Puisi Essay Dakwah CIntamu
Wednesday, October 30, 2019
Add Comment
Mengisahkan tentang perjuangan hidup seorang wanita di lingkungan yang minoritas muslim, dengan sedikit bumbu kisah cinta yang sederhana. Puisi essay karya Fitria NP ini pernah diikutkan lomba puisi essay bertajuk cinta, karena tidak masuk kategori, maka dipublikasikan disini, Selamat membaca, semoga bermanfaat dan jangan lupa siapka tissue
Dakwah Cintamu
Oleh Fitria NP
/1/
Di tengah kicau burung yang
menyuarakan semangat pagi
Ia hadapkan wajah didepan
cermin
Tampak gurat kecemasan dan
kegembiraan
dari wajahnya yang berseri
Gadis yang bernama Asrar
menutup mahkotanya dengan
jilbab putih bersih
Bibirnya yang mungil tampak
bergetar
Melafadzkan nama Allah
‘Bismillahirrahmanirrahim”
Ya Allah aku behijab
karena Mu
Kuatkanlah dan
Istiqomahkanlah aku
Jangan biarkan cobaan ini
membuatku melepaskan
identitas kemuslimahanku
Lirih Asrar dalam Do’anya
Sudah 3 tahun ia membalut
makhotaya
Dengan kain panjang yang
menjulur ke dada
Bukan hal yang mudah
menggunakan sepotong kain itu
Ditengah masyarakat yang mayoritas
beragama Hindu
Bukan hal yang mudah baginya
untuk beristiqomah
menjaga balutan kain itu
Ditengah kaum adam
yang mengaku sebagai ikhwan[1]
sholeh
Yang senantiasa mengusik
jiwanya
Tampak setitik air bening
menetes dari pelupuk matanya
Ia teringat akan teman-teman
sebayanya
Yang kian hari kian
menjauhinya
Hanya karena jilbab panjang
yang ia kenakan
Entah apa salah dan dosanya
menggunakan jilbab
Ia
hanya ingin menjalankan ajaran agamanya secara kaffah[2]
/2/
Teringat kembali peristiwa pahit yang dialaminya
Ketika ia masih rapuh tanpa semangat
Siang itu matahari tampak lebih terik dari biasanya
Udara panas semakin membakar
dan memeras keringat
dimanapun mata memandang
tampak orang mengibaskan kipas keangkuhan mereka
berusaha menghilangkan hawa panas yang yang diturunkan Sang Pencipta
untuk meluluhkan hati-hati yang beku dan lupa akan TuhanNya
Hari itu adalah hari
pertamanya
Menempati kostan kecil di pusat
kota wisata
Kostan yang membuatnya seakan
dikelilingi oleh api neraka
Bagaimana tidak
Tempat kostnya berada
ditengah-tengah kost putra
Yang penghuninya adalah para
turis asing
Serta mahasiswa hindu yang
sangat radikal
Dengan gaya hidup mereka yang sangat bebas
Ia ingat saat itu ia tidak
betah tinggal di kost
Ia ingin menghirup udara
luar yang dipikirnya lebih baik
Namun petaka yang terjadi
Gadis itu terlempar di
jalanan
Dengan derai air mata yang terus
mengalir
Didampingi jilbab birunya
yang terlepas dari sang mahkota
Teganya berandalan kafir[3]
itu
Menjadikannya korban hinaan dan ejekan
Mereka melepas jilbab birunya
secara paksa
Lalu mengambil semua harta miliknya
Bukanlah hilangnya uang yang
ia tangiskan
Bukan pula kalung emas yang
ia kenakan
Tapi perhiasan yang jauh berharaga dari semua itu
Yang hanya ingin ia
persembahkan untuk suaminya kelak
Yang membuatnya tak berhenti
menangis
Rambut hitamnya yang indah
itu
Aurat yang wajib ditutupinya
Kini menjadi tontonan
laki-laki yang bukan mahramnya[4]
/3/
“Sabarlah dek, jangan kau
ratapi apa yang terjadi padamu
Berbahagialah,karena Allah
menyayangimu
Dia mengujiMu karena Dia
tau
Kau adalah gadis yang
mampu menghadapi ujian ini
Butir mutiara yang terhempas
di lumpur hitam
Butir mutiara yang akan
tetap jadi mutiara
Walaupun hitamnya lumpur
mengelilinginya
Jangan takut dan bersedih
Sesungguhnya Allah bersama
kita
Kata kata lelaki bernama
Fahrul itu
Selalu terngiang ditelinganya
Kata-kata penyemangat
Yang keluar dari laki-laki
Yang tiba-tiba datang
menolongnya
Saat kaum kafir melucuti
jilbab birunya kala itu
Di depan cermin itu
Wajahnya yang sejuk
mulai mengembangkan senyum
kegembiraan
Ia sadar, dipulau dewata ini
ia tidak sendiri
Ada Fahrul yang senantiasa
mendorong semangatnya
Untuk tetap beristiqomah
menjalankan syariat
Walaupun ia tahu fahrul bukan
siapa-siapa
Ia bukan saudara dan juga
bukan mahromnya
Mutiara itu berbalik dari
cermin
Dengan basmallah ia
langkahkan kaki
Menuju ke kampus
Yang baginya ladang ujian
keimannnya
Sebuah universitas negeri
Yang mahasiswanya mayoritas
Hindu
Sebuah universitas besar
ternama
Yang penghuninya adalah
pengagung kebebasan
Pecinta seks dan miras
oplosan
/4/
Hari ini ia ada kuliah siang
Sehingga dengan terpaksa ia
berangkat siang
Hal yang menurutnya sangat
memalaskan jiwa
Karena ketika siang hari
Sang penghina dan pengumpat
pasti sudah bangun
Orang-orang yang kost disekelilingnya
Akan memutar bola matanya
melihat kearahnya
Lalu bibir busuk mereka akan mengumpat
Dengan umpatan yang sangat
memekakkan telinganya
Namun demi sebuah ilmu
Ia bulatkan tekad untuk tetap
datang kekampus
Ia ingat sebuah hadis yang
mengatakan
Bahwa malaikat akan
mengepakkan sayapnya
Dan mendoakan orang yang
sedang pergi menuntut ilmu
Karena Allah[5]
Hati-hati kalian dengan
teroris sepertinya
Dia bukan hanya teroris
sekelas amrozi
Tapi dia juga teroris
sekelas gayus tambunan
Demikian bisik-bisik orang
disekelilingnya
Ketika melihatnya keluar dari
kost
Kata-kata yang menyambar daun telinganya
Membuat gendang telinganya
serasa hampir pecah
Demikian tega mereka
mengatakan aku teroris
Lagi-lagi karena jilbab
panjang yang aku kenakan
Padahal sesungguhnya
merekalah yang teroris
Mereka teroris akhlak
Yang membangkitkan syahwat
dengan baju ketat
Gumamnya dalam kesendirian
Tapi semua orang memandang
asing jilbaber sepertinya
Sementara memandang hal yang
wajar
Jika melihat para wanita
mengenakan pakaian serba minim
Teringat kembali dalam
pikirannya
Sebuah hadis yang selalu
menghiburnya
Ditengah perjuangannya
Mengistiqomahkan diri
ditengah ujian
“sesungguhnya pertama kali
islam datang Ia dipandang asing
Dan akan kembali dipandang
asing
Maka bahagialah orang
asing itu
Yaitu orang yang
mengerjakan kebaikan
Ditengah orang-orang yang
mengerjakan keburukan[6]
/5/
Dibawah teriknya mentari
siang itu
Fahrul datang menghampirinya
yang baru pulang kuliah
Serentak jantungnya berdegup
kencang
Tak bisa ia pungkiri, dalam
hatinya menyimpan perasaan
Pada laki-laki yang selalu
menjadi pendukungnya itu
Laki-laki yang suaranya
selalu menggetarkan jantung
Ketika lantunan ayat suci al
Quran dibacakan
Dari mushola kecil tempatnya
biasa mengajar mengaji
Anak-anak muslim yang
terpinggirkan oleh masyarakat kota
Laki-laki yang selalu membuat
aliran darahnya mengalir deras
Ketika senyuman kecil
tersungging dari wajah bersihnya
Ketika berpapasan dengannya
Laki-laki yang melemahkan
ibadahnya
Dan menyuntikkan virus cinta
direlung hatinya yang terdalam
Entah virus cinta karena
syahwat
Atau virus cinta karena Allah
‘Assalamualaykum dek’ sapa
fahrul
‘waalaikumussalam kak’ jawabnya dengan wajah merona
Pandangannya menunduk dalam
Sekuat tenaga ia menahan
Perasaannya
Sementara fahrul mulai mengucapkan sesuatu
Suatu kalimat yang menurut
Asrar tidak penting
Tidak seperti biasa Fahrul
mengajaknya ngobrol
Yang sama sekali tidak
membicaraka tenang agama dan akidah
Sampai akhirnya petaka itu
terucap juga dari bibir Fahrul
Suatu kalimat yang semakin
menyiksa hatinya
‘aku mencintaimu dek
Bolehkan aku menjalin
hubungan lebih dekat denganmu?’
Kata-kata itu bagaikan guntur
Yang menyambar jantung
hatinya
Bibir asrar kelu,matanya
berkaca-kaca
Ia tak tahu harus gembira
atau sedih
Ia gembira karena perasaannya
terbalas
Namun ia juga sedih
Karena ternyata laki-laki
yang didepannya
Tidak tahu akan syariat agama
Agama Islam jelas melarang
hubungan dengan lawan jenis
Selain hubungan pernikahan
Ternyata ayat al quran yang
dibaca dengan indah
Dari mulutnya
Hanyalah sebuah estetika
belaka
Tanpa ia memahami akan
syariat yang dibicarakan didalamnya
Dengan berat Asrar
menggelengkan kepala
‘Maafkan aku kak,aku hanya
ingin hubungan yang halal
Kau tahu islam melarang
hubungan dengan lawan jenis
Selain pernikahan
Dan pacaran itu tidak
pernah ada dalam islam
Aku memang mencintaimu
Tapi kau harus tau,aku
lebih mencintai Tuhanku,Allah
Assalamualaykum
Ujar Asrar sambil menunduk
lalu pergi
Sementara tubuh fahrul
bergetar hebat
Kata-kata Asrar masih
terngiang ditelinganya
‘Aku lebih mencintai
Tuhanku,Allah”
Ia tersadar akan khilafnya
Ia muslim, tapi tak pernah
memperhatikan syariat Allah
‘Ya Allah ampuni
kesalahanku’ lirihnya
/6/
Dibalik tabir itu ia menangis
sambil menatap rembulan
Ada sedikit penyesalan dalam
hatinya
Orang yang selama ini ia
cintai
Harus ia jauhi demi menjaga
kecintaannya pada Ilahi
Lalu siapakah orang yang akan
membelanya
Ketika ia ditindas dan dihina
kaum kafir
Orangtuanya telah pergi
Saudaranya semua merantau
kepulau sebrang
Sementara ia sendiri
Dengan keadaan asing dimata
masyarakat
Teman satu-satunya hanyalah
fahrul
Dan kini iapun harus menjauh
darinya
Ini memang salahnya
Mengapa sejak awal ia berani
berteman dengan lawan jenis
Yang semua itu justru akan
menjadi perusak hatinya
Walaupun lelaki itu selalu
mendukung prinsip agamanya
Namun dalam hal berhubungan
dengan lawan jenis
Ternyata ia tak tahu hukumnya
Sehingga berani menyatakan
perasaan
Yang membuat hatinya justru
hancur lebur
Saat ini ia masih berada di
semester 5
Setahun lagi ia baru bisa lulus
dari universitas negeri
Yang baginya bagaikan neraka
penyiksaan
Berarti setahu lamanya ia
harus kuat
Bertahan dipulau minoritas
islam
‘Tidak, aku tidak sendiri
Aku yakin Allah selalu
bersamaku’
Gumam Asrar sambil berlalu
Kini tangisnya pecah
disela-sela do’anya
Ia bersimpuh tak berdaya
dihadapan Tuhannya
‘Ya Rabbi,janganlah kau
uji hamba
Dengan ujian yang tak
sanggup hamba memikulnya
Ya Allah,jangan kau
biarkan aku dalam kesendirian
Kau adalah kekasih
terbaikku
Maka jagalah keimananku
Jika semua penderitaan ini
karena dosaku
maka ampunilah aku
Namun jika semua ini
ujianMu
Maka berikan aku kesabaran
Dalam menghadapinya’
Gadis itu akhirnya terlelap
Dibawah cahaya rembulan
Tersungkur diatas sajadah
Menikmati mimpi indah yang diberikan sang Pencipta
/7/
Pagi nampak suram
Awan mendung tadi malam
Belum juga menitikkan hujan
Namun juga enggan menghilang
Dari jendela kamarnya yang
bernuansa biru itu
Asrar menanti hujan turun
Ia sangat merindukan suaana
hujan
Yang membuat hatinya damai
dan tentram
Bibirnya terus berdzikir
Namun entah mengapa
Perasaannya saat itu sangat
tidak enak
walaupun ratusan dzikir telah
ia lantunkan
Bayangannya tentang fahrul
masih juga belum usai
Sebulan sejak kejadian itu
Ia sama sekali tak pernah
melihat Fahrul
Pernah suatu kali ia tanpa
sengaja bertemu
Namun mereka saling menunduk
tanpa berani bertegur sapa
Mungkin ia masih tidak terima
Dengan apa pennolakan yang ia
lakukan
Atau ungkin sudah ada orang
lain
Yang bisa menggantikan
posisinya
Demikian berbagai pikiran
buruk terus menghantui
Namun dzikir kepada Sang
Pencipta tak juga ia hentikan
Ia yakin akan firman Allah
Bahwa hanya dengan mengingat
Allah
Hati menjadi tenang[7]
/8/
Sore itu
Berteman dengan rayuan daun
Mahuni
Disepanjang jalan yang sejuk
Ia bertekad untuk menemui
Fahrul
Ia ingin meminta maaf jika
ada hal yang salah dari ucapannya
Langkahnya mantap menuju
mushola itu
Begitu melihat Asrar
Serentak anak-anak yang
sedang mengaji keluar mushola
Mereka berlomba untuk
bersalaman dengan asrar
Ada setitik kedamaian
dihatinya
Menyaksikan anak didiknya
‘bu ustad,kenapa gak pernah
ngajar kami
Bu ustad marah ya’
Teriak anak-anak itu
Asrar hanya tersenyum sambil
mmenggeleng
Pandangannya ia alihkan pada
mushola itu
Ia berharap sosok yang
dicarinya
Berada ditempat itu
Namun ia sedikit kecewa
Ketika melihat orang yang
mengajar anak-anak itu
Bukan Sosok yang dicarinya
Namun justru perempuan tua
Yang seketika tersenyum
Melihat kedatangannya
Asrar membalas senyum penuh
makna itu
Lalu mengucap salam dan
mengajaknya berbicara
‘Nak asrar ya?’ katanya
‘ia bu’
Serentak ibu tua itu
memeluknya
Lalu menumpahkan air mata
Dibahu Asrar yang masih
bingung
‘Ada surat untukmu nak’ katanya
‘dari siapa Bu?’
‘baca saja, semoga ini
bisa menjawab pertanyaan
Yang sedang melanda
hatimu’
/9/
Dengan tangan bergetar ia
membuka surat itu
Tubuhnya bergeta hebat
membaca kaliat Bismillah di sampulnya
Kalimat yang enyadarkan
hatinya
Bahwa apa yang ia lakukan
saat ini karena Allah
Membaca suratpun karena Allah
Bukan karena nafsu
penasarannya
Assalamualaikum
Ukhti Asrar Nuriyyah
Maafkan aku telah merusak
penjagaan hatimu
Hatimu yang tersimpan
cinta hanya pada Allah
Maafkan aku yang telah
merusak ketenanganmu
Ketenangan meribadah
kepada allah
Sebenarnya ingin aku
meminta maaf padamu
Ingin aku menebus
dosa-dosaku padamu
Dengan mengajakmu
menjalankan ibadah
Untuk membina cinta yang
Halal
Dibawah rumah tangga yang
islami dan epenuh dakwah
Namun aku tak memiliki
keberanian itu
Aku sadar siapalah aku
dimatamu
Aku hanya lelaki yang tak
faham agama
Yang mengajak wanita
shalihah sepertimu
Untuk menjalin hubungan
yang tak halal
Aku sungguh malu
Tapi aku juga sangat
berteimakasih padamu
Allah telah menyadarkanku
melalui dirimu
Bahwa cinta yang hakiki
hanya milik Allah
Dijalan Allah sepatutnya
aku bercinta
Karena jalan Allah akan
berujung surga
Mungkin engkau bingung
kemana aku selama ini
Sekali lagi maafku
kukirimkan untukmu dengan surat ini
Aku bukan lari darimu
Tapi aku sedang
memperbaiki diriku
Yang sudah jauh dariNya
Aku ingin dekat pada Allah
Sebelum aku benar-benar
akan menemuinya
Aku berterimakasih pada
Allah
Karena Dia berikan aku
penyakit
Yang mempercepat
pertemuanku poadaNya
Jujur aku sangat
merindukanNya
Walaupun aku masih ingin
berdakwah
Di pulau dewata ini
bersamamu
Walaupunkeigninanku untuk
hidup bersaamu
Belum lagi tercapai
Saat kau membaca surat ini
Mungkin ruhku sedang
ditarik malaikat Izrail
Atau justru aku telah
berada dialam lain
Mempeehatikan keanggunan
dan kesholehanmu
Namun walau demikian
Izinkanlah kuminta satu
hal padamu
Teruskanlah dakwahmu
bersama jilbab lebar yang kau pakai
Teruskanlah dakwahmu
Mengajarkan agama pada
generasi-generasi umat
Demi kebaikan pulau bali
tercinta ini
Walaupun aku tak bisa
menemani dakwahmu
Namun berdoalah agar aku
bisa menemanimu
DisurgaNya nanti
Aku menanti syahid mu
wahai bidadari surga
Wassalamualaikum
/10/
Wajah yang tegar itu
kini tersimpuh
Pelupuk mata yang jernih itu
Kini basah dengan air mata
‘ya Allah haramkah
perasaan ini’
Mengapa Kau biarkan
cintaku berakhir disini?
Aku hanya ingin cinta yang
halal
Bersamanya ya Allah
Asrar kini melangkahkan
kakinya
Menuju rumah sakit kediaman
fahrul
Yang alamatnya tertulis
diakhir surat
Ia berusaha melangkah walau
kakinya terasa berat
Laki-laki itu kini tersenyum
ke arahnhya
Wajahnya yang selalu berseri
itu kini tampak pucat
Tubuhnya lemah tak berdaya
Asrar hanya melihatnya sambil
terus berdzikir
Ia tak ingin hal ini membuatnya menangis
Seakan tak rela atas
ketentuan Allah
Seperti perempuan yang tak
beriman
‘teruskan dakwahmu,jangan
berhenti sapai kapanpun
Jangan dengarkan cemooh
mereka
Percayalah islam akan berkembang
di bali
Jika muslimnya berteguh
oendirian sepertimu
Kau pemula,
Dan aku harap kau tak
mengakhirinya sebelum kematianmu
Kata terakhir dari fahrul
Yang memaksakan diri untuk
tetap bicara
Ditengah sakit yang mendera
Sebelum akhirnya ia
bersyahadat
Dan pergi untuk selamanya
/11/
Kini Asrar berjalan sendiri
Ditengah kerasnya hidup
Ditengah gonggongan
orang-orang kafir
Yang terus saja menghinanya
Berat memang jika terus
dijalani
Namun ia sudah bertekad untuk
berdakwah sampai mati
Ia juga sudah mengurungkan
niatnya
Untuk pindah dari bali
setelah wisuda
Ia teringat pesan terakhir
dari fahrul
Bahwa ia harus meneruskan
dakwah di pulau dewata
Sampai mati
Demi Allah
Seandainya mereka meletakkah
matahati
Ditangan kananku
Kemudian bulan di tangan
kiriku
Dengan maksud agar aku
meninggalkan tugasku
Berdakwah dijalan Allah
Niscaya tak akan kutinggalkan
Hingga Allah memberi
kemenangan ditanganku
Atau aku binasa karenanya
Demikianlah prinsip hidup
Yang sudah berurat akar dalam
bayangan Asrar
Ia yakin
Ia bisa meneruskan jejak
istri rasulullah
Selama niat ia luruskan
karena Allah
***
[1] Panggilan untuk laki-laki
muslim, yang biasa digunakan oleh orang-orang yang baik agamanya atau sudah
ditarbiyyah
[2] Menjalankan ajaran islam
secara keseluruhan
[3] Orang yang tidak beragama
islam
[4] Dalam islam laki-laki dan
perempuan yang haram dinikahi disebut mahram.Islam mengajarkan untuk menjaga hubungan antara laki-laki dan
perempuan yang bukan mahramnya,karena sifatnya tidak halal sebelum dinikahi.
[5] Ini adalah HR At Tirmidzi
nomor 2606 yang diriwayatkan oleh Abu Darda
[6] Ini adalah ucapan
Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim
[7] QS Ar rad:28
0 Response to "Puisi Essay Dakwah CIntamu"
Post a Comment