Mencapai Ketenangan Jiwa
Tuesday, February 18, 2014
Add Comment
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaykum
wr wb
Alhamdulillah, Alhamdulillahirabbil
Alamin, Wabihinastain Allaumuriddunyawaddin Wassholatuwassalamu
ala ashrofil anmbiyaa’i wal mursalin sayyidina muhammadin Wa’ala alihi
wasahbihi ajmaain, Amma Ba’du
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan berkahNya lah kita
dapat berkumpul dalam majelis yang Insya Allah penuh barakah ini. Tak lupa
sholawat dan salam kita curahkan kepada junjungan kita , Nabi Muhammad SAW
karena atas bimbingannyalah kita bisa
mengenal cahaya islam yang penuh dengan kesempurnaan.
Teman-temanku sejalan dan seperjuanagan, dalam
hidup ini kita pasti pernah merasakan ketidak tenangan dalam hati. Yang
penyebabnya bermacam-macam. Coba tanyakan pada teman dan saudara kita, dari
yang kaya sampai yang miskin, daari yang
cantik, sampai yang biasa, pasti pernah merasaka tidak tenang dalam jiwanya.
Namun kebanyakan dari kita mengatasinya dengan cara
yang keliru. Kita seringkali mengatasi ketidaktenangan jiwa kita dengan segala
kesenangan hidup. Bukan mengatasinya dengan hal yang mendatangkan ketenangan
jiwa. Disini teman-teman pasti bertanya
, “emang apa sih perbedaan ketenangan dan kesenangan hidup?”
Tentu saja berbeda. Dimana
orang yang memiliki segala ksenangan hidup belum tentu jiwanya tenang,
Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya ulumuddin mengatakan
bahwa sumber kesenangan itu ada 4 yaitu 1. Pengetahuaqn , 2 kesehatan, 3.
Harta, dan 4. Kedudukan / status sosial
Nah sekarang pertanyaannya, apakah kita bisa mengobati kegelisahan jiwa
kita dengan 3 hal tersebut? Saya katakan tidak.
Sebagai contoh, kita tahu bahwa Jepang adalah
sebuah negara yang penduduknya sejahtera. Dimana pengangguran dibiayai oleh
pemerintah. Namun faktanya , justru penduduk Jepang banyak yang mati bunuh
diri., sedangkan kita tahu bunuh diri itu tanda orang yang hatinya sedang
resah, dan tidak tenang.
Lalu dimana letak
ketenangan itu???
Mengenai hal ini, kita sebagai umat muslim sudah semestinya mencari solusi
permasalahan kita kepada Allah melalui kitab Nya.disini Allah sudah memberikan
solusi kepada kita dalam Al Quran Surah ar ra’du ayat 28 yang bunyinya
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ
ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya :
(yaiu) orang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah hati
menjadi taentram.
Dari sini kita bisa
mengetahui dengan jelas bahwa untuk mendapatkan ketenangan jiwa , cukup dengan
mengingat Allah Penerapannya tentu dengan berdzikir, dan dzikir yang dimaksud
disini bukan sekedar dzikir dengan menggerakkan bibir tapi dzikir yang disertai
dengan penghayatan Hanya dengan
berdzikir kita akan mendapatkan ketenangan karena Allah senantiasa beserta
orang-orang yang berdzikir
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِىو ا
نا معه حيث يذ كرني
Artinya :
Aku (Allah) menurut persangkaan hambaKu, dan aku berada besertanya dimana
saja mereka mengingat Aku
H.R
Muslim 4832
Nah setelah kita mengetahui solusi dari ketidak
tenangan jiwa kita,lalu adakah
tips untuk menjadi pribadi yang tenang? Mengenai hal ini saya akan beri
tips dari sahabat Rasulullah yaitu Ibnu Mas’ud ra. Dimana pada suatu hari ia
didatangi oleh seorang sahabat yang mengeluhkan hatinya yang tidak tenang.
Orang itu meminta saran kepada Ibnu Mas’ud. Lalu apa kata beliau??
“Oh,, kalau penyakit itu
yang menyerang hatimu,maka bawalah hatimu menuju ke tiga tempat,
Pertama, kau bawa hatimu ketempat orang
membaca Al Quran, kau dengarkan dengan baik, atau kau membacanya
Kedua, bawalah hatimu menuju ke majelis
ta’lim yang dapat mengingatkanmu pada
Allah dan yang
Ketiga, bawalah hatimu ketempat sunyi,
yang hanya ada kau dan Allah, Sang Pemilik Ketenangan , yakni di sepertiga
malam . Mintalah kepada sang Peilik Hati agar kau diberikan ketenangan.
Setelaha mendengar nasehat itu, sahabat tadi,
langsung menerapkannya, ia membaca Al Quran dan menemukan ketenangan yang tak
pernah ia rasakan.
Ingatlah,hanya orang yang pernah gelisah yang bisa merasakan nikmatnya ketenangan,
hanya orang yang oernah sedih yang bisa merasakan nikmatnya kegembiraan setelah
ia menyadari kesalahannya. Maka beruntunglah oran gyang mau mengambil hikmah
dan pelajaran daari segala peristiwwa yang dialami.
Mungkin, hanya itu yang dapat saya sampaikan,
kurang lebihnya saya mohon maaf. Akhir kata saya ingin mengutip perkataan dari
Hasan Al Bashri bahwa
Aku menasehati kalian bukan
berarti aku orang yang terbaik diantara kalian, bukan juga orang yang tersalih diantara kalian. Sungguh
seandainya seorang muslim menasehati muslim lainnya samapai menunggu dirinya
sempurna, maka tak akan ada yang memeberikan nasihat didunia ini, yang mengajak
kepada kebaikan dan menjauhi kemungkaran.
Sekian dari saya, wasalamualaykum wr wb.

0 Response to "Mencapai Ketenangan Jiwa"
Post a Comment