Pemuda Juga Bisa Khotbah! Ini Dia Teknik yang Wajib Dilakukan Agar Tidak Grogi ! (Teknik Khitobah)
Monday, March 2, 2020
Add Comment
Khotbah Jumat identik dilakukan oleh
seseorang yang sudah sepuh atau berkisar usia 40 hingga 50 tahun sehingga tidak
sedikit yang menyampaikan dengan nada
lemas ala orang tua. Akibatnya, khotbah yang seharusnya di dengar oleh jamaah
malah diabaikan dan tidak membekas dalam hati. Kondisi inilah yang membutuhkan
peran pemuda untuk ikut andil di dalamnya, dan bisa ikut menjadi khatib jika
memiliki ilmu pengetahuan agama yang mumpuni.
Teknik Bicara dalam Khotbah
Teknik
berbicara adalah berbicara secara menarik dan jelas sehingga dapat dimengerti
dan mencapai tujuan yang diharapkan di dalam komunikasi. Teknik berbicara di
dalam berkomunikasi harus menyesuaikan diri antara komunikator dan komunikan
kepada pesan (message) yang dipercakapkan. Secara sederhana, teknik berbicara di dalam komunikasi
secara aktif dan efektif yang perlu diperhatikan di dalam khotbah adalah sebagai berikut
1.Memilih Pokok atau Topik Persoalan Untuk Dibicarakan
Khatib harus menghindari topik khotbah
yang tidak memiliki landasan syariat, diantaranya membahas dunia politik yang
tidak menggiring kaum muslimin untuk bertakwa. Jamaah hanya dijejali oleh
jargon-jargon dan pemikiran politik yang dikutip dari televisi dan media sosial,
namun materi khotbah kering dari ayat Al-Qur’an dan hadis. Untuk menjauhi praktik
buruk dalam berkhotbah, setiap khatib harus memperhatikan deskripsi umum dari
lingkup materi yang dapat disampaikan dalam khotbah, seperti berikut
·
Memberikan
penyuluhan kepada masyarakat agar mengenal Allah dan bertakwa kepada-Nya.
·
Mengajarkan berbagai prinsip dasar Islam pada
masyarakat, seperti salat, puasa, haji, dan zakat.
·
Mengajak
masyarakat untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
·
Memotivasi
masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap perbuatannya.
·
Menganjurkan masyarakat agar bekerja sama
dalam hal kebaikan, menjaga amanah, dan menumbuhkan semangat persaudaraan.
·
Membersihkan
hati masyarakat dari berbagai mitos negatif yang dapat menjerumuskan mereka ke
dalam keyakinan sesat.
·
Mengutip
syair dimaklumi hanya sekadar mendukung gagasan khotbah.
·
Memelihara
sikap agar tidak berlebih-lebihan dalam khotbah
·
Mengamalkan
surah-surah yang disunahkan dibaca dalam salat Jumat
Setelah selesai berkhotbah pada salat
Jumat, khatib yang merangkap sebagai Imam hendaklah
menggunakan surah-surah
dalam salat berjamaah sesuai yang disunahkan
Nabi saw. Demikian pula pada salat berjamaah ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Dalam
hadis riwayat ‘Abdullah Ibnu Maslamah, didapati informasi bahwa sejumlah sahabat
mencontoh kebiasaan Nabi saw dalam salat Jumat membaca Surat Al-Jumu’ah setelah
Fatihah pada rakaat pertama, dan membaca Surah Al-Munafiqun pada rakaat kedua.
Menyampaikan Khotbah dengan Semangat dan Bahasa yang Tegas, Serta Menghindari Humor
Dalam menyampaikan isi khotbah,
seorang khatib harus bersemangat dan mampu pula membangkitkan semangat serta perhatian
jama’ah yang sedang mendengar. Membangkitkan semangat harus dapat dilakukan
dengan suara yang kuat, bahasa yang tegas, dan retorika (seni berbicara) yang
baik.
Khotbah yang baik adalah yang dapat
menggugah kesadaran jama’ah untuk bangkit dari kealpaan nya agar menjadi muslim
yang bertakwa, serta bermanfaat dalam kehidupan sosial. Agar khotbah berkesan
dan menggugah jamaah, khatib dilarang menggunakan kata-kata humor karena dapat membuat
pendengar tertawa yang berakibat rusaknya ibadah, baik pada salat Jum’at, Idul
Fitri, maupun Idul Adha.
Pemahaman terhadap hal demikian dapat diperhatikan
melalui hadis berikut
وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْش (اخرجه المسلم)
“Muhammad
ibn al-Mutsanna dari ‘Abd al-Wahhab ibn ‘Abd al-Majid dari Ja’far ibn Muhammad
dari ayahnya dari Jabir ibn ‘Abdullah, ia berkata: “Rasulullah saw. apabila
berkhotbah kelihatan merah kedua matanya, suaranya keras, dan semangatnya
bangkit bagaikan seorang panglima yang memperingatkan kedatangan musuh”
(HR. Muslim)
Menghindari Tergesa-gesa dalam Menyampaikan Khotbah Kedua dan Tidak Membatasinya pada Shalawat dan Do’a.
Khatib
harus menyeimbangkan antara penyampaian khotbah pertama dan khotbah yang kedua.
Kedua khotbah harus disampaikan dengan tenang dan lantang, tanpa ada unsur
tindakan dan sikap khatib mengurangi “hak penyampaian” pada khotbah kedua.
Realita
yang ditemukan di masyarakat, banyak khatib yang hanya memandang penting
khotbah pertama saja dan agak mengabaikan khotbah kedua. Kondisi demikian
terlihat pada khatib yang hanya teratur, tenang dan lantang dalam menyampaikan
isi khotbah pertama, namun pada khotbah kedua, ia menyampaikan dengan cepat dan
suara yang tidak lantang.
Praktik
seperti inilah yang bertentangan dengan sunah Nabi saw. Imam al-Nawawi
menjelaskan bahwa di antara hal-hal yang dimakruhkan selama berkhotbah adalah
tergesa-gesa dalam menyampaikan khotbah kedua dan tidak melantangkan suara
ketika menyampaikannya.
Menghindari Membaca Petikan Ayat Dengan Suara Berbeda
Pada umumnya ulama melarang para
khatib membaca ayat Al-Qur’an dengan intonasi suara yang berbeda antara penggalan
ayat yang satu dengan lainnya pada suatu ayat yang sedang dibacakan. Terkadang
khatib yang berbuat seperti itu bertujuan agar jama’ah terpesona dengan
suaranya yang berirama dan menarik perhatian pendengar. Tindakan tersebut harus
hindari oleh seorang khatib, karena Nabi saw. tidak pernah mencontohkan
demikian.
Menyertakan dalil Al-Qur’an dan Hadis dalam Khotbah
Dalil
Al-Qur’an dan Hadis Nabi saw. adalah landasan yang paling utama dan kokoh dalam
berkhutbah. Sebelum khatib menguraikan materi khutbahnya, khatib hendaklah
terlebih dahulu menjelaskan kepada jama’ah topik apa yang akan dibahas atau
masalah apa yang akan diulas. Kemudian khatib membacakan ayat Al-Qur’an sebagai
landasan pembahasan yang dipandang relevan dengan topik yang disampaikan.
Setelah
itu, materi khotbah akan lebih mantap apabila dikemukakan dengan hadis-hadis
pendukung atau pendapat para ulama terkemuka yang berkaitan dengan topik atau
materi tersebut. Karena itu, seorang khatib harus menghindari penyampaian
materi khotbah berdasarkan karangan dan ide pemikirannya sendiri tanpa
mempergunakan dalil Al-Qur’an dan Sunah.
Hendaklah Menyampaikan Khotbah yang Kontekstual
Khatib
yang baik, cerdas dan ‘arif, adalah yang mampu menyampaikan materi khotbahnya
relevan dengan fenomena dan kondisi yang dialami oleh masyarakat setempat, atau
yang sedang hangat-hangatnya menjadi problematika yang dihadapi kaum Muslimin.
Selain itu, gagasan yang disampaikan melalui materi khotbah tersebut mampu
menjawab dan memberikan solusi terhadap permasalahan kontemporer yang sedang
dihadapi umat, baik dalam lingkup duniawi maupun ukhrawi.
Khotbah
yang efektif adalah relevan dengan konteks kehidupan zaman, situasi, dan
kondisi yang sedang berlangsung. Ketika saat puasa Ramadan misalnya, hendaknya
khatib menjelaskan hukum, tujuan, dan hikmah berpuasa, atau keistimewaan bulan
Ramadan, atau nilai pendidikan dan manfaat kesehatan yang terkandung dalam
ibadah puasa itu. Kurang tepat konteksnya,
jika pada saat Ramadan itu yang dibahas oleh khatib tentang ibadah haji, atau
materi yang tidak sesuai dengan musimnya.
Menghindari Mengobral Aib Seseorang Melalui Khotbah
Meskipun
khotbah adalah salah satu media untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar,
namun khatib sebagai juru dakwah tidak boleh menyerang seseorang secara
terang-terangan. Yakni membeberkan kejelekan atau membuka ‘aib orang lain yang
berakibat seseorang merasa terpojok dan malu di hadapan jama’ah. Padahal untuk
masalah ini Nabi saw. telah berpesan kepada para sahabatnya tentang etika
menasihati pejabat pemerintahan yang dapat dipahami melalui hadis berikut
قال عياض لهشام: قد سمعنا ما سمعت، ورأينا ما رأيت، أولم تسمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «من أراد أن ينصح لذي سلطان بأمر فلا يبده له علانية، ولكن ليأخذ بيده فيخلو به، فإن كان قبل منه فذاك، وإلا قد كان أدى الذي عليه» (اخرجه الطبراني)
“Iyadh berkata kepada Hisyam:
“Sesungguhnya kami mendengar sesuatu yang engkau dengar, dan kami melihat
sesuatu yang engkau lihat, atau tidakkah engkau mendengar Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa ingin menasihati penguasa, maka janganlah ia mengungkapkannya
secara terang-terangan. Tetapi, hendaknya ia menemuinya dan (menyampaikan nasihat)
kepadanya saat sendirian. Jika ia menerima, maka itu sangat baik, namun jika ia
tidak menerima, berarti ia telah melaksanakan kewajibannya” (HR. Al-Thabrani).
Adapun
sikap yang baik dari seorang khatib ketika membahas penyimpangan atau kemungkaran
yang terjadi di kalangan pejabat pemerintahan adalah dengan sindiran atau
menyinggung pokok persoalan secara umum, tanpa harus menyatakannya secara
terbuka, apalagi menyebutkan nama dan identitasnya.
Menggunakan Bahasa Khotbah Sesuai dengan Kemampuan Berpikir Jamaah
Khatib
yang ‘arif memahami tingkat intelektualitas jamaah yang menjadi objek
dakwahnya, sehingga ia memilih pola bahasa yang digunakan dan materi yang
disampaikan. Selain itu ia juga menerapkan metode yang tepat agar materi khotbah
yang diuraikan dapat dipahami dengan mudah oleh jamaah dan berkesan di hati sanubari
mereka. Hal ini mampu memotivasi umat untuk bangkit dengan kesadarannya yang
tulus, sehingga dapat mengamalkan sesuatu yang disampaikan khatib dalam upaya
pembaharuan dan peningkatan ketakwaan kepada Allah swt.
Menyampaikan Apa yang Telah Diperbuat
Khatib
adalah sosok yang diteladani umat, karena itu khatib yang baik adalah da’i yang
konsisten antara sesuatu yang disampaikannya dengan apa yang diperbuatnya.
Lebih teladan lagi, apa yang dikhotbahkan di depan jamaah sudah terlebih dahulu
dilakukan atau diamalkannya.
Sejatinya,
figur khatib model inilah yang harus dihasilkan oleh lembaga pengkaderan dakwah
Islam. Khatib seperti inilah yang benar-benar takut dan waspada terhadap
teguran keras dari Allah yang terdapat dalam Surah Al-Shaf ayat 2-3[1]:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2)
Hai orang-orang yang beriman, mengapa
kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ الَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)
Amat besar kebencian di sisi Allah
bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.
Demikianlah
beberapa hal mudah yang bisa dipraktikkan pemuda untuk bisa menjadi seorang
khatib dalam salat Jumat. Ghirah atau semangat dakwah dan pengetahuan yang up
to date dari pemuda ini bisa dimanfaatkan untuk menjadi seorang khatib yang
bisa lebih mengena di hati jamaahnya. Selain itu, kondisi mengantuk yang sering
terjadi juga bisa dikurangi degan lantang nya suara pemuda.
[1]
https://www.facebook.com/notes/abdul-karim/panduan-khutbah-menuju-terbentuknya-khatib-yang-profesional-bag-02/829144620434693/

0 Response to "Pemuda Juga Bisa Khotbah! Ini Dia Teknik yang Wajib Dilakukan Agar Tidak Grogi ! (Teknik Khitobah)"
Post a Comment