Puisi Essay Dakwah CIntamu



Mengisahkan tentang perjuangan hidup seorang wanita di lingkungan yang minoritas muslim, dengan sedikit bumbu kisah cinta yang sederhana. Puisi essay karya Fitria NP ini pernah diikutkan lomba puisi essay bertajuk cinta, karena tidak masuk kategori, maka dipublikasikan disini, Selamat membaca, semoga bermanfaat dan jangan lupa siapka tissue


Dakwah Cintamu
Oleh Fitria NP

/1/

Di tengah kicau burung yang menyuarakan semangat pagi
Ia hadapkan wajah didepan cermin
Tampak gurat kecemasan dan kegembiraan
dari wajahnya yang berseri

Gadis yang bernama Asrar
menutup mahkotanya dengan jilbab putih bersih
Bibirnya yang mungil tampak bergetar
Melafadzkan nama Allah
‘Bismillahirrahmanirrahim”

Ya Allah aku behijab karena Mu
Kuatkanlah dan Istiqomahkanlah aku
Jangan biarkan cobaan ini
membuatku melepaskan identitas kemuslimahanku
Lirih Asrar dalam Do’anya

Sudah 3 tahun ia membalut makhotaya
Dengan kain panjang yang menjulur ke dada
Bukan hal yang mudah menggunakan sepotong kain itu
Ditengah masyarakat yang mayoritas beragama Hindu

Bukan hal yang mudah baginya untuk beristiqomah
menjaga balutan kain itu
Ditengah kaum adam
yang mengaku sebagai ikhwan[1] sholeh
Yang senantiasa mengusik jiwanya
Tampak setitik air bening menetes dari pelupuk matanya
Ia teringat akan teman-teman sebayanya
Yang kian hari kian menjauhinya

Hanya karena jilbab panjang yang ia kenakan
Entah apa salah dan dosanya menggunakan jilbab
Ia hanya ingin menjalankan ajaran agamanya secara kaffah[2]

            /2/
Teringat kembali peristiwa pahit yang dialaminya
Ketika ia masih rapuh tanpa semangat
Siang itu matahari tampak lebih terik dari biasanya
Udara panas semakin membakar  dan memeras keringat

dimanapun mata memandang
tampak orang mengibaskan kipas keangkuhan mereka
berusaha menghilangkan hawa panas yang  yang diturunkan Sang Pencipta
untuk meluluhkan hati-hati yang beku dan lupa akan TuhanNya

Hari itu adalah hari pertamanya
Menempati kostan kecil di pusat kota wisata
Kostan yang membuatnya seakan dikelilingi oleh api neraka

Bagaimana tidak
Tempat kostnya berada ditengah-tengah kost putra
Yang penghuninya adalah para turis asing
Serta mahasiswa hindu yang sangat radikal
Dengan  gaya hidup mereka yang sangat bebas

Ia ingat saat itu ia tidak betah tinggal di kost
Ia ingin menghirup udara luar  yang dipikirnya lebih baik
Namun petaka yang terjadi
Gadis itu terlempar di jalanan
Dengan derai air mata yang terus mengalir
Didampingi jilbab birunya yang terlepas dari sang mahkota

Teganya berandalan kafir[3] itu
Menjadikannya  korban hinaan dan ejekan
Mereka melepas jilbab birunya secara paksa
Lalu  mengambil semua harta miliknya

Bukanlah hilangnya uang yang ia tangiskan
Bukan pula kalung emas yang ia kenakan
Tapi  perhiasan yang jauh berharaga dari semua itu
Yang hanya ingin ia persembahkan untuk suaminya kelak
Yang membuatnya tak berhenti menangis

Rambut hitamnya yang indah itu
Aurat yang wajib ditutupinya
Kini menjadi tontonan laki-laki yang bukan mahramnya[4]

            /3/
Sabarlah dek, jangan kau ratapi apa yang terjadi padamu
Berbahagialah,karena Allah menyayangimu
Dia mengujiMu karena Dia tau
Kau adalah gadis yang mampu menghadapi ujian ini

Butir mutiara yang terhempas di lumpur hitam
Butir mutiara yang akan tetap jadi mutiara
Walaupun hitamnya lumpur mengelilinginya
Jangan takut dan bersedih
Sesungguhnya Allah bersama kita
Kata kata lelaki bernama Fahrul  itu
Selalu terngiang ditelinganya
Kata-kata penyemangat
Yang keluar dari laki-laki
Yang tiba-tiba datang menolongnya
Saat kaum kafir melucuti jilbab birunya kala itu

Di depan cermin itu
Wajahnya yang sejuk
mulai mengembangkan senyum kegembiraan
Ia sadar, dipulau dewata ini ia tidak sendiri

Ada Fahrul yang senantiasa mendorong semangatnya
Untuk tetap beristiqomah menjalankan syariat
Walaupun ia tahu fahrul bukan siapa-siapa
Ia bukan saudara dan juga bukan mahromnya

Mutiara itu berbalik dari cermin
Dengan basmallah ia langkahkan kaki
Menuju ke kampus
Yang baginya ladang ujian keimannnya

Sebuah universitas negeri
Yang mahasiswanya mayoritas Hindu
Sebuah universitas besar ternama
Yang penghuninya adalah pengagung kebebasan
Pecinta seks dan miras oplosan

            /4/
Hari ini ia ada kuliah siang
Sehingga dengan terpaksa ia berangkat siang
Hal yang menurutnya sangat memalaskan jiwa
Karena ketika siang hari
Sang penghina dan pengumpat pasti sudah bangun

Orang-orang  yang kost disekelilingnya
Akan memutar bola matanya melihat kearahnya
Lalu bibir busuk mereka akan mengumpat
Dengan umpatan yang sangat memekakkan telinganya

Namun demi sebuah ilmu
Ia bulatkan tekad untuk tetap datang kekampus
Ia ingat sebuah hadis yang mengatakan
Bahwa malaikat akan mengepakkan sayapnya
Dan mendoakan orang yang sedang pergi  menuntut ilmu
Karena Allah[5]

Hati-hati kalian dengan teroris sepertinya
Dia bukan hanya teroris sekelas amrozi
Tapi dia juga teroris sekelas gayus tambunan

Demikian bisik-bisik orang disekelilingnya
Ketika melihatnya keluar dari kost
Kata-kata yang  menyambar daun telinganya
Membuat gendang telinganya serasa  hampir pecah

Demikian tega mereka mengatakan aku teroris
Lagi-lagi karena jilbab panjang yang aku kenakan
Padahal sesungguhnya merekalah yang teroris
Mereka teroris akhlak
Yang membangkitkan syahwat dengan baju ketat
Gumamnya dalam kesendirian

Tapi semua orang memandang asing jilbaber sepertinya
Sementara memandang hal yang wajar
Jika melihat para wanita mengenakan pakaian serba minim

Teringat kembali dalam pikirannya
Sebuah hadis yang selalu menghiburnya
Ditengah perjuangannya
Mengistiqomahkan diri ditengah ujian

sesungguhnya pertama kali islam datang Ia dipandang asing
Dan akan kembali dipandang asing
Maka bahagialah orang asing itu
Yaitu orang yang mengerjakan kebaikan
Ditengah orang-orang yang mengerjakan keburukan[6]

/5/


Dibawah teriknya mentari siang itu
Fahrul datang menghampirinya yang baru pulang kuliah
Serentak jantungnya berdegup kencang
Tak bisa ia pungkiri, dalam hatinya menyimpan perasaan
Pada laki-laki yang selalu menjadi pendukungnya itu

Laki-laki yang suaranya selalu menggetarkan jantung
Ketika lantunan ayat suci al Quran dibacakan
Dari mushola kecil tempatnya biasa mengajar mengaji
Anak-anak muslim yang terpinggirkan oleh masyarakat kota

Laki-laki yang selalu membuat aliran darahnya mengalir deras
Ketika senyuman kecil tersungging dari wajah bersihnya
Ketika berpapasan dengannya

Laki-laki yang melemahkan ibadahnya
Dan menyuntikkan virus cinta direlung hatinya yang terdalam
Entah virus cinta karena syahwat
Atau virus cinta karena Allah

Assalamualaykum dek’ sapa fahrul
waalaikumussalam kak’ jawabnya dengan wajah merona
Pandangannya menunduk dalam
Sekuat tenaga ia menahan Perasaannya

Sementara fahrul mulai  mengucapkan sesuatu
Suatu kalimat yang menurut Asrar tidak penting
Tidak seperti biasa Fahrul mengajaknya ngobrol
Yang sama sekali tidak membicaraka tenang agama dan akidah

Sampai akhirnya petaka itu terucap juga dari bibir Fahrul
Suatu kalimat yang semakin menyiksa hatinya
aku mencintaimu dek
Bolehkan aku menjalin hubungan lebih dekat denganmu?’
Kata-kata itu bagaikan guntur
Yang menyambar jantung hatinya

Bibir asrar kelu,matanya berkaca-kaca
Ia tak tahu harus gembira atau sedih
Ia gembira karena perasaannya terbalas

Namun ia juga sedih
Karena ternyata laki-laki yang didepannya
Tidak tahu akan syariat agama
Agama Islam jelas melarang hubungan dengan lawan jenis
Selain hubungan pernikahan

Ternyata ayat al quran yang dibaca dengan indah
Dari mulutnya
Hanyalah sebuah estetika belaka
Tanpa ia memahami akan syariat yang dibicarakan didalamnya

Dengan berat Asrar menggelengkan kepala
Maafkan aku kak,aku hanya ingin hubungan yang halal
Kau tahu islam melarang hubungan dengan lawan jenis
Selain pernikahan
Dan pacaran itu tidak pernah ada dalam islam

Aku memang mencintaimu
Tapi kau harus tau,aku lebih mencintai Tuhanku,Allah
Assalamualaykum
Ujar Asrar sambil menunduk lalu pergi

Sementara tubuh fahrul bergetar hebat
Kata-kata Asrar masih terngiang ditelinganya
Aku lebih mencintai Tuhanku,Allah”
Ia tersadar akan khilafnya
Ia muslim, tapi tak pernah memperhatikan syariat Allah
Ya Allah ampuni kesalahanku’ lirihnya

            /6/
Dibalik tabir itu ia menangis sambil menatap rembulan
Ada sedikit penyesalan dalam hatinya
Orang yang selama ini ia cintai
Harus ia jauhi demi menjaga kecintaannya pada Ilahi
Lalu siapakah orang yang akan membelanya
Ketika ia ditindas dan dihina kaum kafir

Orangtuanya telah pergi
Saudaranya semua merantau kepulau sebrang
Sementara ia sendiri
Dengan keadaan asing dimata masyarakat

Teman satu-satunya hanyalah fahrul
Dan kini iapun harus menjauh darinya
Ini memang salahnya
Mengapa sejak awal ia berani berteman dengan lawan jenis
Yang semua itu justru akan menjadi perusak hatinya

Walaupun lelaki itu selalu mendukung prinsip agamanya
Namun dalam hal berhubungan dengan lawan jenis
Ternyata ia tak tahu hukumnya
Sehingga berani menyatakan perasaan
Yang membuat hatinya justru hancur lebur

Saat ini ia masih berada di semester 5
Setahun lagi ia baru bisa lulus dari universitas negeri
Yang baginya bagaikan neraka penyiksaan
Berarti setahu lamanya ia harus kuat
Bertahan dipulau minoritas islam

Tidak, aku tidak sendiri
Aku yakin Allah selalu bersamaku’
Gumam Asrar sambil berlalu

Kini tangisnya pecah disela-sela do’anya
Ia bersimpuh tak berdaya dihadapan Tuhannya
‘Ya Rabbi,janganlah kau uji hamba
Dengan ujian yang tak sanggup hamba memikulnya

Ya Allah,jangan kau biarkan aku dalam kesendirian
Kau adalah kekasih terbaikku
Maka jagalah keimananku

Jika semua penderitaan ini karena dosaku
maka ampunilah aku
Namun jika semua ini ujianMu
Maka berikan aku kesabaran
Dalam menghadapinya’

Gadis itu akhirnya terlelap
Dibawah cahaya rembulan
Tersungkur diatas sajadah
Menikmati  mimpi indah yang diberikan sang Pencipta

            /7/
Pagi nampak suram
Awan mendung tadi malam
Belum juga menitikkan hujan
Namun juga enggan menghilang

Dari jendela kamarnya yang bernuansa biru itu
Asrar menanti hujan turun
Ia sangat merindukan suaana hujan
Yang membuat hatinya damai dan tentram

Bibirnya terus berdzikir
Namun entah mengapa
Perasaannya saat itu sangat tidak enak
walaupun ratusan dzikir telah ia lantunkan

Bayangannya tentang fahrul masih juga belum usai
Sebulan sejak kejadian itu
Ia sama sekali tak pernah melihat Fahrul
Pernah suatu kali ia tanpa sengaja bertemu
Namun mereka saling menunduk tanpa berani bertegur sapa

Mungkin ia masih tidak terima
Dengan apa pennolakan yang ia lakukan
Atau ungkin sudah ada orang lain
Yang bisa menggantikan posisinya

Demikian berbagai pikiran buruk terus menghantui
Namun dzikir kepada Sang Pencipta tak juga ia hentikan
Ia yakin akan firman Allah
Bahwa hanya dengan mengingat Allah
Hati menjadi tenang[7] 
            /8/
Sore itu
Berteman dengan rayuan daun Mahuni
Disepanjang jalan yang sejuk
Ia bertekad untuk menemui Fahrul
Ia ingin meminta maaf jika ada hal yang salah dari ucapannya
Langkahnya mantap menuju mushola itu

Begitu melihat Asrar
Serentak anak-anak yang sedang mengaji keluar mushola
Mereka berlomba untuk bersalaman dengan asrar
Ada setitik kedamaian dihatinya
Menyaksikan anak didiknya

‘bu ustad,kenapa gak pernah ngajar kami
Bu ustad marah ya’
Teriak anak-anak itu
Asrar hanya tersenyum sambil mmenggeleng

Pandangannya ia alihkan pada mushola itu
Ia berharap sosok yang dicarinya
Berada ditempat itu

Namun ia sedikit kecewa
Ketika melihat orang yang mengajar anak-anak itu
Bukan Sosok yang dicarinya
Namun justru perempuan tua
Yang seketika tersenyum
Melihat kedatangannya

Asrar membalas senyum penuh makna itu
Lalu mengucap salam dan mengajaknya berbicara
‘Nak asrar ya?’  katanya
ia bu’
Serentak ibu tua itu memeluknya
Lalu menumpahkan air mata
Dibahu Asrar yang masih bingung

Ada surat untukmu nak’ katanya
dari siapa Bu?’
‘baca saja, semoga ini bisa menjawab pertanyaan
Yang sedang melanda hatimu’
            /9/
Dengan tangan bergetar ia membuka surat itu
Tubuhnya bergeta hebat membaca kaliat Bismillah di sampulnya
Kalimat yang enyadarkan hatinya
Bahwa apa yang ia lakukan saat ini karena Allah
Membaca suratpun karena Allah
Bukan karena nafsu penasarannya

Assalamualaikum
Ukhti Asrar Nuriyyah
Maafkan aku telah merusak penjagaan hatimu
Hatimu yang tersimpan cinta hanya pada Allah
Maafkan aku yang telah merusak ketenanganmu
Ketenangan meribadah kepada allah

Sebenarnya ingin aku meminta maaf padamu
Ingin aku menebus dosa-dosaku padamu
Dengan mengajakmu menjalankan ibadah
Untuk membina cinta yang Halal
Dibawah rumah tangga yang islami dan epenuh dakwah

Namun aku tak memiliki keberanian itu
Aku sadar siapalah aku dimatamu
Aku hanya lelaki yang tak faham agama
Yang mengajak wanita shalihah sepertimu
Untuk menjalin hubungan yang tak halal
Aku sungguh malu

Tapi aku juga sangat berteimakasih padamu
Allah telah menyadarkanku melalui dirimu
Bahwa cinta yang hakiki hanya milik Allah
Dijalan Allah sepatutnya aku bercinta
Karena jalan Allah akan berujung surga

Mungkin engkau bingung kemana aku selama ini
Sekali lagi maafku kukirimkan untukmu dengan surat ini
Aku bukan lari darimu
Tapi aku sedang memperbaiki diriku
Yang sudah jauh dariNya

Aku ingin dekat pada Allah
Sebelum aku benar-benar akan menemuinya
Aku berterimakasih pada Allah
Karena Dia berikan aku penyakit
Yang mempercepat pertemuanku poadaNya

Jujur aku sangat merindukanNya
Walaupun aku masih ingin berdakwah
Di pulau dewata ini bersamamu
Walaupunkeigninanku untuk hidup bersaamu
Belum lagi tercapai

Saat kau membaca surat ini
Mungkin ruhku sedang ditarik malaikat Izrail
Atau justru aku telah berada dialam lain
Mempeehatikan keanggunan dan kesholehanmu

Namun walau demikian
Izinkanlah kuminta satu hal padamu
Teruskanlah dakwahmu bersama jilbab lebar yang kau pakai
Teruskanlah dakwahmu
Mengajarkan agama pada generasi-generasi umat
Demi kebaikan pulau bali tercinta ini

Walaupun aku tak bisa menemani dakwahmu
Namun berdoalah agar aku bisa menemanimu
DisurgaNya nanti
Aku menanti syahid mu wahai bidadari surga
Wassalamualaikum

            /10/
Wajah yang tegar itu kini  tersimpuh
Pelupuk mata yang jernih itu
Kini basah dengan air mata

‘ya Allah haramkah perasaan ini’
Mengapa Kau biarkan cintaku berakhir disini?
Aku hanya ingin cinta yang halal
Bersamanya ya Allah

Asrar kini melangkahkan kakinya
Menuju rumah sakit kediaman fahrul
Yang alamatnya tertulis diakhir surat
Ia berusaha melangkah walau kakinya terasa berat

Laki-laki itu kini tersenyum ke arahnhya
Wajahnya yang selalu berseri itu kini tampak pucat
Tubuhnya lemah tak berdaya

Asrar hanya melihatnya sambil terus berdzikir
Ia tak  ingin hal ini membuatnya menangis
Seakan tak rela atas ketentuan Allah
Seperti perempuan yang tak beriman

teruskan dakwahmu,jangan berhenti sapai kapanpun
Jangan dengarkan cemooh mereka
Percayalah islam akan berkembang di bali
Jika muslimnya berteguh oendirian sepertimu
Kau pemula,
Dan aku harap kau tak mengakhirinya sebelum kematianmu

Kata terakhir dari fahrul
Yang memaksakan diri untuk tetap bicara
Ditengah sakit yang mendera
Sebelum akhirnya ia bersyahadat
Dan pergi untuk selamanya
            /11/
Kini Asrar berjalan sendiri
Ditengah kerasnya hidup
Ditengah gonggongan orang-orang kafir
Yang terus saja menghinanya

Berat memang jika terus dijalani
Namun ia sudah bertekad untuk berdakwah sampai mati
Ia juga sudah mengurungkan niatnya
Untuk pindah dari bali setelah wisuda
Ia teringat pesan terakhir dari fahrul
Bahwa ia harus meneruskan dakwah di pulau dewata
Sampai mati

Demi Allah
Seandainya mereka meletakkah matahati
Ditangan kananku
Kemudian bulan di tangan kiriku

Dengan maksud agar aku meninggalkan tugasku
Berdakwah dijalan Allah
Niscaya tak akan kutinggalkan
Hingga Allah memberi kemenangan ditanganku
Atau aku binasa karenanya

Demikianlah prinsip hidup
Yang sudah berurat akar dalam bayangan Asrar
Ia yakin
Ia bisa meneruskan jejak istri rasulullah
Selama niat ia luruskan karena Allah

***




[1] Panggilan untuk laki-laki muslim, yang biasa digunakan oleh orang-orang yang baik agamanya atau sudah ditarbiyyah
[2] Menjalankan ajaran islam secara keseluruhan
[3] Orang yang tidak beragama islam
[4] Dalam islam laki-laki dan perempuan yang haram dinikahi disebut mahram.Islam mengajarkan untuk  menjaga hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya,karena sifatnya tidak halal sebelum dinikahi.
[5] Ini adalah HR At Tirmidzi nomor 2606 yang diriwayatkan oleh Abu Darda
[6] Ini adalah ucapan Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim
[7] QS Ar rad:28

0 Response to "Puisi Essay Dakwah CIntamu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel