasti jiwaku lebih terisi. Aku mohon ampun padanya ditengah sujud dan doaku. Tak kusangka aku masih ingat do’a sholat tahajud.

          Sudah tiga bulan aku sekolah di Malang, dan tiga bulan  ini juga aku menggenakan jilbab, walaupun awalnya agak aneh tapi semakin lama aku semakin menikmati menggunakan jilbab dan  pakaian yang tidak menampakkan auratku. Benarlah kata Asrar, aku merasa  orang-orang lebih meghormatiku dengan pakaian ini.

Sesi perkenalan tidak formal antara aku dan Fahri juga semakin dekat. Aku tidak percaya, aku memiliki perasaan yang aneh pada Fahri. Entah perasaan apa yang mengusik jiwaku.Yang jelas aku sering memperhatikannya di mushola, aku merasa senang melihatnya sholat dengan khsyuknya. Tak jarang aku mampr kerumah Asrar sebelum magrib sekadar untuk mendengar suara adzan dari Fahri.

          Sore itu seperti biasa kami berkumpul di perpustakaan untuk mendiskusikan tugas-tugas dari Bu Marwati. Namun aku tak melihat Fahri hari itu.

          “Fahri kemana Ndi?” tanyaku pada Andi disela-sela diskusi.

          “Oh Fahri sedang ada urusan sebentar,katanya penting” ujar andi rigkas.
Aku terdiam sambil memperhatikan Asrar yang membaca buku Fahri. Entah kenapa aku  ingi melihat buku itu.

          “Eh Ra, itu buku Fahri?”

          “Ya ini buku catatan tugas kita”

          “Boleh aku lihat?”

          “Ya kebetulan disana ada rencana kegiatan minggu depan, silahkan kamu baca”
Kata Asrar ramah. Aku membuka buku itu.Di bagian  sampulnya terulis rapi Nama Fahri Al Banna. Lalu aku membuka halaman depan
Tertulis rapi suatu kalimat yang membuat aku tertarik membacanya

          “Ya Allah, Aku Memohon CintaMu, cinta orang yang mencintaiMu, dan cinta akan perbuatan yang mendekatkanku pada CintaMU”
HR.Tirmidzi

Serentak darahku berdesir, Ya Allah Fahri sibuk mengejar cintaMu, sementara aku sibuk mengejar cintanya, maafkan aku ya Rabbi. Aku terharu dengan tulisan itu. Namun aku segera meletakkan buku fahri ketika ia tiba-tiba datang

          “Assalamualaikum”
Suara lembut Fahri membuat kami semua menoleh kearahnya. Wajahnya  bersinar, tampak sisa air wudhu disana. Begitu tenang, dan matanya begitu teduh. Pandangan kami bertemu sesaat, Fahri langsung tertunduk

          “Subhanallah, ia begitu menjaga pandangannya” pikirku dalam hati.  Sementara aku, aku sibuk mengejar cinta Fahri sedangkan Fahri sibuk mengejar cinta Ilahi, tak pantas rasanya aku mengagumi sosok Fahri yang tingkat keimananya berbanding jauh dengan aku yang baru belajar dan mengenal agamaku sendiri.

          Malam itu aku mengajak Asrar untuk keluar sekadar untuk ngobrol atau makan malam. Sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan padanya. Seperti biasa ia menerima tawaranku dengan senyuman.

          “Ra, kamu pernah jatuh cinta?” tanyaku memberanikan diri

          “Cinta? Tentulah, sekarangpun aku sedang jatuh cinta” ujarnya santai sambil menikmati jagung bakar pinggiran. Aku agak aneh mendengar penuturan Asrar yang begitu aku hormati itu. Aku tahu pergaulannya dengan lawan jenis sangat dibatasi dan terjaga, caranya menjaga auratnya juga sangat baik. Tapi jatuh cinta? Siapakah lelaki yang mampu menambat hatinya? Pikirku dalam hati.

          “siapakah yang kau cintai itu Ra, mengapa tak pernah sedikitpun kau menceritakan tentang cintamu itu padaku?

“ya,,aku cinta Allah, cinta Rasul, Cinta pada ahlul bait, dan cinta pada orangtuaku saat ini. Cinta itu penting, bahkan Rasulullah ada mengajarkan kita untuk medidik anak sejak kecil tentang cinta, pada Allah, Rasulullah dan ahlul baitnya” tutur nya santai
Benar juga apa yang dikatakan Asrar, aku terdiam sejenak, memberanikan diri untuk menanyakan Asrar tentang perasaanku.

          “Kalau aku katakan saat ini aku sedang menyukai seorang laki-laki?”
Tanyaku agak ragu. Asrar masih tetap tenang sambil menghirup nafasnya dalam-dalam.Selalu saja matanya yang teduh membawa ketenangan dalam jiwaku.

          “Kalau aku jadi kamu, terlebih dahulu aku bertanya pada diriku sendiri, apakah sudah cukup cintaku pada Allah, sehingga aku mencintai makhlukNya”

          “Ya Ra, tapi bagaimana aku bisa menepis dan menghilangkan perasaan ku pada laki-laki itu?”

          “Fit,cinta itu fitrah, semua orang normal juga pasti akan merasakan tertarik pada lawan jenisnya,tak ada manusia yang tak merasakan perasaan itu, tapi sekarang, sebagai seorang muslim, kita harus pandai mengendalikan perasaan itu, setan itu sangat pandai menyelinap kedalam hati manusia yang membuat cinta itu bernafsu, jangan sampai kita mencintai seseorang sampai melebihi cintaNya”

          “Ya,, kamu benar Ra, lagipula dia laki-laki baik, dia bisa mencintai RabbNya dengan baik, sementara aku, ilmu agamaku masih belepotan, gak karuan”

          “Bukan begitu fit, dalam Q.S An Nur Allah berfirman bahwa laki-laki baik itu untuk wanita 
baik-baik pula, dan sebaliknya. Kita perbaiki saja dulu akhlak kita, Insya Allah kalau udah jodoh gak akan kemana. Kalau kamu benar-benar mencintainya, alangkah baiknya jika kamu meniru perbuatan baiknya. Jika dia laki-laki begitu mengabdikan dirinya pada Allah, kau juga bisa, tapi niatmu harus ikhlas, karena Allah, bukan karena llaki-laki itu, kamu faham kan fit?”

Tak sanggup aku menjawab pertanyaan Asrar, aku hanya memalingkan wajah dan menahan  air mataku, aku tak ingin Asrar melihat air mataku yang sudah tumpah ruah membanjiri jilbab yang aku kenakan.Alangkah indahnya cinta dalam islam, alangkah terjaganya cinta dalam islam, sementara dulu aku hanya mengumbar cinta syahwat dengan mudahnya. Aku malu pada Allah, pada diriku sendiri, pada perbuatanku dimasa lalu.

         “Assalamualaikum Warohmtatullah!”,,ucapan salam mengakhiri sholatku malam ini. Ucapan Asrar masih terngiang-ngiang ditelingaku, “Laki-laki baik hanya untuk wanita baik”
Perlahan bayang Fahri menjauh dari  fikiranku, seiring dengan isttigfar yang aku ucapkan seusai sholat, hingga aku tertidur diatas sajadah.
***


          Tujuh  tahun terasa begitu cepat.  Mau tidak mau, kelulusan harus memisahkan aku dengan teman-temanku, terasa berat bagiku, apalagi harus jauh dari seorang   Asrar, dan.....

Ah tak bisa kupungkiri, jauh dari mata batinku yang paling dalam masih  menyimpan suatu nama yang entah kapan aku bisa menghapusnya. Bertahun-tahun aku menahan perasaan ini, sekarang aku sudah bebas karena bisa jauh dari orang yang sselalu mengganggu ketenanganku, bukan mengganggu, tapi mewarnai. Sekarang aku sudah menjadi guru Sastra Islam  di Aliyah sekaligus pembina di Ma’hadnya. Entah bagaimana jalannya hingga akhirnya aku melanjutkan untuk mondok sambil kuliah disana, dan setelah lulus aku langsung diminta untuk menjadi pengurus pondok juga pengajar mata pelajaran Sastra Islam  yang sampai saat ini belum ada guru lain selain aku. Tawaran itu aku terima dengan senang hati, karena meninggalkan pondok bagiku sama halnya dengan meninggalkan ketenangan yang selama ini aku cari.

 Abangku sudah 2 tahun ini menikah, bahkan sekarang justru ia bingung untuk mencarikanku jodoh, katanya aku sudah 24 tahun, terlalu tua untuk dipanggil seorang gadis, sudah saatnya aku menikah. Ah... terserahlah, aku tak mau lagi memikirkan hal yang mengusik ketenanganku, terserah nanti jodohku seperti apa, yang penting sekarang aku berusaha menjadi wanita yang baik, agar mendapat jodoh yang baik.

          “Assalamualaikum Bu Nurul” sapa seorang santri mengagetkan lamunanku. Ah sapaan ibu terasa tua ditelngaku yang masih belum menikah.

          “Waalaikumussalam, Ya Allah Amir, kamu mengagetkan Ibu saja”

          “He,he, maaf Bu lagian ibu banyakan ngelamun ntar ditaksir jin pondok lho...”

          “Ah kamu ini, ada apa”

          “Ibu disuruh ke mushola sama Pak Ustd Muhi katanya guru sastra yang baru udah datang”

          Aku tersenyum  lega, menjadi guru sastra satu-satunya dipesantren yang kelasnya begtu banyak ini membuatku sedikit terkejar-kejar jadwal. Sangat melelahkan, sekarang akhirnya datang juga guru sastra yang baru. Aku mempercepat langkah kakiku, tiba-tiba

          “Aduuhh,, tubuhku terhempas bersama buku-buku yang ku bawa, seseorang menabrakku, ah bukan, tapi aku yang menubruk orang itu karena sejak tadi aku kebanyakan melamun

“Afwaan ukhti, ana ndak sengaja” suara lembut dan santun yang  sepertinya pernah ku dengar.

          “Ah ndak apa, ana yang salah” jawabku sambil tersenyum kearah suara itu, namun senyum itu lenyap oleh detakkan aliran darahku yang berdesir begitu derasnya ketika kulihat kearahnya

          “Fahri !!”

          “Fitri!!”
Serentak kaget berbarengan. Aku tak menyangka bertemu dengan Fahri lagi, baru saja tadi aku membayangkan dia, sekarang sosoknya sudah ada di depan mataku. Kami sama-sama tersenyum, lalu menunduk.

          “Kenapa ada disini?” tanya ku

          “Saya ditugaskan mengajar disini” jawabnya lembut masih dengan senyuman yang sejak dulu tak pernah berubah. Aku terdiam, apa jadinya jika orang yang pernah mengusik hatiku berada satu tempat denganku, bisakah aku memendam perasaan itu seperti dulu, bisik hati kecilku.

          “Oh ya fit, yang namanya Ibu Nurul mana ya?” tanyanya lagi

          “Ibu Nurul? Iya ibu Nurul tu saya” jawabku ringkas, aku paham ternyata guru sastra yang baru itu adalah Fahri. Mau ndak mau aku akan sering berkomunikasi dengannya.
Ya Allah mengapa cobaan ini lagi yang Kau beri padaku? Sanggupkah aku mengendalikannya. Detik hati kecilku.

          Sudah 3 Bulan Fahri mengajar disini, dia juga sering mengisi ceramah di pondok setiap sore. Ternyata aku benar-benar tak bisa mengubur perasaan itu, kesolehan dan kesopanannya selalu mengusik hidupku. Aku sering kekok dan salah tingkah seperti anak kecil jika harus bicara didepannya .Namun suatu ketika ada berita mengagetkan yang menyapa hatiku dengan kejamnya.  Menghancurkan segala harapan yang masih tersimpan dalam mimpi-mimpiku.

          “Oh jadi lamarannya nanti malam ya Bu” terdengar Bu Susi Guru Kimia sedang ngobrol dengan rekannya.
Melihat kedatanganku mereka mengakhiri perbincangannya. Lalu tersenyum ke arahku

          “Bu Nur kapan mau nyusul Fahri” Aku mengernyitkan dahiku, tak mengerti dengan pertanyaan yang  mereka lontarkan

          “Menyusul apa Bu, saya ndak ngerti” jawabku polos. Mereka malah tertawa melihatku bingung.

          “Fahri nanti malam kan mau melamar calonnya Bu,  Ibu kapan nyusul?”
Deg.. pertanyaan itu mengguncangkan batinku, menusuk relung hatiku.  Aku tak mampu mengeluarkan sedikitpun kata dari bibirku. Aku hanya menunduk, bukan tersinggung atas perkataan Bu Susi, tapi sakit mendengar berita yang aku dengar.  

“Ya Allah sungguh berat ujianMu kali ini, jika dia bukan jodohku, mengapa  Kau pertemukan kembali aku dengannya,  apa maksud dari ujianMu ini “ keluhku dalam hati. Aku hanya  merespon ucapan Bu Susi dengan senyuman kemudian cepat-cepat keluar dengan alasan kekamar kecil. Padahal aku sekadar ingin mencari ketenangan untuk hatiku.

          “Ya Allah sebegini sakitkah rasanya patah hati, ini memang salahku terlalu menaruh harapan padanya. Aku terlalu percaya diri dan salah mengartikan kebaikannya selama ini,  trimakasih atas teguranMu Ya Allah ”

Aku tersadar dari lamunanku ketika salam lembut kembali menyapaku, menenangkan saraf-saraf di otakku yang semakin tegang.

          “Assalamulaikum ukhti”

          “Waalaikumussalam” balasku. Melihat sosok Fahri yang berdiri dihadapanku membuatku semakin rapuh. Aku hanya menundukkan padanganku.

          “Maaf  ukht,  saya Cuma mau tanya rekap nilai sastra anak-anak kelas 1 dimana?”

          “Oh saya tinggal di Ma’had, antum minta tolong saja sama Bu Ima untuk ambilkan”

          “Ia Ukht, terimakasih, Assalamualaikum” sapanya dengan senyum yang selalu mengusik hatiku.
Fahri membalikkan badan, aku tak kuasa menahan ribuan tanya yang masih membuncah didadaku, mengharapkan kebenaran atas berita yang baru saja aku dengar
          “Eh Ustad Fahri, tunggu sebentar”
Fahri meghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan kearahku.
          “Ada apaBu?”
          “ Benar nanti malam antum mau melamar gadis pilihan mu?” tanyaku memberaanikan diri
Fahri tersenyum tipis aku masih mengharap jawaban tidak darinya
          “Iya benar ukht” deg,, hancur sudah.
          “Kenapa ndak pernah beri kabar,, eh maaf maksud saya selamat ya semoga menjadi keluarga bahagia”
Jawabku sekenanya.
          “Ia terimakasih fit, tapi nanti malam hanya acara lamaran, bukan pernikahan, dan belum tentu perempuan itu menrima lamaranku” jawabnya
          “Loh kok bisa?”
          “Ia dia gak tau saya mau melamarnya, saya hanya sempat bicara dengan walinya,  katanya saya disuruh cepat melamar gadis itu sebelum dilamar orang lain”
Ah hanya perempuan bodoh yang menolak lamaranmu Fahri. Gumamku dalam hati.

          “Kau mencintainya?”
          “Iya, dia perempuan yang selalu membolak balik hatiku, meluruhkan imanku, dan mengusik ibadahku, aku takut jika tidak segera aku lamar, ia malah bersemayam dalam hatiku dan menjadi penyakit  hati”
Jawab Fahri sambil menunduk dalam. Serr.....darahku mengalir deras. Dia begitu mencintai wanita itu, sementara aku begitu menyayanginya.

 “Astagfirullah” ada apa dengan hatiku. Aku membalasnya dengan senyuman lalu membiarkannya pamit untuk mengambil rekapan nilai.

          Malam ini untuk pertama kali  aku  merasa sepi, walaupun aku pulang kerumah abangku bersama istrinya, namun tetap saja aku tak merasaakan kedamaian berkumpulbersama mereka. Pikiranku entah melayang kemana

          “Fit,  cepat kenakan pakaian yang mbak belikan kemarin”  kata mbak Qory kakak iparku
          “Loh emang kenapa mbak?”

          “Ya Alloh, jadi kamu belum dikasih tau sama bang Hakim, ya sudah kamu pakai saja nanti kamu tahu sendiri!” Aku bingung, namun menurut  menyimpan sejuta tanya dalam hati.Beberapa menit kemudian aku turun kelantai bawah yang ternyata sudah ramai dengan tamu.

          “Nah mengenai hal itu silahkan Bapak tanyakan langsung pada adik saya”
          “Nak Fitri, bagaimana, apakah nak Fitri mau menrima lamaran Anak Bapak”

Aku sangat kaget, bagaikan disambar petir disiang bolong. Aku gak tau apa-apa tiba-tiiba dilamar orang. Luka dihatiku belum lagi sembuh. Aku menoleh pada abangku, namun ia hanya tenang seakan aku sudah mengetahui semuanya.

          “Maaf pak, sangat berat bagi saya untuk meutuskan sekarang, saya belum mengenal anak Bapak,bagaimana saya bisa menentukan untuk menerima atau menolak” jawabku dengan nada serak menahan tangis.

          “Oh jadi kamu belum mengenal anak saya, tapi kata anak saya dia sudah kenal lama denganmu” kata Bapak didepanku
          “Ini gimana Abi” terdengar suara Istriya berbsik
          “Ia Abi juga bingung, Anakmu mana sih umi, kenapa belum sampai juga”
          “Tadi katanya masih mengurus urusan mendadak sebentar, umi pusing”

          “Assalamualaikum”terdengar salam lembut dari ambang pintu. Suara yang benar-benar aku kenal, aku menoleh ke arah pintu
          “Waalaikumussalam,,”
          “Fahri?!”
Fahri hanya tersenyum lalu duduk disebelah ayahnya.

          “Maaf terlambat, maksud kedatangan saya kemari ingin melamar Nurul Fitriya, dinikahi peremupuan itu karena 3 hal, kecantikannya,hartanya,dan nashabnya, maka pilihlah karena agamanya agar selamat kedua tanganmu ,  bukan kecantikan atau harta yang menuntun niat saya untuk menikahi nti, tapi agama itulah yang selalu mengikat hati”

Alangkah bahagianya aku. Aku sama sekali tak me nyangka bahwa wanita beruntung itu aku. Aku hanya tersenyum menahan kegembiraanku.

          “Bagaimana nak Fitri, apa lamarannya diterima?”
Wajahku semakin memerah malu untuk menjawab
          “Bismillahirohmanirrahim,  saya menerima lamaran Fahri Al Banna” jawabku rngkas sambil menunduk malu.

          “Alhamdulillah,,,”
Karunia Ilahi memperstukan dua hati. Pernikahan kami akan diadakan Minggu depan. Ternyata ini jawaban dari semua do’a dan kesabaranku. Sungguh buah kesabaran itu begitu indah. Benar kata Asrar, kalau jodoh gak akan kemana”





2 Responses to "Ketika Hidayah Melambaikan Cinta (Cerpen)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel