Mencapai Ketenangan Jiwa



Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaykum wr wb
Alhamdulillah,  Alhamdulillahirabbil Alamin,  Wabihinastain Allaumuriddunyawaddin             Wassholatuwassalamu ala ashrofil anmbiyaa’i wal mursalin sayyidina muhammadin  Wa’ala alihi wasahbihi ajmaain, Amma Ba’du

Puji syukur kehadirat Allah SWT  karena atas rahmat dan berkahNya lah kita dapat berkumpul dalam majelis yang Insya Allah penuh barakah ini. Tak lupa sholawat dan salam kita curahkan kepada junjungan kita , Nabi Muhammad SAW karena atas bimbingannyalah  kita bisa mengenal cahaya islam yang penuh dengan kesempurnaan.
           
Teman-temanku sejalan dan seperjuanagan, dalam hidup ini kita pasti pernah merasakan ketidak tenangan dalam hati. Yang penyebabnya bermacam-macam. Coba tanyakan pada teman dan saudara kita, dari yang kaya sampai  yang miskin, daari yang cantik, sampai yang biasa, pasti pernah merasaka tidak tenang dalam jiwanya.
Namun kebanyakan dari kita mengatasinya dengan cara yang keliru. Kita seringkali mengatasi ketidaktenangan jiwa kita dengan segala kesenangan hidup. Bukan mengatasinya dengan hal yang mendatangkan ketenangan jiwa.  Disini teman-teman pasti bertanya , “emang apa sih perbedaan ketenangan dan kesenangan hidup?”  
            Tentu saja berbeda. Dimana orang yang memiliki segala ksenangan hidup belum tentu jiwanya tenang,
           
Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya ulumuddin mengatakan bahwa sumber kesenangan itu ada 4 yaitu 1. Pengetahuaqn , 2 kesehatan, 3. Harta, dan 4. Kedudukan / status sosial

Nah sekarang pertanyaannya, apakah kita bisa mengobati kegelisahan jiwa kita dengan 3 hal tersebut? Saya katakan tidak.
           
Sebagai contoh, kita tahu bahwa Jepang adalah sebuah negara yang penduduknya sejahtera. Dimana pengangguran dibiayai oleh pemerintah. Namun faktanya , justru penduduk Jepang banyak yang mati bunuh diri., sedangkan kita tahu bunuh diri itu tanda orang yang hatinya sedang resah, dan tidak tenang.

            Lalu dimana letak ketenangan itu???

Mengenai hal ini, kita sebagai umat muslim sudah semestinya mencari solusi permasalahan kita kepada Allah melalui kitab Nya.disini Allah sudah memberikan solusi kepada kita dalam Al Quran Surah ar ra’du ayat 28 yang bunyinya

            الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya :
(yaiu) orang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah hati menjadi taentram.
            Dari sini kita bisa mengetahui dengan jelas bahwa untuk mendapatkan ketenangan jiwa , cukup dengan mengingat Allah Penerapannya tentu dengan berdzikir, dan dzikir yang dimaksud disini bukan sekedar dzikir dengan menggerakkan bibir tapi dzikir yang disertai dengan penghayatan  Hanya dengan berdzikir kita akan mendapatkan ketenangan karena Allah senantiasa beserta orang-orang yang berdzikir

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِىو ا نا معه حيث يذ كرني

Artinya :
Aku (Allah) menurut persangkaan hambaKu, dan aku berada besertanya dimana saja mereka mengingat Aku
                                                                                    H.R Muslim 4832

Nah setelah kita mengetahui solusi dari ketidak tenangan jiwa kita,lalu adakah
tips untuk menjadi pribadi yang tenang? Mengenai hal ini saya akan beri tips dari sahabat Rasulullah yaitu Ibnu Mas’ud ra. Dimana pada suatu hari ia didatangi oleh seorang sahabat yang mengeluhkan hatinya yang tidak tenang. Orang itu meminta saran kepada Ibnu Mas’ud. Lalu apa kata beliau??

            “Oh,, kalau penyakit itu yang menyerang hatimu,maka bawalah hatimu menuju ke tiga tempat,

Pertama, kau bawa hatimu ketempat orang membaca Al Quran, kau dengarkan dengan baik, atau kau membacanya
Kedua, bawalah hatimu menuju ke majelis ta’lim yang  dapat mengingatkanmu pada Allah dan yang
Ketiga, bawalah hatimu ketempat sunyi, yang hanya ada kau dan Allah, Sang Pemilik Ketenangan , yakni di sepertiga malam . Mintalah kepada sang Peilik Hati agar kau diberikan ketenangan.
           
Setelaha mendengar nasehat itu, sahabat tadi, langsung menerapkannya, ia membaca Al Quran dan menemukan ketenangan yang tak pernah ia rasakan.
           
Ingatlah,hanya orang yang pernah gelisah  yang bisa merasakan nikmatnya ketenangan, hanya orang yang oernah sedih yang bisa merasakan nikmatnya kegembiraan setelah ia menyadari kesalahannya. Maka beruntunglah oran gyang mau mengambil hikmah dan pelajaran daari segala peristiwwa yang dialami.
           
Mungkin, hanya itu yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf. Akhir kata saya ingin mengutip perkataan dari Hasan Al Bashri bahwa

Aku menasehati kalian bukan berarti aku orang yang terbaik diantara kalian, bukan juga orang  yang tersalih diantara kalian. Sungguh seandainya seorang muslim menasehati muslim lainnya samapai menunggu dirinya sempurna, maka tak akan ada yang memeberikan nasihat didunia ini, yang mengajak kepada kebaikan dan menjauhi kemungkaran.

Sekian dari saya, wasalamualaykum wr wb.

0 Response to "Mencapai Ketenangan Jiwa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel