Pemuda Juga Bisa Khotbah! Ini Dia Teknik yang Wajib Dilakukan Agar Tidak Grogi ! (Teknik Khitobah)




Khotbah Jumat identik dilakukan oleh seseorang yang sudah sepuh atau berkisar usia 40 hingga 50 tahun sehingga tidak sedikit  yang menyampaikan dengan nada lemas ala orang tua. Akibatnya, khotbah yang seharusnya di dengar oleh jamaah malah diabaikan dan tidak membekas dalam hati. Kondisi inilah yang membutuhkan peran pemuda untuk ikut andil di dalamnya, dan bisa ikut menjadi khatib jika memiliki ilmu pengetahuan agama yang mumpuni.


Teknik Bicara dalam Khotbah


Teknik berbicara adalah berbicara secara menarik dan jelas sehingga dapat dimengerti dan mencapai tujuan yang diharapkan di dalam komunikasi. Teknik berbicara di dalam berkomunikasi harus menyesuaikan diri antara komunikator dan komunikan kepada pesan (message) yang dipercakapkan. Secara sederhana, teknik berbicara di dalam komunikasi secara aktif dan efektif yang perlu diperhatikan di dalam khotbah  adalah sebagai berikut


1.Memilih Pokok atau  Topik Persoalan Untuk Dibicarakan


Khatib harus menghindari topik khotbah yang tidak memiliki landasan syariat, diantaranya membahas dunia politik yang tidak menggiring kaum muslimin untuk bertakwa. Jamaah hanya dijejali oleh jargon-jargon dan pemikiran politik yang dikutip dari televisi dan media sosial, namun materi khotbah kering dari ayat Al-Qur’an dan hadis. Untuk menjauhi praktik buruk dalam berkhotbah, setiap khatib harus memperhatikan deskripsi umum dari lingkup materi yang dapat disampaikan dalam khotbah, seperti berikut

·         Memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar mengenal Allah dan bertakwa kepada-Nya.
·          Mengajarkan berbagai prinsip dasar Islam pada masyarakat, seperti salat, puasa, haji, dan zakat.
·         Mengajak masyarakat untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
·         Memotivasi masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap perbuatannya.
·          Menganjurkan masyarakat agar bekerja sama dalam hal kebaikan, menjaga amanah, dan menumbuhkan semangat persaudaraan.
·         Membersihkan hati masyarakat dari berbagai mitos negatif yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam keyakinan sesat.
·         Mengutip syair dimaklumi hanya sekadar mendukung gagasan khotbah.
·         Memelihara sikap agar tidak berlebih-lebihan dalam khotbah
·         Mengamalkan surah-surah yang disunahkan dibaca dalam salat Jumat

Setelah selesai berkhotbah pada salat Jumat, khatib yang merangkap sebagai Imam hendaklah 
menggunakan surah-surah dalam salat berjamaah sesuai  yang disunahkan Nabi saw. Demikian pula pada salat berjamaah ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Dalam hadis riwayat ‘Abdullah Ibnu Maslamah, didapati informasi bahwa sejumlah sahabat mencontoh kebiasaan Nabi saw dalam salat Jumat membaca Surat Al-Jumu’ah setelah Fatihah pada rakaat pertama, dan membaca Surah Al-Munafiqun pada rakaat kedua.


Menyampaikan Khotbah dengan Semangat dan Bahasa yang Tegas, Serta Menghindari Humor


Dalam menyampaikan isi khotbah, seorang khatib harus bersemangat dan mampu pula membangkitkan semangat serta perhatian jama’ah yang sedang mendengar. Membangkitkan semangat harus dapat dilakukan dengan suara yang kuat, bahasa yang tegas, dan retorika (seni berbicara) yang baik.

Khotbah yang baik adalah yang dapat menggugah kesadaran jama’ah untuk bangkit dari kealpaan nya agar menjadi muslim yang bertakwa, serta bermanfaat dalam kehidupan sosial. Agar khotbah berkesan dan menggugah jamaah, khatib dilarang menggunakan kata-kata humor karena dapat membuat pendengar tertawa yang berakibat rusaknya ibadah, baik pada salat Jum’at, Idul Fitri, maupun Idul Adha.

 Pemahaman terhadap hal demikian dapat diperhatikan melalui hadis berikut
وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْش (اخرجه المسلم)


“Muhammad ibn al-Mutsanna dari ‘Abd al-Wahhab ibn ‘Abd al-Majid dari Ja’far ibn Muhammad dari ayahnya dari Jabir ibn ‘Abdullah, ia berkata: “Rasulullah saw. apabila berkhotbah kelihatan merah kedua matanya, suaranya keras, dan semangatnya bangkit bagaikan seorang panglima yang memperingatkan kedatangan musuh”
(HR. Muslim)


Menghindari Tergesa-gesa dalam Menyampaikan Khotbah Kedua dan Tidak Membatasinya pada Shalawat dan Do’a.


Khatib harus menyeimbangkan antara penyampaian khotbah pertama dan khotbah yang kedua. Kedua khotbah harus disampaikan dengan tenang dan lantang, tanpa ada unsur tindakan dan sikap khatib mengurangi “hak penyampaian” pada khotbah kedua.

Realita yang ditemukan di masyarakat, banyak khatib yang hanya memandang penting khotbah pertama saja dan agak mengabaikan khotbah kedua. Kondisi demikian terlihat pada khatib yang hanya teratur, tenang dan lantang dalam menyampaikan isi khotbah pertama, namun pada khotbah kedua, ia menyampaikan dengan cepat dan suara yang tidak lantang.

Praktik seperti inilah yang bertentangan dengan sunah Nabi saw. Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa di antara hal-hal yang dimakruhkan selama berkhotbah adalah tergesa-gesa dalam menyampaikan khotbah kedua dan tidak melantangkan suara ketika menyampaikannya.


 Menghindari Membaca Petikan Ayat Dengan Suara Berbeda


Pada umumnya ulama melarang para khatib membaca ayat Al-Qur’an dengan intonasi suara yang berbeda antara penggalan ayat yang satu dengan lainnya pada suatu ayat yang sedang dibacakan. Terkadang khatib yang berbuat seperti itu bertujuan agar jama’ah terpesona dengan suaranya yang berirama dan menarik perhatian pendengar. Tindakan tersebut harus hindari oleh seorang khatib, karena Nabi saw. tidak pernah mencontohkan demikian.


Menyertakan dalil Al-Qur’an dan Hadis dalam Khotbah


Dalil Al-Qur’an dan Hadis Nabi saw. adalah landasan yang paling utama dan kokoh dalam berkhutbah. Sebelum khatib menguraikan materi khutbahnya, khatib hendaklah terlebih dahulu menjelaskan kepada jama’ah topik apa yang akan dibahas atau masalah apa yang akan diulas. Kemudian khatib membacakan ayat Al-Qur’an sebagai landasan pembahasan yang dipandang relevan dengan topik yang disampaikan.

Setelah itu, materi khotbah akan lebih mantap apabila dikemukakan dengan hadis-hadis pendukung atau pendapat para ulama terkemuka yang berkaitan dengan topik atau materi tersebut. Karena itu, seorang khatib harus menghindari penyampaian materi khotbah berdasarkan karangan dan ide pemikirannya sendiri tanpa mempergunakan dalil Al-Qur’an dan Sunah. 

Hendaklah Menyampaikan Khotbah yang  Kontekstual


Khatib yang baik, cerdas dan ‘arif, adalah yang mampu menyampaikan materi khotbahnya relevan dengan fenomena dan kondisi yang dialami oleh masyarakat setempat, atau yang sedang hangat-hangatnya menjadi problematika yang dihadapi kaum Muslimin. Selain itu, gagasan yang disampaikan melalui materi khotbah tersebut mampu menjawab dan memberikan solusi terhadap permasalahan kontemporer yang sedang dihadapi umat, baik dalam lingkup duniawi maupun ukhrawi.

Khotbah yang efektif adalah relevan dengan konteks kehidupan zaman, situasi, dan kondisi yang sedang berlangsung. Ketika saat puasa Ramadan misalnya, hendaknya khatib menjelaskan hukum, tujuan, dan hikmah berpuasa, atau keistimewaan bulan Ramadan, atau nilai pendidikan dan manfaat kesehatan yang terkandung dalam ibadah puasa itu.  Kurang tepat konteksnya, jika pada saat Ramadan itu yang dibahas oleh khatib tentang ibadah haji, atau materi yang tidak sesuai dengan musimnya.

Menghindari Mengobral Aib Seseorang Melalui Khotbah


Meskipun khotbah adalah salah satu media untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, namun khatib sebagai juru dakwah tidak boleh menyerang seseorang secara terang-terangan. Yakni membeberkan kejelekan atau membuka ‘aib orang lain yang berakibat seseorang merasa terpojok dan malu di hadapan jama’ah. Padahal untuk masalah ini Nabi saw. telah berpesan kepada para sahabatnya tentang etika menasihati pejabat pemerintahan yang dapat dipahami melalui hadis berikut

قال عياض لهشام: قد سمعنا ما سمعت، ورأينا ما رأيت، أولم تسمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «من أراد أن ينصح لذي سلطان بأمر فلا يبده له علانية، ولكن ليأخذ بيده فيخلو به، فإن كان قبل منه فذاك، وإلا قد كان أدى الذي عليه» (اخرجه الطبراني)


“Iyadh berkata kepada Hisyam: “Sesungguhnya kami mendengar sesuatu yang engkau dengar, dan kami melihat sesuatu yang engkau lihat, atau tidakkah engkau mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa ingin menasihati penguasa, maka janganlah ia mengungkapkannya secara terang-terangan. Tetapi, hendaknya ia menemuinya dan (menyampaikan nasihat) kepadanya saat sendirian. Jika ia menerima, maka itu sangat baik, namun jika ia tidak menerima, berarti ia telah melaksanakan kewajibannya” (HR. Al-Thabrani).

Adapun sikap yang baik dari seorang khatib ketika membahas penyimpangan atau kemungkaran yang terjadi di kalangan pejabat pemerintahan adalah dengan sindiran atau menyinggung pokok persoalan secara umum, tanpa harus menyatakannya secara terbuka, apalagi menyebutkan nama dan identitasnya.

Menggunakan Bahasa Khotbah Sesuai dengan Kemampuan Berpikir Jamaah


Khatib yang ‘arif memahami tingkat intelektualitas jamaah yang menjadi objek dakwahnya, sehingga ia memilih pola bahasa yang digunakan dan materi yang disampaikan. Selain itu ia juga menerapkan metode yang tepat agar materi khotbah yang diuraikan dapat dipahami dengan mudah oleh jamaah dan berkesan di hati sanubari mereka. Hal ini mampu memotivasi umat untuk bangkit dengan kesadarannya yang tulus, sehingga dapat mengamalkan sesuatu yang disampaikan khatib dalam upaya pembaharuan dan peningkatan ketakwaan kepada Allah swt.

Menyampaikan Apa yang Telah Diperbuat


Khatib adalah sosok yang diteladani umat, karena itu khatib yang baik adalah da’i yang konsisten antara sesuatu yang disampaikannya dengan apa yang diperbuatnya. Lebih teladan lagi, apa yang dikhotbahkan di depan jamaah sudah terlebih dahulu dilakukan atau diamalkannya.

Sejatinya, figur khatib model inilah yang harus dihasilkan oleh lembaga pengkaderan dakwah Islam. Khatib seperti inilah yang benar-benar takut dan waspada terhadap teguran keras dari Allah yang terdapat dalam Surah Al-Shaf ayat 2-3[1]:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2)
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ الَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.

Demikianlah beberapa hal mudah yang bisa dipraktikkan pemuda untuk bisa menjadi seorang khatib dalam salat Jumat. Ghirah atau semangat dakwah dan pengetahuan yang up to date dari pemuda ini bisa dimanfaatkan untuk menjadi seorang khatib yang bisa lebih mengena di hati jamaahnya. Selain itu, kondisi mengantuk yang sering terjadi juga bisa dikurangi degan lantang nya suara pemuda.




[1] https://www.facebook.com/notes/abdul-karim/panduan-khutbah-menuju-terbentuknya-khatib-yang-profesional-bag-02/829144620434693/

0 Response to "Pemuda Juga Bisa Khotbah! Ini Dia Teknik yang Wajib Dilakukan Agar Tidak Grogi ! (Teknik Khitobah)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel